Bahaya Mengintai di Sungai Balantieng dari Banjir hingga Tambang, Apa Dampaknya?

Rendy Adrikni Sadikin

Senin, 15 Desember 2025 | 09:39 WIB
Bahaya Mengintai di Sungai Balantieng dari Banjir hingga Tambang, Apa Dampaknya?
Ilustrasi sungai yang dirusak oleh tambang.(Gambar dibuat menggunakan Imagen 4)
baca 10 detik
  • Kerusakan parah Sungai Balantieng di Sulawesi Selatan disebabkan limbah industri, rumah tangga, dan pertanian, mengancam lingkungan serta ekonomi petani.
  • Banjir besar tahun 2006 dan 2013 akibat perubahan tata guna lahan diperparah penambangan pasir yang merugikan petani di hilir.
  • Balang Institute dan GEF SGP menyusun Rencana Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (RPDAS) pada 11 Desember 2025 untuk penyelamatan terstruktur.

Suara.com - Sungai Balantieng, yang awam dikenal sebagai daerah aliran sungai (DAS) Ujung Loe di Sulawesi Selatan, sakit parah. Kesehatan sungai penting ini tak pelak menjadi perhatian serius. Pasalnya, kerusakan sungai tersebut sudah mengancam lingkungan, ekonomi petani, dan bahkan kesehatan masyarakat.

Penyebab kerusakan ini adalah kegiatan manusia. Mirip dengan banyak sungai di Indonesia, kualitas Balantieng melorot gegara gara limbah industri, rumah tangga, dan pertanian. Dampak buruk di Balantieng pun sudah sangat nyata: ekosistem rusak, air bersih berkurang, kekeringan, longsor, dan penumpukan sampah yang memicu banjir besar di daerah hulu.

Nah, bahaya ini ternyata bukan perkiraan belaka. Studi pada 2016 memperingatkan Balantieng ringkih terhadap banjir bandang jika terjadi perubahan tata guna lahan. Ramalan buruk ini terbukti pada 2006 dan 2013. Saat itu, banjir besar menghantam. Warga Desa Anrang dan Bajiminasa kehilangan sawah karena erosi dan perubahan jalur sungai, bahkan bebatuan besar ikut terseret.

Lebih parah lagi, setelah banjir, penambangan pasir malah justru marak di hilir. Aktivitas ini merugikan petani. Sawah makin sempit karena erosi, dasar sungai semakin dalam sehingga petani harus mengeluarkan biaya besar untuk irigasi, dan air yang mengalir ke hilir berkurang. Kondisi ini tak pelak mengancam kelangsungan pertanian.

Polemik ini mendorong Balang Institute, didukung Program Global Environment Facillity Small Grants Programme (GEF SGP) Indonesia Fase 7, menggelar diskusi menyusun rencana penyelamatan sungai atau Rencana Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (RPDAS) Balantieng. Acara ini digelar di Hotel Agri, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Kamis (11/12/2025).

Masalah di Balantieng dibagi berdasarkan tiga wilayah: Hulu, Tengah, dan Hilir. Di wilayah hulu, tantangan utama mencakup pengalihan fungsi lahan, dari hutan menjadi kebun atau pertanian. Aksi ini marak, terutama di perbatasan Bulukumba dan Sinjai. Masalah ini diperparah dengan penggunaan pestisida dan pupuk yang berlebihan. Alhasil, air sungai tercemar. Sayang, wewenang menindak lahan yang sudah terbuka sangat terbatas.

Sementara itu, wilayah tengah menjadi zona terdampak sekaligus penyumbang masalah. Wilayah ini menghadapi limbah rumah tangga dan industri, maraknya tambang batu dan pasir ilegal, serta perebutan air irigasi yang ketat. Buntutnya, petani di hilir kekurangan air, menambah penderitaan ekonomi mereka.

Terakhir, di wilayah hilir Sungai Balantieng. Fokus masalah wilayah ini adalah pengendapan lumpur atau sedimentasi, abrasi alias pengikisan tepi sungai, dan banjir musiman. Hal ini juga ditambah dengan kelembagaan kelompok nelayan yang masih lemah.

Dalam diskusi yang melibatkan multipihak tersebut, Direktur Eksekutif Balang Institute, Junaedi Hambali, tegas menyebutkan akar dari persoalan ini yakni ulah manusia itu sendiri. Menurut Junaedi, pihaknya kerap kali melihat aktivitas antropogenik ini yang memicu beragam masalah di Sungai Balantieng.

Balang Institute, didukung Program GEF SGP Indonesia Fase 7, menggelar diskusi menyusun rencana penyelamatan sungai atau Rencana Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (RPDAS) Balantieng. Acara ini digelar di Hotel Agri, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Kamis (11/12/2025).(Dokumentasi Pribadi)
Balang Institute, didukung Program GEF SGP Indonesia Fase 7, menggelar diskusi menyusun rencana penyelamatan sungai atau Rencana Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (RPDAS) Balantieng. Acara ini digelar di Hotel Agri, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan, Kamis (11/12/2025).(Dokumentasi Pribadi)

“Kami melihat banyak aktivitas antropogenik yang menyebabkan berbagai permasalahan di Sungai Balantieng termasuk persoalan tambang, pertanian yang tidak berkelanjutan, dan masifnya sampah, salah satu solusinya adalah menyusun rencana pengelolaan DAS-nya,” ujar Junaedi Hambali.

Hadir dalam diskusi tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Bulukumba, Emil Yusri, juga memberikan peringatan keras. Dia menyebutkan bahwa DAS di wilayah Kecamatan Ujung Loe ini tergolong sangat parah.

"DAS Balantieng terutama yang di Ujung Loe ini parah sekali. Kalau kita tidak meletakkan ini (RPDAS) sebagai pondasi dasar dalam membenahi DAS, tujuan kita tidak akan tercapai. Saya sudah membuka indeks kualitas lingkungan untuk paham, kita sudah terkategori sedang," tutur Emil Yusri.

Jelas, tanpa rencana terpadu, masa depan Sungai Balantieng dan masyarakat di sekitarnya berada dalam ancaman serius. RPDAS ini adalah satu-satunya dokumen perencanaan yang secara konseptual menyusun langkah lintas sektor yang mengikat.

Tujuan dari RPDAS ini yakni mendorong seluruh pemangku kepentingan, dari organisasi perangkat daerah, pemerintah desa, hingga pegiat lingkungan, untuk terlibat dalam pengambilan keputusan hulu hingga hilir.

"Kami berharap melalui diskusi perancangan RPDAS ini dapat mendorong aksi pelestarian dan penjagaan sungai Balantieng ke masyarakat untuk diimplementasikan. Sehingga, inisiatif-inisiatif yang tumbuh di DAS Balantieng ini dapat dilanjutkan dengan cara yang lebih masif, lebih terstruktur, karena ditopang oleh satu dokumen perencanaan yang komprehensif," ujar Koordinator Nasional GEF SGP Indonesia, Sidi Rana Menggala.(*)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

5 Korban KM Nurul Salsa Ditemukan Selamat Berpegangan pada Rompong Nelayan

5 Korban KM Nurul Salsa Ditemukan Selamat Berpegangan pada Rompong Nelayan

Video | Minggu, 19 Juli 2026 | 13:00 WIB

Detik-detik Dramatis Evakuasi Korban Kapal Tenggelam di Perairan Sulawesi Selatan

Detik-detik Dramatis Evakuasi Korban Kapal Tenggelam di Perairan Sulawesi Selatan

Video | Jum'at, 17 Juli 2026 | 11:17 WIB

Mulai Agustus, Kota Makassar Tinggalkan Sistem Open Dumping di TPA

Mulai Agustus, Kota Makassar Tinggalkan Sistem Open Dumping di TPA

Foto | Jum'at, 17 Juli 2026 | 10:00 WIB

Drama Perceraian Bupati Gowa Berbuntut Laporan Polisi: Mantan Suami Cium Aroma Kesaksian Palsu

Drama Perceraian Bupati Gowa Berbuntut Laporan Polisi: Mantan Suami Cium Aroma Kesaksian Palsu

News | Sabtu, 11 Juli 2026 | 10:58 WIB

Seleksi Paskibraka Sulsel Dituding Ada Kecurangan, Berikut Deretan Polemiknya

Seleksi Paskibraka Sulsel Dituding Ada Kecurangan, Berikut Deretan Polemiknya

Video | Selasa, 26 Mei 2026 | 18:00 WIB

Genjot Produksi Beras, Sulsel Distribusikan 2.300 Ton Benih Padi Gratis

Genjot Produksi Beras, Sulsel Distribusikan 2.300 Ton Benih Padi Gratis

Foto | Senin, 27 April 2026 | 16:42 WIB

Tegukan Maut di Balik 'Klaim' Kebugaran: Mengapa Minum Oli Adalah Bunuh Diri Medis?

Tegukan Maut di Balik 'Klaim' Kebugaran: Mengapa Minum Oli Adalah Bunuh Diri Medis?

News | Senin, 13 April 2026 | 13:25 WIB

Mudik Laut Samarinda-Parepare Mulai Padat Jelang Lebaran

Mudik Laut Samarinda-Parepare Mulai Padat Jelang Lebaran

Foto | Senin, 16 Maret 2026 | 07:00 WIB

Makassar Dikepung Banjir, 545 Warga Terpaksa Mengungsi

Makassar Dikepung Banjir, 545 Warga Terpaksa Mengungsi

Foto | Rabu, 25 Februari 2026 | 19:47 WIB

Sengketa Lahan Bendungan Jenelata di Gowa, BAM DPR Desak Penyelesaian yang Adil bagi Warga

Sengketa Lahan Bendungan Jenelata di Gowa, BAM DPR Desak Penyelesaian yang Adil bagi Warga

News | Rabu, 11 Februari 2026 | 20:53 WIB

Terkini

3 Pilihan Sepatu Lari Lokal untuk Tempo Run Terbaik, Kualitas Setara Brand Luar Negeri

3 Pilihan Sepatu Lari Lokal untuk Tempo Run Terbaik, Kualitas Setara Brand Luar Negeri

Lifestyle | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:49 WIB

Tak Ingin Jakarta Hilang Akar, Pramono Jani Perkuat Lembaga Adat Betawi

Tak Ingin Jakarta Hilang Akar, Pramono Jani Perkuat Lembaga Adat Betawi

News | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:47 WIB

Lampu Mati Berujung Kobaran Api: Bus Mewah Double Decker Gunung Harta Hangus di Tol Madiun

Lampu Mati Berujung Kobaran Api: Bus Mewah Double Decker Gunung Harta Hangus di Tol Madiun

Jatim | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:36 WIB

Profil Bupati Pemalang Anom Widiyantoro, Eks Petinggi BUMN yang Terjaring Operasi KPK

Profil Bupati Pemalang Anom Widiyantoro, Eks Petinggi BUMN yang Terjaring Operasi KPK

Video | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:30 WIB

Review Novel Hyouka: Misteri Sederhana yang Menyimpan Rahasia 33 Tahun

Review Novel Hyouka: Misteri Sederhana yang Menyimpan Rahasia 33 Tahun

Your Say | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:30 WIB

Sudah Siap War Tiket? Ini Rangkaian Acara Lengkap Perayaan HUT ke-81 RI dari Istana hingga Monas

Sudah Siap War Tiket? Ini Rangkaian Acara Lengkap Perayaan HUT ke-81 RI dari Istana hingga Monas

News | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:28 WIB

Gadis Bernama Aishah Siregar Tiba-tiba Hilang dan Ditemukan di Kamboja, Korban Perdagangan Orang?

Gadis Bernama Aishah Siregar Tiba-tiba Hilang dan Ditemukan di Kamboja, Korban Perdagangan Orang?

News | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:18 WIB

Ulasan A Model Family: Menimbang Moralitas di Tengah Desakan Kehidupan

Ulasan A Model Family: Menimbang Moralitas di Tengah Desakan Kehidupan

Your Say | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:00 WIB

Kenapa Sabun Mandi Tidak Boleh untuk Wajah? Ini Alasan Pentingnya

Kenapa Sabun Mandi Tidak Boleh untuk Wajah? Ini Alasan Pentingnya

Lifestyle | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 16:00 WIB

Bicara Boleh Biasa, Perform yang Menentukan: Jago MC ala Ongky Hojanto

Bicara Boleh Biasa, Perform yang Menentukan: Jago MC ala Ongky Hojanto

Your Say | Sabtu, 01 Agustus 2026 | 15:40 WIB

×