Suara.com - Mimpi dilamar sering kali membuat penasaran, terutama jika terasa begitu nyata dan terjadi berulang.
Banyak yang kemudian bertanya-tanya, apakah itu sekadar bunga tidur atau punya makna tertentu menurut Islam.
Dalam ajaran Islam, mimpi dianggap bisa menjadi salah satu bentuk isyarat, terutama jika datang dari Allah SWT.
Namun tidak semua mimpi memiliki makna spiritual karena sebagian bisa muncul dari pikiran dan perasaan manusia sendiri.
Lantas apa arti mimpi dilamar menurut Islam. Apakah ada pertanda tertentu jika seseorang bermimpi tengah lamaran?
Arti Mimpi Dilamar Menurut Islam, Pertanda Apa?

Merangkum berbagai sumber, mimpi dilamar atau lamaran bisa menjadi pertanda baik. Bisa jadi mimpi tersebut merupakan pertanda jodohmu akan segera datang.
Bagi yang telah menikah, mimpi ini diyakini juga bisa menjadi pertanda akan ada hal baik yang menghampiri pernikahanmu.
Mimpi tentang lamaran juga biasanya dikaitkan dengan harapan, keinginan, atau perasaan yang sedang memenuhi hati seseorang.
Misalnya, bagi yang belum menikah, bisa jadi itu cerminan dari keinginan untuk segera dipertemukan dengan jodoh.
Namun, Islam juga mengajarkan agar tidak langsung percaya pada setiap mimpi tanpa menimbang konteksnya.
Sebab, bisa jadi mimpi itu hadir sebagai ujian, peringatan, atau sekadar refleksi dari kondisi batin seseorang.
Sementara itu, ada berbagai cara halal dalam mengupayakan jodoh, di antaranya bergabung dalam komunitas untuk menambah jejaring hingga mengikuti sesi taaruf.
Bagi yang sudah menikah, Islam sangat menganjurkan untuk bersikap baik kepada pasangan. Islam juga menganjurkan agar pasangan merawat cinta dalam pernikahan dengan perhatian-perhatian kecil sehari-hari, atau menikmati waktu bersama.
Tujuan Pernikahan dalam Islam
Di dalam Islam pernikahan dikenal sebagai mitsaqon ghalida atau perjanjian yang teramat kuat.
Perjanjian ini bukan sekadar antara dua manusia, tetapi antara manusia dengan Allah Swt. Saat ijab kabul, diyakini bahwa Allah Swt. dan para malaikat juga ikut menyaksikan.
Maka dari itu, tujuan pernikahan, yang biasanya dimulai dengan lamaran, tak bisa dianggap main-main.
Melansir situs resmi Muhammadiyah, tujuan pernikahan dalam Islam adalah mewujudkan keluarga yang sakinah, yang bisa dimaknai sebagai ketentraman.
Agar menuju ke sana, pernikahan mestinya dilaksanakan secara sah dan tercatat, alih-alih menikah secara siri.
Pencatatan di hadapan pegawai pencatat nikah penting dilakukan untuk menghindari timbulnya fitnah di masyarakat.
Sementara itu, dalam buku Tanfidz Keputusan Musyawarah Tarjih Ke-28 disebutkan bahwa tujuan perkawinan berdasarkan pada QS. ar-Rum ayat 21 adalah terwujudnya keluarga yang sakinah yaitu adanya suasana tenang, aman, tentram dan damai sebagai hasil dari berkembangnya mawaddah wa rahmah, yang tercermin dengan adanya rasa saling mencintai, membutuhkan, melindungi dan menghormati antar anggota keluarga.
Perkawinan juga memiliki fungsi sosial untuk membentuk keluarga baru. Dengan adanya ikatan pernikahan, maka persaudaraan bisa terjalin semakin kuat. Bahkan saling mengenal keluarga lazimnya dilakukan sebelum lamaran.
Dengan menikah suami akan memperoleh keluarga baru dari pihak istri, begitu pula sebaliknya.
Sementara itu, perkawinan di Indonesia juga diatur secara hukum dalam UU Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan.
Dalam undang-undang tersebut, dijelaskan bahwa tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Perkawinan juga bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.
Meski tujuan perkawinan telah diatur sedemikian rupa oleh agama dan negara, membangun keluarga nyatanya tak semudah membalik telapak tangan.
Konflik-konflik baik ringan maupun berat pasti akan terjadi dalam kehidupan rumah tangga. Untuk menjaga keutuhan rumah tangga, Islam memperbolehkan setiap orang untuk selektif dalam memilih calon pasangan.
Sebelum Anda mantap melangkah ke jenjang lamaran bahkan pernikahan, Anda boleh memiliki kriteria-kriteria tertentu. Sedikit tips bagi yang ingin memilih pasangan, pastikan nyambung dalam mengobrol.
Pasalnya, untuk mengarungi kehidupan rumah tangga, yang akan sering dilakukan adalah mengobrol dan berdiskusi. Di samping itu, pastikan pula Anda menghindari calon yang tidak sesuai dengan kriteria.
Misalnya jika ingin rumah tangga bebas asap rokok, maka pilihlah pasangan yang tidak merokok. Bisa juga memilih pasangan dengan hobi yang sama agar rumah tangga menjadi lebih cair.
Kontributor : Nadia Lutfiana Mawarni