Ambu Anne Ngaku Jadi Korban KDRT Psikologi Hingga Gugat Cerai Dedi Mulyadi, Kayak Apa Sih Contohnya?

Sabtu, 03 Desember 2022 | 14:05 WIB
Ambu Anne Ngaku Jadi Korban KDRT Psikologi Hingga Gugat Cerai Dedi Mulyadi, Kayak Apa Sih Contohnya?
Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika atau Ambu Anne. [Instagram @anneratna82]

Suara.com - Mantan Bupati Purwakarta sekaligus anggota DPR RI, Dedi Mulyadi merasa pernyataan Anne Ratna Mustika atau Ambu Anne yang mengaku dapat kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT psikologi tidak relevan.

Ini karena Dedi mendapati istrinya yang menuntut cerai itu, dalam kondisi tidak sesuai dengan ciri korban KDRT psikologi atau kekerasan psikologi, seperti yang dideskripsikan undang-undang negara.

"Ngomong KDRT psikologi, di undang-undang itu kan jelas, wanita atau istri yabg mengalami KDRT psikologi itu. (Tandanya) satu, murung secara terus menerus. Dua, kehilangan kepercayaan diri, yang ketiga tidak bisa mengambil keputusan," ujar Dedi dalam potongan video akun Instagram @insta_julid dikutip suara.com, Jumat (2/12/2022).

"Pertanyaannya adalah, ada nggak tanda-tanda itu di Bu Anne, murung terus tidak bisa mengambil keputusan, kehilangan kepercayaan diri? Menurut saya terbalik, hari ini Ambu sebagai bupati sangat pede (percaya diri)," sambungnya.

Sementara itu mengutip Safe Lives, KDRT tidak hanya sebatas kekerasan fisik, tapi juga kekerasan psikologi yang tidak dibenarkan. Sehingga KDRT psikologi adalah pelecehan secara psikologis yang melibatkan kata dan tindakan non fisik yang sengaja dilakukan untuk memanipulasi, melemahkan, menyakiti hingga menakuti secara mental.

Hasilnya korban akan merasa kebingungan, pikirannya mudah terpengaruh hingga menganggu kehidupan sehari-hari, dan kesadaran dirinya berubah hingga merusak kesejaheraan.

Bahkan, penelitian menunjukan korban KDRT psikologi tidak akan alami kekerasan fisik secara bersamaan, bahkan banyak juga korban yang sama sekali tidak diserang secara fisik hingga memar atau terluka.

Mirisnya, sebelum menjadi korban kekerasan psikologi, di awal hubungan pelaku cenderung jadi sosok menawan dan penuh kasih sayang, menyatakan cinta lebih cepat, ingin menghabiskan waktu bersama, yang akhirnya membuat korban lengah dan tidak peka terhadap perilaku kasar dari pelaku.

Mengerikannya, pelaku akan berusaha mempertahankan kendalinya terhadap korban dengan cara bersembunyi dan mencuci otak, menampilkan hinaan dengan lelucon hingga gaslighting.

Baca Juga: Kang Dedi Ketakutan Masuk Salah Satu Ruangan di Gedung Kembar, Ada Kenangan Manis Bersama Ambu Anne Ratna?

Sama seperti korban KDRT fisik, KDRT psikologis juga ditemukan harus berkonsultasi ke psikologis atau psikiatri, juga berisiko depresi hingga berupaya melakukan aksi bunuh diri.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI