Solusi Beras Berkelanjutan dari Panggung ISRF 2025: Inovasi, Investasi hingga Insentif

Rendy Adrikni Sadikin

Selasa, 18 November 2025 | 10:30 WIB
Solusi Beras Berkelanjutan dari Panggung ISRF 2025: Inovasi, Investasi hingga Insentif
Masa depan beras berkelanjutan menjadi salah satu pembahasan dalam International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Discovery Ancol, Jakarta Utara, Senin (17/11/2025).(Pexels/Sergei A)
baca 10 detik
  • International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 di Jakarta Utara membahas mobilisasi pasar dan pembiayaan untuk mempercepat keberlanjutan beras global.
  • Alan Johnson (IFC) menyoroti adopsi praktik berkelanjutan sangat rendah, hanya 5-6% beras dunia yang dikategorikan berkelanjutan saat ini.
  • Para panelis sepakat bahwa insentif berkelanjutan harus berupa pengurangan biaya dan jaminan pasar, bukan hanya mengandalkan premi harga bagi petani.

Suara.com - International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025 menghadirkan sesi pleno II yang menyoroti urgensi dan solusi kolektif untuk mengatasi tantangan yang dihadapi sektor pangan pokok global. Sesi juga membahas masa depan beras berkelanjutan, pentingnya kolaborasi mitra lintas sektor, inovasi teknologi hingga model pembiayaan untuk petani.

Diskusi mengangkat tema “Pendorong Perubahan: Memobilisasi Pasar, Keuangan Karbon, Donor, dan Pemerintah untuk Mempercepat Keberlanjutan Beras.” Para pakar dihadirkan pada sesi ini. Paparan utama dan diskusi panel ini mempertemukan pemimpin global dari sektor publik, swasta, dan penelitian.

Sesi dibuka dengan paparan utama dari Alan Johnson, Senior Operations Officer di International Finance Corporation (IFC)—bagian dari Grup Bank Dunia yang berfokus pada sektor swasta sebagai vektor pembangunan—dan juga Ketua Dewan Direksi Sustainable Rice Platform (SRP).

Dalam acara yang digelar di Discovery Ancol, Jakarta Utara, Senin (17/11/2025), Johnson menyoroti urgensi transformasi sektor perberasan, mengingat perannya terhadap keamanan pangan global, penghidupan jutaan petani, serta kontribusinya terhadap emisi dan penggunaan air.

Memang, teknologi dan praktik budidaya berkelanjutan seperti Alternate Wetting and Drying (AWD) serta benih tahan penyakit sudah tersedia selama lebih dari dua dekade. Kendati begitu, tingkat adopsinya sangat rendah. Menurut Johnson, hanya 5 hingga 6 persen beras global yang saat ini dapat dikategorikan berkelanjutan.

Jalan Menuju Investasi dan Insentif yang Efektif

Ketika paparan tersebut selesai, Johnson pun mengajak diskusi para panelis. Mereka adalah Sidi Rana Menggala selaku Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Anoushka Harris selaku Sustainability Manager Associated British Foods, Senthilkumar Kalimuthu sebagai Program Leader Africa Rice dan Arjumand Nizami yakni Pakistan Country Director Helvetas.

Sidi Rana Menggala menyoroti pekerjaan Global Environment Facility Small Grants Programme (GEF SGP) di Indonesia sejak 1997. Selama ini, kata dia, program tersebut berfokus pada aksi lokal dengan dampak global, termasuk pengurangan emisi gas rumah kaca di lahan seluas lebih dari 2.500 hektare.

“Program kami berdampak langsung pada 86 kelompok, dan 86 kelompok ini masing-masing mengelola dana hibah mulai dari USD10.000 hingga USD 50.000–atau setara dengan Rp 167 juta hingga Rp 838 juta,” jelasnya.

Menurut ilmuwan dari Ghent University tersebut, tantangan terbesar adalah kemanusiaan dan perubahan perilaku petani yang cenderung menghindari risiko. Untuk pasar karbon, imbuh dia, kuncinya yakni menyamakan bahasa dengan petani, memastikan inisiatif karbon pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan mata pencaharian mereka.

Berbicara soal padi, komoditas ini menjadi salah satu yang dikembangkan GEF SGP Indonesia melalui berbagai inisiatif. Meski memiliki 39 komoditas lainnya seperti kakao, kopi hingga rumput laut, menurut Sidi, padi merupakan komoditas yang sangat menarik.

“Program ini dijalankan di Sulawesi Selatan dan melibatkan lebih dari 200 petani, dan memberikan dampak yang sangat signifikan dengan pembentukan lingkar belajar di 15 Desa. Dari inisiatif ini, ada peningkatan penggunaan pupuk organik—bukan lagi pestisida. Selain memperbaiki proses pertanian, kami juga membangun hubungan komunitas yang kuat,” ujar Sidi.

Sidi mengatakan, ke depannya, GEF SGP Indonesia ingin melibatkan lebih banyak pemangku kepentingan. Sebagai penyalur hibah yang ingin berkolaborasi, imbuh Sidi, pihaknya dapat memberikan dukungan menyeluruh.

“Kami mungkin adalah penyalur hibah terakhir di Indonesia yang masih menyediakan hibah langsung untuk insiatif lokal dan petani. Jadi, kami ingin mengajak semua pihak bekerja sama. Kami menggandeng pemerintah daerah dan pemerintah pusat, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan—semuanya mendukung kami,” ujar Sidi.

Sidi Rana Menggala saat membahas masa depan beras berkelanjutan dalam salah satu sesi di International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025, Discovery Ancol, Jakarta Utara, Senin (17/11/2025).(Dokumentasi pribadi)
Sidi Rana Menggala saat membahas masa depan beras berkelanjutan dalam salah satu sesi di International Sustainable Rice Forum (ISRF) 2025, Discovery Ancol, Jakarta Utara, Senin (17/11/2025).(Dokumentasi pribadi)

Sementara Anoushka Harris dari Associated British Foods, salah satu pendiri SRP, menjelaskan bahwa motivasi perusahaan adalah manfaat lingkungan dan sosial dari standar SRP, serta kebutuhan untuk mengkomunikasikan isu lingkungan seputar beras kepada konsumen.

Saat ditanya soal premi harga, Harris menyatakan, “konsumen Inggris tidak mengetahui tentang keberlanjutan, tetapi pelanggan yang perlu memahami standar tersebut. Narasi keberlanjutan lebih baik dikaitkan dengan kesehatan dan nutrisi daripada klaim seperti penghematan air, karena itu lebih menarik bagi konsumen.”

Kemudian, Senthilkumar Kalimuthu dari Africa Rice, lembaga penelitian di 28 negara Afrika, memaparkan signifikansi beras di benua tersebut. Sekitar 40 persen dari 48 juta ton beras yang dikonsumsi masih diimpor. Kondisi ini menelan biaya sekitar USD 8,2 miliar per tahun atau setara dengan Rp 137 triliun.

Kalimuthu menegaskan beras berkelanjutan adalah prioritas besar. Pasalnya, Afrika dapat melewatkan langkah-langkah yang kurang efisien yang dilalui Asia. Mereka langsung mengadopsi teknologi berkelanjutan. Nah, tantangan utama di Afrika adalah rantai nilai yang terputus, infrastruktur terbatas, dan kurangnya investasi.

Nizami dari Helvetas menyampaikan pandangan soal premi harga. Dalam jangka pendek, premi harga memang mendorong motivasi dan keuntungan segera bagi petani. Tapi, imbuh dia, kondisi ini bisa menimbulkan masalah keberlanjutan dan kepercayaan jika premi tersebut dihapus atau berfluktuasi.

Dia berargumen insentif yang lebih berkelanjutan adalah pengurangan biaya produksi (melalui praktik seperti Alternative Wetting and Drying/AWD), peningkatan layanan ekstensi pertanian, dan jaminan pasar. Intinya adalah membangun kasus bisnis untuk keberlanjutan.

Transisi keberlanjutan beras memerlukan kemitraan multi-pemangku kepentingan yang bekerja secara koheren untuk mengatasi risiko, memperkuat sistem standar, dan paling penting, menjadikan pertanian berkelanjutan sebagai keputusan bisnis yang menguntungkan bagi petani.

Kemitraan publik-swasta dan pendekatan holistik adalah kunci untuk membawa beras berkelanjutan dari ceruk pasar menjadi "normal baru" dalam produksi beras global.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Klaim Swasembada Bukan Omon-Omon, Andre Rosiade Tantang Pengkritik Cek Gudang Bulog

Klaim Swasembada Bukan Omon-Omon, Andre Rosiade Tantang Pengkritik Cek Gudang Bulog

News | Kamis, 22 Oktober 2026 | 18:57 WIB

Stok Beras Melimpah, Bapanas Soroti Mafia Pangan yang Akali Kualitas dan Harga

Stok Beras Melimpah, Bapanas Soroti Mafia Pangan yang Akali Kualitas dan Harga

News | Rabu, 21 Oktober 2026 | 20:45 WIB

Beras Bervitamin Diduga Bodong, Bapanas Cabut Izin dan Setop Produksi PT DTA

Beras Bervitamin Diduga Bodong, Bapanas Cabut Izin dan Setop Produksi PT DTA

News | Rabu, 21 Oktober 2026 | 20:21 WIB

Bareskrim Sita 5 Merek Beras Fortifikasi, Diduga Tak Sesuai Klaim Vitamin di Kemasan

Bareskrim Sita 5 Merek Beras Fortifikasi, Diduga Tak Sesuai Klaim Vitamin di Kemasan

News | Rabu, 21 Oktober 2026 | 16:35 WIB

Bulog dan DPR RI Luncurkan Bantuan Pangan Beras Tahap III, Berlanjut hingga Akhir 2026

Bulog dan DPR RI Luncurkan Bantuan Pangan Beras Tahap III, Berlanjut hingga Akhir 2026

News | Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:22 WIB

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Bulog Luncurkan Kemasan Baru Beras SPHP

Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran, Bulog Luncurkan Kemasan Baru Beras SPHP

Bisnis | Selasa, 20 Oktober 2026 | 20:13 WIB

Beda Masker Sariayu Beras Putih dan Merah: Mana yang Cocok untuk Kulitmu?

Beda Masker Sariayu Beras Putih dan Merah: Mana yang Cocok untuk Kulitmu?

Lifestyle | Rabu, 21 Oktober 2026 | 07:15 WIB

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Produksi Beras Naik, RI Setop Impor Beras Umum

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Produksi Beras Naik, RI Setop Impor Beras Umum

Bisnis | Selasa, 20 Oktober 2026 | 12:39 WIB

Industri Teriak Soal Harga Beras Pecah, Begini Jawaban Mentan

Industri Teriak Soal Harga Beras Pecah, Begini Jawaban Mentan

Bisnis | Senin, 19 Oktober 2026 | 15:03 WIB

Setop Impor Beras: Prestasi Nyata atau Beban Baru?

Setop Impor Beras: Prestasi Nyata atau Beban Baru?

Your Say | Senin, 19 Oktober 2026 | 14:05 WIB

Terkini

BRI Private dan Prioritas Hadirkan Layanan Kesehatan Eksklusif, dari MCU hingga Genomics

BRI Private dan Prioritas Hadirkan Layanan Kesehatan Eksklusif, dari MCU hingga Genomics

Bisnis | Jum'at, 23 Oktober 2026 | 19:26 WIB

Film Takopi's Original Sin Rilis Cuplikan Adegan Baru, Tele Isi Lagu Tema

Film Takopi's Original Sin Rilis Cuplikan Adegan Baru, Tele Isi Lagu Tema

Your Say | Jum'at, 23 Oktober 2026 | 19:20 WIB

Prabowo Dinilai Sukses Perkuat Sektor Pangan, Tapi Harga Masih Belum Terjangkau

Prabowo Dinilai Sukses Perkuat Sektor Pangan, Tapi Harga Masih Belum Terjangkau

Bisnis | Jum'at, 23 Oktober 2026 | 19:18 WIB

Ahmad Luthfi Optimistis Investasi Jateng Tembus Rp110 triliun pada Akhir 2026

Ahmad Luthfi Optimistis Investasi Jateng Tembus Rp110 triliun pada Akhir 2026

News | Jum'at, 23 Oktober 2026 | 19:16 WIB

Pengujian Euro NCAP Ungkap Pentingnya Tombol Fisik pada Kendaraan

Pengujian Euro NCAP Ungkap Pentingnya Tombol Fisik pada Kendaraan

Otomotif | Jum'at, 23 Oktober 2026 | 19:15 WIB

Dilaporkan Mama Sinta soal Film Pesta Babi, Dandhy Laksono Bakal Diperiksa Polisi

Dilaporkan Mama Sinta soal Film Pesta Babi, Dandhy Laksono Bakal Diperiksa Polisi

News | Jum'at, 23 Oktober 2026 | 19:14 WIB

ASDP Kawal Maksimal Klaim Asuransi dan Penggantian Kerugian Korban Kebakaran KMP Batumandi

ASDP Kawal Maksimal Klaim Asuransi dan Penggantian Kerugian Korban Kebakaran KMP Batumandi

Banten | Jum'at, 23 Oktober 2026 | 19:13 WIB

Bukan Sekadar SUV, Hyundai Tawarkan Pengalaman Kepemilikan CRETA yang Worry Free

Bukan Sekadar SUV, Hyundai Tawarkan Pengalaman Kepemilikan CRETA yang Worry Free

Riau | Jum'at, 23 Oktober 2026 | 19:12 WIB

Kementerian Transmigrasi dan Komisi V DPR RI Serahkan 109 SHM Warga Transmigrasi Lombok Timur

Kementerian Transmigrasi dan Komisi V DPR RI Serahkan 109 SHM Warga Transmigrasi Lombok Timur

Bali | Jum'at, 23 Oktober 2026 | 19:07 WIB

BGN Kembalikan Rp160 Miliar ke Kas Negara Buntut LHP BPK, Banyak SPPG Punya Rekening Ganda

BGN Kembalikan Rp160 Miliar ke Kas Negara Buntut LHP BPK, Banyak SPPG Punya Rekening Ganda

News | Jum'at, 23 Oktober 2026 | 19:07 WIB

×