Suara.com - Belakangan ini publik kembali ramai membicarakan Malaka Project, sebuah gerakan intelektual dan budaya yang dikenal sering mengangkat isu-isu kritis di masyarakat. Pertanyaan yang sering muncul adalah Malaka Project milik siapa?
Malaka Project diprakarsai oleh Ferry Irwandi, sosok yang juga menjabat sebagai CEO gerakan tersebut. Nama Ferry semakin mencuat bukan hanya karena kiprahnya di dunia intelektual dan kreatif, melainkan juga karena baru-baru ini disorot oleh Komandan Satuan Siber (Dansatsiber) Mabes TNI, Brigjen J.O. Sembiring.
Tokoh-Tokoh di Malaka Project
Malaka Project resmi diluncurkan pada 20 Oktober 2023 di Djakarta Theater. Ferry Irwandi bersama delapan co-founder dari berbagai latar belakang kreatif mendirikan gerakan ini.
Beberapa nama populer yang ikut bergabung di antaranya adalah:

- Jerome Polin, kreator edukasi matematika
- Dea Anugrah, penulis dan jurnalis
- Cania Citta Irlanie, jurnalis dan intelektual publik
- Angellie Nabila, kreator konten generasi muda dan kesehatan mental
- Coki Pardede, komika dengan kritik sosial khas
- Aurelia Vizal, penulis dan peneliti isu gender, filsafat, dan psikologi
- Fathia Izzati, musisi sekaligus kreator konten budaya pop
- Rifky Adi Prakoso, pengusaha dengan perspektif bisnis dan ekonomi.
Kehadiran tokoh-tokoh ini membuat Malaka Project cepat dikenal luas, terutama di kalangan anak muda. Mereka mengusung program berupa kelas pakar, konten edukasi, hingga rencana pendirian Institut Malaka sebagai wadah kajian ide-ide besar.
Ferry Irwandi, Founder yang Kini Jadi Sorotan
Sosok Ferry Irwandi belakangan menjadi bahan pemberitaan setelah Dansatsiber Mabes TNI menyebut adanya “fakta-fakta dugaan tindak pidana” yang terdeteksi lewat patroli siber dan dikaitkan dengan dirinya. Temuan ini bahkan sudah dikonsultasikan ke Polda Metro Jaya untuk proses lebih lanjut.
Meski begitu, hingga kini pihak TNI belum mengungkapkan secara spesifik apa bentuk dugaan tindak pidana tersebut.
Ferry sendiri menanggapi kabar itu dengan cukup tenang. Dalam beberapa pernyataan, ia mengaku belum menerima informasi resmi terkait dugaan tersebut. Bahkan, ia menegaskan dirinya siap menghadapi proses hukum yang berlaku.
“Dear jenderal. Saya tidak lari kemana-mana, setelah nomor saya didoxxing pun saya nggak pernah ganti nomor, jadi sampai sekarang kalau bilang pernah coba kontak, saya tidak pernah dikontak. Terima kasih."
"Saya tidak pernah dididik jadi pengecut atau penakut. Ide tidak bisa dibunuh atau dipenjara,” tulis Ferry melalui akun media sosialnya.
Malaka Project Bukan Hanya Milik Ferry
Meski Ferry Irwandi dikenal sebagai arsitek utama, Malaka Project sejatinya adalah hasil kolaborasi dari banyak tokoh kreatif. Hal ini membuat gerakan tersebut tidak bisa dilihat hanya sebagai milik satu orang, melainkan sebagai sebuah kolektif intelektual.
Namun, publik memang lebih sering mengaitkan Malaka Project dengan Ferry karena perannya sebagai CEO dan figur utama. Tak heran, ketika namanya menjadi sorotan Dansatsiber TNI, banyak yang kemudian bertanya-tanya tentang masa depan gerakan ini.
Terlepas dari isu hukum yang menyeret nama Ferry, Malaka Project masih memiliki tempat tersendiri di kalangan generasi muda Indonesia. Dengan gaya komunikasi yang segar, kolaborasi lintas bidang, dan konten edukasi yang membumi, gerakan ini berhasil menghidupkan diskusi-diskusi intelektual di ruang publik.
Jadi, Malaka Project milik siapa? Jawabannya: Malaka Project dipimpin oleh Ferry Irwandi sebagai founder dan CEO, bersama delapan co-founder dari berbagai latar belakang. Kini, nama Ferry sedang menjadi perhatian usai disebut oleh Dansatsiber TNI terkait dugaan tindak pidana yang masih dalam proses hukum.
Meski begitu, kiprah Malaka Project sebagai wadah kolaborasi ide tetap relevan di mata publik, terutama anak muda yang haus akan ruang diskusi kritis.