Menkes Budi Dorong Pengembangan Bedah Robotik Nasional, Dokter Ungkap Peluang Pembiayaan BPJS

Nur Khotimah, Dini Afrianti Efendi

Jum'at, 31 Juli 2026 | 11:05 WIB
Menkes Budi Dorong Pengembangan Bedah Robotik Nasional, Dokter Ungkap Peluang Pembiayaan BPJS
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam diskusi media di RSU Bunda Jakarta, Senin (27/7/2026). (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)
baca 10 detik
  • Dr. Ivan Rizal Sini menyatakan biaya bedah robotik belum bisa ditanggung BPJS Kesehatan karena besaran premi belum mencukupi.
  • Efisiensi waktu dan penggunaan obat pada bedah robotik terbukti meningkatkan kualitas hidup pasien asal Papua yang cepat pulih.
  • Kemenkes membentuk Komite Robotika dan memberikan hibah sistem bedah kepada ITB untuk mendukung transformasi teknologi kesehatan nasional.

Suara.com - Teknologi bedah robotik di Indonesia terus berkembang pesat seiring kemajuan industri medis dunia. Namun, pertanyaannya, apakah teknologi secanggih ini suatu saat bisa ditanggung BPJS Kesehatan?

Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi sekaligus Presiden Komisaris PT Bundamedik Tbk, Dr. dr. Ivan Rizal Sini, yang telah menerapkan operasi robotik sejak 2012, mengakui bahwa isu biaya masih menjadi sorotan utama dalam pelayanan bedah robotik di Indonesia.

Dr. Ivan menjelaskan bahwa penggunaan teknologi robot bedah mampu memangkas waktu persiapan alat yang semula membutuhkan sekitar 30 menit menjadi hanya sekitar 2 menit.

Menurutnya, selisih waktu 28 menit mungkin terdengar sepele bagi masyarakat, tetapi di dunia medis efisiensi tersebut dapat memangkas biaya langsung maupun tidak langsung dalam jumlah besar.

"Itu mungkin dari kita cuma beda 28 menit. Tapi dari obat, dari waktu orang, dari efisiensi yang kita bisa dapatkan, itu hanya sebagian kecil. Dari seluruh efisiensi yang bisa kita lakukan, dari keseluruhan dengan pengalaman yang kita lakukan," ujar Dr. Ivan dalam diskusi media di RSU Bunda Jakarta, Senin (27/7/2026).

Ilustrasi bedah robotik. (Magnific)
Ilustrasi bedah robotik. (Magnific)

Berkat efisiensi tersebut, menurut Dr. Ivan, teknologi bedah robotik seperti da Vinci Xi di RSU Bunda masih belum sesuai dengan program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola BPJS Kesehatan. Pasalnya, besaran premi yang dibayarkan peserta dinilai belum mampu menutup seluruh biaya tindakan.

"Jadi kalau kita bicara di sini, asuransi dari BPJS itu tidak besar preminya, artinya harus ada yang cover sisanya," papar Dr. Ivan.

Meski demikian, Dr. Ivan menilai bukan tidak mungkin pada masa mendatang BPJS Kesehatan dapat menanggung layanan bedah robotik apabila teknologi tersebut telah digunakan secara lebih luas dalam sistem pelayanan kesehatan nasional sehingga volumenya meningkat dan biaya menjadi lebih efisien.

"Pemerintah mungkin pada saat ini belum melihat, walaupun tren itu ada ke arah sana. Sampai volumenya cukup tinggi, mungkin saya setuju dengan Prof. Ponco Birowo, BPJS belum pada tempatnya untuk bisa cover (bedah robotik)," ujarnya.

baca juga

Dr. Ivan mengatakan manfaat bedah robotik tidak hanya mempercepat proses persiapan operasi, tetapi juga membantu mengurangi penggunaan obat, memperpendek masa perawatan, serta mempercepat pemulihan pasien.

Ia pun menceritakan pengalamannya menangani pasien yang datang dari Papua khusus untuk menjalani operasi robotik.

"Yang dikejar apa sih? Pembiayaannya, teknologinya, atau quality of life pasiennya? Ada pasien beberapa minggu lalu datang dari Papua, hanya ingin operasi robotik. Hanya tiga hari di sini, lalu pulang lagi ke Papua," cerita Dr. Ivan.

Di sisi lain, Kementerian Kesehatan mulai melirik pengembangan sistem bedah robotik di Indonesia sebagai bagian dari transformasi teknologi kesehatan. Menurut Dr. Ivan, bukan tidak mungkin pada masa mendatang layanan robotik akan menjadi bagian dari sistem kesehatan nasional.

Pengembangan teknologi tersebut ditindaklanjuti melalui hibah sistem bedah robotik kepada Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) Institut Teknologi Bandung (ITB) dari BHMS. Fasilitas tersebut akan dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan, penelitian, dan pengembangan inovasi teknologi medis di Indonesia.

"Kita definisikan enam pilar reformasi, yang pilar nomor enamnya khusus mengenai teknologi kesehatan. Ada tiga teknologi kesehatan yang kita fokuskan, yaitu robotics technology, AI on health, dan biotechnology. Karena this is so important, Kemenkes punya Robotics Committee," ungkap Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di lokasi yang sama.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Tingkatkan Kenyamanan Peserta, BPJS Kesehatan Resmikan Layanan PIONIR di Kantor Cabang Mataram

Tingkatkan Kenyamanan Peserta, BPJS Kesehatan Resmikan Layanan PIONIR di Kantor Cabang Mataram

News | Rabu, 22 Juli 2026 | 19:33 WIB

Antrean Mobile JKN Semrawut hingga Obat Kosong, Komnas HAM Beri Nilai 67,1 untuk BPJS

Antrean Mobile JKN Semrawut hingga Obat Kosong, Komnas HAM Beri Nilai 67,1 untuk BPJS

News | Senin, 20 Juli 2026 | 17:29 WIB

Komnas HAM Soroti Potensi Diskriminasi di Layanan BPJS Kesehatan, Hambatan NIK Jadi Masalah

Komnas HAM Soroti Potensi Diskriminasi di Layanan BPJS Kesehatan, Hambatan NIK Jadi Masalah

News | Senin, 20 Juli 2026 | 16:53 WIB

Terkini

9.800 Orang Tewas karena Gelombang Panas Ekstrem di Jerman

9.800 Orang Tewas karena Gelombang Panas Ekstrem di Jerman

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 11:06 WIB

Menkes Budi Dorong Pengembangan Bedah Robotik Nasional, Dokter Ungkap Peluang Pembiayaan BPJS

Menkes Budi Dorong Pengembangan Bedah Robotik Nasional, Dokter Ungkap Peluang Pembiayaan BPJS

Health | Jum'at, 31 Juli 2026 | 11:05 WIB

Apakah 2 Agustus Akan Terjadi Gerhana Matahari Total? Ini Jadwalnya Menurut BRIN dan NASA

Apakah 2 Agustus Akan Terjadi Gerhana Matahari Total? Ini Jadwalnya Menurut BRIN dan NASA

Tekno | Jum'at, 31 Juli 2026 | 11:02 WIB

Posko Pengaduan Rakyat, Harapan Baru bagi Warga Bersengketa Tanah di Jakarta

Posko Pengaduan Rakyat, Harapan Baru bagi Warga Bersengketa Tanah di Jakarta

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 11:02 WIB

Review Film The Devil's Mouth: Teror Hiu Ganas di Gua Bawah Air Thailand!

Review Film The Devil's Mouth: Teror Hiu Ganas di Gua Bawah Air Thailand!

Your Say | Jum'at, 31 Juli 2026 | 11:00 WIB

Perbedaan Sun Sign, Moon Sign, dan Rising Sign: Panduan Memahami The Big Three Astrologi

Perbedaan Sun Sign, Moon Sign, dan Rising Sign: Panduan Memahami The Big Three Astrologi

Lifestyle | Jum'at, 31 Juli 2026 | 10:55 WIB

5 HP Terbaru Rilis Agustus 2026, Ada Ponsel Rp3,7 Jutaan dengan Baterai Jumbo 8.000 mAh

5 HP Terbaru Rilis Agustus 2026, Ada Ponsel Rp3,7 Jutaan dengan Baterai Jumbo 8.000 mAh

Tekno | Jum'at, 31 Juli 2026 | 10:52 WIB

Jelang Lawan Timnas Indonesia, Latar Belakang Mitchell Baker Dikuliti Habis Media Vietnam

Jelang Lawan Timnas Indonesia, Latar Belakang Mitchell Baker Dikuliti Habis Media Vietnam

Bola | Jum'at, 31 Juli 2026 | 10:52 WIB

Harga Beras Kompak Naik, Daging dan Cabai Malah Turun, Ini Daftar Lengkapnya

Harga Beras Kompak Naik, Daging dan Cabai Malah Turun, Ini Daftar Lengkapnya

Bisnis | Jum'at, 31 Juli 2026 | 10:51 WIB

Banjir Kritik, Kapolres Seattle Akhirnya Mundur karena Lambat Usut Kasus Penembakan Brutal

Banjir Kritik, Kapolres Seattle Akhirnya Mundur karena Lambat Usut Kasus Penembakan Brutal

News | Jum'at, 31 Juli 2026 | 10:48 WIB

×