Geliat Toko Kelontong Melawan Sampah: Bentuk Ekosistem Ramah Lingkungan

M. Reza Sulaiman, Hiskia Andika Weadcaksana

Senin, 14 Desember 2020 | 19:50 WIB
Geliat Toko Kelontong Melawan Sampah: Bentuk Ekosistem Ramah Lingkungan
Suasana berbelanja di toko kelontong Ranah Bhumi, yang beralamat di Jl Gerilya No 646 B, Prawirotaman, Brontokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta, Minggu (13/12/2020) - (SuaraJogja.id/Hiskia Andika)

Dari situlah muncul ide dan keberanian untuk menghadirkan suatu toko kelontong yang berbeda dari biasanya -- toko kelontong yang punya produk-produk dan konsep lebih selaras dengan kondisi kebutuhan alam sekitarnya.

Keraguan tidak dipungkiri Bukhi tetap ada. Namun, ia dan rekan-rekan lainnya tetap yakin untuk bisa mendekatkan toko kelontong ini kepada masyarakat sekitar.

Bahkan, Bukhi juga mengaku bahwa toko kelontong ini sebenarnya merupakan dapur dari rumah atau tempat tinggalnya dan teman-teman dari ide awal menciptakan sebuah tempat yang kondusif untuk menjalankan gaya hidup seperti kondisi di Bali saat itu.

Hal itu selaras dengan keyakinan Bukhi untuk membuat tempat itu menjadi rumah atau tempat yang nyaman terlebih dulu. Jika orang-orang di dalamnya sudah merasa senang dan nyaman, maka orang lain yang hadir masuk ke dalam tempat itu akan merasakan hal yang sama.

"Toko kelontong ini sebagai dapur kita sebenarnya. Kalau dihitung kita mulai mengumpulkan produk itu bulan Mei dan Juni dan baru buka pada 1 Oktober kemarin dengan segala renovasinya juga," tuturnya.

Dikatakan Bukhi, dari respons warga, awalnya kehadiran toko kelontong miliknya dinilai aneh. Warga sekitar menilai bahwa toko kelontong ini terlalu mewah dan rapi. Hal itu yang membuat tidak sedikit warga yang segan untuk masuk walaupun hanya sekadar melihat-lihat.

Namun seiring dengan berjalannya waktu, komunikasi terus berlangsung antara Bukhi dan rekan-rekannya di Ranah Bhumi dengan warga sekitar, dimulai dari mencoba kenal satu sama lain sekaligus mengenalkan produk-produknya.

"Nah di situ ada transfer knowledge bahwa kebutuhan mereka ternyata bisa dihasilkan sendiri lo selama ini. Saling ada komunikasi yang terjalin, sehingga ada hal-hal baru yang didapat, bahkan ibu-ibu sekitar ada yang ikut berkontribusi untuk menjual produk di toko kita pada akhirnya," ujarnya.

Bukhi menuturkan, hingga saat ini setidaknya sudah ada sekitar 60 hingga 70 persen produk di Ranah Bhumi yang merupakan produk lokal. Sementara itu, 20 sampai 30 persen lainnya berasal dari luar Jogja, tapi masih di Indonesia, ditambah dengan 10 persen adalah produk impor.

baca juga

Terkait dengan produk impor tersebut, menurut Bukhi, hal itu tetap tidak akan dihilangkan dari ketersediaan produk yang ada. Sebab, itu dimaknai sebagai jaringan untuk berdiplomasi selain juga untuk bisa mengetahui perkembangan desain dan cara negara lain berpikir tentang produknya.

Disinggung terkait dengan harga produk yang kadang dianggap oleh masyarakat lebih mahal dibandingkan dengan toko kelontong biasa, Bukhi menilai bahwa masyarakat kadang masih luput.

"Jadi dari harga yang murah kita tidak tahu apa yang terjadi di baliknya. Misal produk industri, baju murah di baliknya ada buruh yang dibayar murah hingga tidak sejahtera dan persoalan lain yang dihadapi. Kita selalu memaparkan itu, tapi terserah pada orang yang mendengar apakah akan mengubah gaya hidup itu atau tidak. Keputusan di tangan mereka. Minimal kita sudah sampaikan pada mereka," jelasnya.

Bukhi mengambil contoh lain, semisal sabun atau deterjen pakaian yang dibuat oleh industri besar dan dijual dengan harga murah.

Ada fakta yang tidak terlihat di belakangnya, mulai dari dampak pada lingkungan setelah pemakaian bahan itu seperti sungai yang kotor hingga tanah yang gersang karena unsur kimia mulai membunuh mikroorganisme yang ada di tanah dan lainnya.

"Itu unsur-unsur yang tidak terlihat dan harusnya kita bayar dan dimasukkan dalam cost production sebuah produk. Tidak boleh lalu menutup sebelah mata begitu saja," tegasnya.

Menurut Bukhi, memang bukan hal mudah untuk memberikan pemahaman itu kepada orang lain. Walaupun memang di awal ada perasaan dan kesadaran untuk menerima, tetapi itu kadang tak bertahan lama.

Ada banyak distraksi yang membuat kesadaran di awal tadi hilang dan terbuang sebab tidak dikumpulkan kembali. Konsistensi menjadi hal yang paling susah dilakukan dalam menjalani gaya hidup ini.

Menurutnya, berterima kasih kepada hal-hal kecil bisa menjadi cara yang paling mudah untuk dilakukan. Rasa terima kasih itu akan menjadi rantai untuk sebuah aktivitas atau kegiatan yang bakal dilakukan di masa mendatang.

"Utamakan adab daripada ilmu, kalau kita lihat ada orang yang melakulan tindakan yang tidak sesuai dengan yang kita tahu. Jangan kasih tahu dulu ilmunya bahwa itu salah, tapi tunjukin aja dulu adabnya dengan kasih contoh dulu," sarannya.

Bukhi menambahkan, kehadiran Ranah Bhumi mendapat perhatian tidak hanya dari orang dewasa atau ibu-ibu di sekitar wilayahnya, tapi juga dari anak-anak muda. Harapannya itu menjadi bekal bagi anak-anak muda ini untuk terus berkembang ketika mereka memutuskan sesuatu di masa mendatang.

Sementara itu, salah satu pelanggan yang datang ke Ranah Bhumi untuk berbelanja, Karisa Saraswati (23), mengatakan bahwa memang sebenarnya ia sudah tertarik dengan gaya hidup dan produk-produk yang ramah lingkungan. Kebetulan juga kehadiran Ranah Bhumi ini seolah menjadi jalan untuknya lebih menekuni gaya hidup itu.

"Ranah Bhumi punya konsep, branding, dan penyajian informasi yang tepat untuk dapat dimengerti oleh orang-orang yang masih awam untuk memulai gaya hidup lebih ramah lingkungan ini. Itu yang membuat saya makin tertarik," kata Karisa.

Selain itu, Karisa juga menyoroti kehadiran Ranah Bhumi sebagai toko kelontong yang mendukung para petani lokal. Semisal salah satu produknya yang berbahan bunga telang didapat dari warga lokal sekitar Jogja.

"Aku pernah beli deodoran natural, bumbu masak seperti lada hitam, garam, yang mana itu diproduksi oleh warga lokal atau industri rumahan yang tidak terjamah oleh supermarket," ucapnya

Terkait harga produk yang lebih mahal dibandingkan dengan toko kelontong biasanya, Karisa sendiri tidak mempermasalahkan itu. Pasalnya, pembeli itu tahu yang membuat produk itu siapa hingga uang yang dibelanjakan itu menuju ke mana.

Penjelasan-penjelasan tentang produk itu yang membuat Karisa makin yakin untuk berbelanja di Ranah Bhumi. Menurutnya, Ranah Bhumi juga transparan ke konsumen ketika menceritakan produk yang bersangkutan.

"Kita diberi tahu tentang cerita-cerita di balik produk ini. Jadi ya kita juga mau belanja ya tidak masalah mengeluarkan uang sedikit lebih banyak, toh ini juga ditujukan kepada orang yang memang pantas menerima bantuan," jelasnya.

Karisa mengaku baru sekali berkunjung ke Ranah Bhumi. Namun, ia tidak menutup kemungkinan dalam waktu dekat akan berkunjung lagi untuk berbelanja di sana.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mengintip Budi Daya Maggot di Sleman, Berdayakan Warga Terdampak Tol

Mengintip Budi Daya Maggot di Sleman, Berdayakan Warga Terdampak Tol

Jogja | Senin, 14 Desember 2020 | 11:06 WIB

Pembela FPI yang Ancam Penggal Polisi Ditangkap dan 4 Berita SuaraJogja

Pembela FPI yang Ancam Penggal Polisi Ditangkap dan 4 Berita SuaraJogja

Jogja | Senin, 14 Desember 2020 | 07:00 WIB

Prihatin Pertanian Terdampak Tol, Mardi Berdayakan Warga Budidaya Magot

Prihatin Pertanian Terdampak Tol, Mardi Berdayakan Warga Budidaya Magot

Jogja | Minggu, 13 Desember 2020 | 19:15 WIB

Sleman: Tak Disiplin Isolasi Mandiri, 1 Pasien COVID-19 Bisa Tulari 5 Orang

Sleman: Tak Disiplin Isolasi Mandiri, 1 Pasien COVID-19 Bisa Tulari 5 Orang

Jogja | Minggu, 13 Desember 2020 | 08:35 WIB

Kebakaran Hotel di Sleman, Hujan Bantu Pemadaman Api

Kebakaran Hotel di Sleman, Hujan Bantu Pemadaman Api

Jogja | Sabtu, 12 Desember 2020 | 18:07 WIB

Prakiraan Cuaca Jogja Hari Ini, Minggu 13 Desember 2020

Prakiraan Cuaca Jogja Hari Ini, Minggu 13 Desember 2020

Jogja | Minggu, 13 Desember 2020 | 05:40 WIB

Terkini

MBG Tetap Jalan Meski Sekolah di Kaltim Diliburkan karena Asap Karhutla

MBG Tetap Jalan Meski Sekolah di Kaltim Diliburkan karena Asap Karhutla

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:22 WIB

Hari Kedelapan Pencarian KM Arupadhatu 1: Tim SAR Sisir 500 Meter dari Krakatau, Hasil Masih Nihil

Hari Kedelapan Pencarian KM Arupadhatu 1: Tim SAR Sisir 500 Meter dari Krakatau, Hasil Masih Nihil

Banten | Selasa, 15 September 2026 | 20:19 WIB

Sebut Rentan Dikriminalisasi, PERKAPI Minta DPR Prioritaskan RUU Profesi Kurator

Sebut Rentan Dikriminalisasi, PERKAPI Minta DPR Prioritaskan RUU Profesi Kurator

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:19 WIB

Pramono Dukung Konser Kanye West di Jakarta: Gerakkan Roda Ekonomi dan Wisata

Pramono Dukung Konser Kanye West di Jakarta: Gerakkan Roda Ekonomi dan Wisata

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:15 WIB

4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!

4 Isu Sosial dalam Novel Klasik Pride and Prejudice,Tak Hanya Kisah Cinta!

Your Say | Selasa, 15 September 2026 | 20:15 WIB

'Kalau Ganggu Kesehatan Harus Dilarang', Sinyal Tegas Mendagri Tertibkan Sound Horeg

'Kalau Ganggu Kesehatan Harus Dilarang', Sinyal Tegas Mendagri Tertibkan Sound Horeg

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:11 WIB

Kebakaran Lahan di Ciumbuleuit Bandung Diduga Dipicu Sampah Ilegal, Farhan Dorong Penyelidikan

Kebakaran Lahan di Ciumbuleuit Bandung Diduga Dipicu Sampah Ilegal, Farhan Dorong Penyelidikan

Jabar | Selasa, 15 September 2026 | 20:11 WIB

Orang Kepercayaan Nusron Wahid Diduga Minta Fee Rp2 Miliar untuk Urus HGB Summarecon

Orang Kepercayaan Nusron Wahid Diduga Minta Fee Rp2 Miliar untuk Urus HGB Summarecon

News | Selasa, 15 September 2026 | 20:07 WIB

KPK Ungkap 8 Tersangka OTT BPN dan Barbuk Rp106,3 Miliar

KPK Ungkap 8 Tersangka OTT BPN dan Barbuk Rp106,3 Miliar

Foto | Selasa, 15 September 2026 | 20:06 WIB

Gedor Wilayah Cicendo, Tim Gabungan Kota Bandung Eksekusi 18 Bangunan Liar demi Penataan Ruang

Gedor Wilayah Cicendo, Tim Gabungan Kota Bandung Eksekusi 18 Bangunan Liar demi Penataan Ruang

Jabar | Selasa, 15 September 2026 | 20:05 WIB

×