alexametrics

Kisah Guru Muda yang Siap Mengukir Cinta di Tanah Papua

Ade Indra Kusuma
Kisah Guru Muda yang Siap Mengukir Cinta di Tanah Papua
Kisah Guru Muda yang Siap Mengukir Cinta di Tanah Papua [Foto : GTP UGM]

Kawasan pelosok di Papua membutuhkan kepedulian lebih di bidang pendidikan.

Suara.com - Kisah Guru Muda yang Siap Mengukir Cinta di Tanah Papua

Kawasan pelosok di Papua dinilai memang membutuhkan kepedulian lebih di bidang pendidikan.

Kisah guru-guru ini seakan luput dari pandangan masyarakat di seluruh Indonesia. Di tengah gejolak yang terjadi, mereka justru bergerak menuju Papua pekan ini. Bukan untuk terlibat dalam konflik, tetapi menunjukkan dengan nyata, betapa mereka mencintai Papua.

Senjata mereka adalah ilmu, pena dan buku-buku. Apa yang terlihat di media tentang Papua membuat banyak orang takut datang. Tetapi ada ratusan anak muda yang justru mendekat. Hasrat mereka cuma satu: berbagi ilmu. Larangan orang tua tidak menyiutkan nyali mereka.

Baca Juga: Tidur saat Guru Mengajar di Kelas, Video Siswa SMK Ini Viral

guru yang mengabdi di papua
Guru-guru muda yang siap mengabdi di Papua [Foto: GTP UGM]

Seperti yang dilakukan Marlin Hartiwila Gat, yang berangkat ke Mappi, Papua untuk mengajar Matematika.

Lahir 24 tahun silam di Nabire dan tumbuh di kota yang sama, Marlin adalah lulusan Universitas PGRI Adi Buana di Surabaya, Jawa Timur. Setelah lulus, ia sempat mengajar di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, yang juga kampung halaman ayahnya, selama satu setengah tahun.

Awalnya, kedua orang tuanya tak setuju karena melihat situasi terakhir sejumlah kota di Papua yang mengkhawatirkan. Namun, kegigihan Marlin meruntuhkan tembok larangan itu.

“Saya nekat. Tapi kebetulan ada Ibu Dekan di Nabire, yang katakan ke mereka, bahwa di sini aman. Makanya orang tua izinkan,” ujar Marlin, yang ibunya berasal dari Surabaya seperti mengutip VOAIndonesia.

Bagi Marlin, mengajar di Mappi seperti membalas jasa Papua yang memberinya tempat di masa kecil. Dia ingin anak-anak Papua pintar membaca, menulis, berhitung, dan pandai mengelola uang. Kata Marlin, kawan-kawannya semasa kecil di Nabire kurang pandai mengelola uang, yang selalu dihabiskan ketika ada tanpa melihat jauh ke depan.

Baca Juga: Pak Jokowi, Banyak Guru Tak Betah Mengajar di Pedalaman Papua Karena Ini

“Karena saya dilahirkan di sini, menempuh SMA di sini, dan saya ingin masyarakat Papua atau anak- anak Papua mendapatkan pendidikan yang sama, dengan anak-anak Indonesia yang lain,” tambahnya.

Komentar