Suara.com - Film No Other Land berhasil menang Film Dokumenter Terbaik di Oscar 2025. Film Other Land membahas tentang konflik Palestina-Israel, tepatnya dalam kasus pembongkaran rumah-rumah di West Bank. Film dokumenter ini adalah hasil kolaborasi sineas Palestina dan Israel.
Dalam Academy Awards 2025, ada 4 sutradara No Other Land yang naik ke panggung untuk menerima piala Oscar. Dua di antaranya, aktivis Palestina Basel Adra dan jurnalis Israel Yuval Abraham, memberikan pidato secara bergantian. Keduanya kompak memberikan pidato paling politik di Oscar 2025.
Basel Adra menyerukan kepada dunia untuk menghentikan ketidakadilan terhadap warga Palestina. Ia tegas meminta dunia untuk menghentikan pembersihan etnis terhadap orang-orang Palestina.
“Kami menyerukan kepada dunia untuk mengambil tindakan serius guna menghentikan ketidakadilan dan pembersihan etnis terhadap warga Palestina,” kata Adra dalam pidatonya, Senin (3/3/2025).
“Sekitar dua bulan lalu, saya menjadi seorang ayah, dan saya berharap kepada putri saya bahwa ia tidak harus menjalani kehidupan yang sama seperti yang saya jalani sekarang. ‘No Other Land’ mencerminkan kenyataan pahit yang telah kami alami selama puluhan tahun dan masih kami lawan,” lanjutnya.
Senada dengan Arda, Yuval Abraham yang merupakan jurnalis Israel juga memberikan pandangan serupa. Ia mengungkap film No Other Land adalah bukti bahwa warga Palestina dan Israel bisa bersatu menghentikan genosida di Gaza.
Abraham juga mengutuk penghancuran yang mengerikan di Gaza dan penduduknya. Dia juga menyinggung sandera Israel di Gaza sebagai korban kejahatan 7 Oktober yang ditangkap secara brutal.
"Kami membuat film ini, warga Palestina dan Israel, karena bersama-sama, suara kita lebih kuat. Kita melihat satu sama lain, kehancuran Gaza dan rakyatnya, yang harus diakhiri, para sandera Israel, yang ditangkap secara brutal dalam kejahatan 7 Oktober, yang harus dibebaskan,” ucap Yuval Abraham.
Pernyataan tersebut disampaikan dengan fasih oleh para pembuat film yang telah mengalami, melihat, dan mendokumentasikan beberapa peristiwa di Palestina.
Mereka juga memasuki pusaran politik, dengan pemerintahan presiden yang telah berupaya memindahkan penduduk Palestina di Gaza.
Selain itu, mereka juga mendapatkan tekanan dari industri film yang terbebani oleh tuduhan bahwa suara-suara pro Palestina tidak peka terhadap penderitaan Israel dan antisemitisme secara umum.