- Survei Kesehatan Indonesia 2023 menunjukkan penyakit ginjal kronis kini telah menyerang kelompok usia muda secara nyata.
- Diabetes, hipertensi, pola hidup tidak sehat, dan berbagai kondisi medis lain menjadi pemicu utama kerusakan ginjal.
- Bethsaida Hospital Gading Serpong menghadirkan klinik khusus untuk menyediakan layanan terpadu penanganan gangguan ginjal dan saluran kemih.
Suara.com - Penyakit ginjal kronis selama ini kerap dianggap sebagai masalah kesehatan yang identik dengan usia lanjut. Padahal, kerusakan ginjal dapat terjadi pada kelompok usia yang lebih muda.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan penyakit ginjal kronis telah ditemukan pada usia 15–24 tahun sebesar 0,02 persen, 25–34 tahun sebesar 0,07 persen, dan 35–44 tahun sebesar 0,11 persen.
Sementara itu, data BPJS Kesehatan yang dikutip Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 134.057 pasien gagal ginjal kronis menjalani hemodialisis sepanjang 2024. Kondisi ini menunjukkan bahwa menjaga kesehatan ginjal perlu dilakukan sejak dini, bukan baru ketika seseorang memasuki usia lanjut.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi di Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Mutalib Abdullah, Sp.PD-KGH, FINASIM, menjelaskan bahwa kerusakan ginjal sering berkembang secara perlahan. Bahkan, pada tahap awal, penyakit ini bisa tidak menimbulkan keluhan yang khas.
“Banyak pasien merasa baik-baik saja karena penyakit ginjal pada tahap awal bisa tidak memberikan gejala yang jelas. Karena itu, orang dengan faktor risiko sebaiknya tidak menunggu keluhan muncul untuk memeriksakan ginjal,” jelas dr. Mutalib.
Diabetes dan Hipertensi Jadi Ancaman Utama
Salah satu penyebab penting penyakit ginjal kronis adalah diabetes. Kadar gula darah yang tinggi dan tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat merusak sistem penyaringan ginjal.
Selain itu, hipertensi juga dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah di ginjal sehingga fungsi organ tersebut perlahan menurun.
Meski begitu, dr. Mutalib menegaskan bahwa minuman manis tidak secara langsung membuat seseorang mengalami gagal ginjal. Yang perlu diwaspadai adalah konsumsi gula berlebihan yang dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes.
“Minuman manis bukan berarti langsung menyebabkan gagal ginjal. Yang perlu diwaspadai adalah konsumsi gula berlebihan yang dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Bila diabetes tidak terkontrol dalam jangka panjang, ginjal dapat ikut mengalami kerusakan,” ujarnya.
Selain diabetes dan hipertensi, pola makan tinggi garam, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta berat badan yang tidak terkontrol juga dapat meningkatkan risiko gangguan ginjal. Penggunaan obat pereda nyeri, jamu, maupun suplemen tanpa pengawasan juga perlu diperhatikan.
Gangguan ginjal tidak selalu berasal dari pola hidup. Batu atau sumbatan saluran kemih, penyakit autoimun, infeksi, kelainan bawaan, hingga faktor genetik juga dapat menjadi penyebab.
Jangan Abaikan Perubahan pada Tubuh
Karena sering tidak menunjukkan gejala pada tahap awal, pemeriksaan menjadi penting, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko.
Beberapa tanda yang patut diperhatikan antara lain perubahan frekuensi atau jumlah urine, urine berbusa secara menetap, pembengkakan pada kaki, mudah lelah, mual, penurunan nafsu makan, serta tekanan darah yang sulit dikontrol.