Suara.com - Isu mengenai potensi Perang Dunia III (PD III) kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Salah satu unggahan yang viral menyebut Indonesia sebagai negara paling aman ke-4 di dunia jika perang global benar-benar terjadi.
Dalam daftar yang beredar, Indonesia bahkan berada di atas Swiss, negara yang selama ratusan tahun dikenal dengan status netralnya.
Daftar tersebut menampilkan 12 negara yang dianggap sebagai “Safest Places on Earth During World War 3” dengan sumber yang dikutip dari Daily Mail.
Urutannya antara lain Fiji, Tuvalu, Selandia Baru, Indonesia, Islandia, Argentina, Chile, Swiss, Bhutan, Antartika, Afrika Selatan, dan Greenland.
Pertanyaannya, benarkah Indonesia setara atau bahkan lebih aman dibanding Swiss jika PD III pecah? Berikut penjelasan berbagai faktor yang sering disebut sebagai alasan mengapa Indonesia dinilai relatif aman.
1. Politik Luar Negeri “Bebas Aktif”
Sejak proklamasi 17 Agustus 1945, Indonesia menganut prinsip politik luar negeri bebas aktif. “Bebas” berarti tidak memihak blok kekuatan mana pun, sementara “aktif” berarti tetap berperan dalam menciptakan perdamaian dunia.
Prinsip ini ditegaskan oleh Mohammad Hatta pada 1948 yang menyatakan bahwa Indonesia tidak ingin menjadi objek permainan negara besar. Sikap tersebut lahir di tengah rivalitas dua blok besar dunia pada awal Perang Dingin.
Selama lebih dari tujuh dekade, Indonesia relatif konsisten menjaga posisi ini. Tidak bergabung dengan NATO, tidak menjadi bagian dari pakta militer besar, dan menjaga hubungan diplomatik dengan berbagai kekuatan global. Dalam konteks konflik global besar, posisi non-blok seperti ini memang bisa mengurangi risiko menjadi target langsung.
Namun, perlu dicatat bahwa netralitas tidak selalu berarti kebal dari dampak perang, terutama di era modern yang melibatkan sanksi ekonomi, perang siber, hingga gangguan rantai pasok global.
2. Peran dalam Gerakan Non-Blok
Pada 1955, Indonesia menjadi tuan rumah Konferensi Asia-Afrika di Bandung yang dihadiri 29 negara. Pertemuan tersebut kemudian menjadi cikal bakal lahirnya Gerakan Non-Blok (Non-Aligned Movement).
Gerakan ini mempertemukan negara-negara yang tidak ingin terseret dalam persaingan Blok Barat dan Blok Timur. Posisi Indonesia sebagai inisiator dan tuan rumah memperkuat citra sebagai negara yang mendorong jalur independen dan damai.
Dalam skenario konflik global, reputasi historis ini bisa menjadi modal diplomasi. Negara yang dikenal aktif memperjuangkan perdamaian cenderung tidak dipersepsikan sebagai ancaman militer.
3. Faktor Geografi Kepulauan
Secara geografis, Indonesia adalah negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau yang membentang sekitar 5.100 kilometer dari Sabang sampai Merauke. Wilayah laut yang luas serta bentuk kepulauan memang menyulitkan jika dilihat dari perspektif invasi konvensional.
Sejarah kolonial menunjukkan bahwa penguasaan penuh atas wilayah Nusantara bukan perkara mudah. Bahkan dalam Perang Dunia II, Jepang memang berhasil menduduki wilayah Indonesia, tetapi penguasaan itu lebih kuat di kota-kota besar dan pusat strategis.
Di era modern, meskipun teknologi militer jauh lebih canggih, faktor geografi tetap menjadi variabel penting. Negara kepulauan luas dengan garis pantai panjang dan banyak titik masuk tentu memerlukan biaya logistik besar jika ingin diserang secara langsung.
4. Bukan Target Strategis Utama
Dalam analisis militer global, target utama dalam perang besar biasanya adalah pusat komando militer, pangkalan strategis, negara pemilik senjata nuklir, atau sekutu kunci dari blok yang berkonflik.
Indonesia bukan negara pemilik senjata nuklir dan bukan bagian dari aliansi militer global seperti NATO. Tidak ada pangkalan militer asing berskala besar yang menjadikan Indonesia sebagai titik strategis utama dalam rivalitas kekuatan besar.
Hal ini membuat Indonesia relatif kecil kemungkinannya menjadi target serangan pertama, terutama dalam skenario perang nuklir.
5. Ketahanan Pangan dan Sumber Daya Alam
Indonesia dikenal sebagai negara agraris dengan tanah subur dan iklim tropis. Produksi beras, komoditas perkebunan, serta sumber daya alam lainnya relatif melimpah.
Dalam kondisi perang global yang menyebabkan gangguan rantai pasok, negara dengan kemampuan produksi pangan domestik tentu memiliki keunggulan. Ketahanan pangan menjadi faktor krusial ketika impor terganggu.
Namun demikian, Indonesia tetap terhubung dengan sistem ekonomi global. Ketergantungan pada impor energi, bahan baku industri, dan komponen teknologi tetap menjadi tantangan tersendiri.
6. Diplomasi “Sejuta Kawan Tanpa Musuh”
Kebijakan luar negeri Indonesia dalam beberapa dekade terakhir sering dirangkum dalam prinsip “a million friends and zero enemies.” Indonesia menjaga hubungan baik dengan Amerika Serikat, China, Rusia, negara-negara Timur Tengah, hingga Uni Eropa. Pendekatan ini memperkecil kemungkinan adanya konflik bilateral serius yang bisa menyeret Indonesia langsung ke pusaran perang.
7. Lokasi Relatif Jauh dari Titik Konflik
Jika melihat peta geopolitik saat ini, potensi konflik besar lebih sering dikaitkan dengan Eropa Timur, Timur Tengah, atau Asia Timur. Indonesia berada di Asia Tenggara bagian selatan, dikelilingi lautan luas.
Secara geografis, posisi ini relatif jauh dari garis depan konflik utama dunia. Meski demikian, perkembangan teknologi militer jarak jauh membuat jarak bukan lagi jaminan mutlak keamanan.
Lalu, Bagaimana dengan Swiss?
Swiss memang terkenal dengan netralitasnya yang telah dijaga selama ratusan tahun. Negara itu memiliki sistem pertahanan sipil kuat, bunker perlindungan, dan posisi diplomatik yang kokoh.
Namun, Swiss berada di jantung Eropa. Jika konflik besar melibatkan NATO dan Rusia, dampak langsung maupun tidak langsung bisa lebih terasa di kawasan tersebut.
Sementara Indonesia, meski bukan negara dengan sistem bunker seperti Swiss, memiliki keunggulan geografis dan posisi non-blok. Faktor politik bebas aktif, sejarah Gerakan Non-Blok, geografi kepulauan, ketahanan pangan, dan diplomasi luas memang menjadi modal penting bagi Indonesia. Dalam banyak skenario, Indonesia kemungkinan bukan target prioritas dalam perang global.
Demikian itu penjelasan klaim Indonesia setara atau bahkan lebih aman dari Swiss dari PD III. Dalam beberapa aspek geopolitik dan geografis, Indonesia memang memiliki keunggulan unik. Tetapi keamanan dalam perang dunia tetap bergantung pada dinamika global yang sangat kompleks dan sulit diprediksi.
Kontributor : Mutaya Saroh