- Dokter Maya Munigar menjelaskan pemeriksaan calcium score di RSPP Jakarta mendeteksi risiko sakit jantung koroner.
- Penumpukan kalsium dan lemak pada arteri menyebabkan aterosklerosis yang meningkatkan nilai skor serta risiko kardiovaskular.
- Prosedur noninvasif menggunakan CT scan jantung ini berlangsung cepat dan memindai pembuluh darah koroner.
Suara.com - Pemeriksaan calcium score atau coronary artery calcium (CAC) score bisa jadi salah satu cara untuk mendeteksi risiko sakit jantung koroner. Ini karena kalsium bukan hanya ada di tulang dan gigi tapi juga bisa menumpuk atau kalsifikasi di pembuluh darah jantung.
Dokter Spesialis Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Ekokardiografi Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), dr. Maya Munigar, Sp.JP(K).FIHA mengatakan penumpukan kalsium ini bisa memicu penyempitan bahkan pengerasan pengerasan pembuluh darah atau yang disebut aterosklerosis.
dr. Maya menjelaskan penumpukan kalsium ini bisa terlihat pada pemeriksaan calcium score, karena sudah terjadi proses kalsifikasi yang terjadi pada pembuluh darah koroner.
"Prinsipnya kalsiumnya sama. Kenapa kita periksa di jantung? Karena secara proses, kalsium ini terdeteksi di jantung karena dia mengalami kalsifikasi. Dan di dalamnya itu adalah kalsium," ujar dr. Maya dalam acara diskusi media IHC RS Pusat Pertamina di Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Menurutnya, kalsium dapat terakumulasi bersama proses penumpukan lemak di dinding pembuluh darah. Seiring waktu, semakin banyak kalsifikasi yang ditemukan, semakin tinggi pula nilai calcium score dan risiko kardiovaskular yang perlu diperhatikan.

"Kalsium itu akan bekerja sama, dia akan nyampur dengan lemak. Semakin lama calcium score ini, tentu semakin tinggi. Individu semakin lama alami penumpukan kalsium, angkanya semakin tinggi, risikonya semakin tinggi," jelasnya.
Pemeriksaan calcium score terutama digunakan untuk menilai adanya kalsifikasi pada arteri koroner dan membantu memperkirakan risiko penyakit jantung koroner, khususnya pada orang yang belum diketahui memiliki penyakit jantung koroner tetapi mempunyai faktor risiko atau hasil pemeriksaan lain yang belum memberikan jawaban pasti.
Sebagai catatan, hasil calcium score ini juga tidak langsung langsung menunjukkan seberapa besar persentase sumbatan pembuluh darah.
Tapi pemeriksaan ini lebih tepat digunakan untuk mengetahui beban plak terkalsifikasi pada pembuluh darah koroner.
Karena itu, pemeriksaan ini tidak selalu menjadi pilihan untuk setiap pasien. dr. Maya menekankan bahwa pemeriksaan tetap harus disesuaikan dengan indikasi medis dan kondisi pasien.
"Semua pemeriksaan itu ada indikasinya. Biasanya, seringnya kita lakukan pemeriksaan pada individu yang masih belum, masih curiga. Tapi kita lakukan pemeriksaan-pemeriksaan lain tuh nggak dapat," katanya.
Pada pasien yang sudah diketahui mengalami penyakit jantung koroner atau kondisi tertentu, dokter dapat memilih pemeriksaan lain.
Salah satunya adalah CT coronary angiography (CTCA) yang dapat memberikan gambaran mengenai pembuluh darah koroner, termasuk keberadaan dan karakteristik plak serta penyempitan pembuluh darah.
"Kalau kita mau evaluasi terhadap pasien tersebut, biasanya kita pilihkan bukan CT calcium score lagi. Tapi kita lakukan CT angiography coronary, sesuai dengan panduannya," ujar dr. Maya.
Berbeda dengan angiografi invasif yang menggunakan kateter untuk melihat pembuluh darah, calcium score dilakukan menggunakan CT scan jantung tanpa memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan memindai area jantung untuk mendeteksi dan menghitung kalsium yang terdapat pada arteri koroner. Karena bersifat noninvasif, prosedurnya relatif cepat dan memiliki risiko yang rendah.
"Kalau dengan calcium score, pada prinsipnya sebenarnya semua individu bisa. Karena ini non-invasive, sebentar, cepat, less risk, minimal risiko," tutur dr. Maya.
Ia menambahkan, pemeriksaan dapat dilakukan dalam waktu singkat. "Sekitar 15 menit langsung ada," pungkasnya.