Suara.com - Presiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan surat duka cita atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang disebut gugur dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari lalu.
Megawati menyampaikan langsung rasa dukanya melalui surat resmi yang ditujukan kepada Pemimpin Tertinggi Sementara, Presiden, dan rakyat Republik Islam Iran. Surat tersebut diserahkan oleh Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto bersama sejumlah pengurus partai.
Surat tersebut dikirim melalui jajaran pengurus pusat PDI Perjuangan dan diterima langsung oleh Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di Kedutaan Besar Iran di Jakarta pada Selasa (3/3).
Dalam suratnya, Megawati mengaku terkejut sekaligus menyampaikan belasungkawa mendalam kepada pemerintah dan rakyat Iran. Ia juga menegaskan adanya ikatan historis dan ideologis antara Indonesia dan Iran yang telah terjalin lama.
Berikut lima fakta mengenai hubungan Megawati Soekarnoputri dan Ayatollah Ali Khamenei.
1. Surat Duka Cita sebagai Bentuk Penghormatan Politik dan Personal
Dalam pesannya, Megawati menyebut wafatnya Khamenei sebagai kehilangan besar, tidak hanya bagi Iran tetapi juga bagi dunia yang memperjuangkan kemerdekaan dan kedaulatan bangsa. Ia mengaku terkejut atas serangan mendadak yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran tersebut.
Pernyataan duka cita itu sekaligus mencerminkan posisi politik Megawati yang mengecam agresi militer yang dianggap melanggar kedaulatan suatu negara.
Ia menegaskan bahwa masyarakat Indonesia berdiri bersama Iran dalam menolak tindakan sepihak yang dinilai mencederai prinsip hukum internasional.
Baca Juga: Perang Lawan Iran Belum Kelar, Israel Kini Sebut Turki Target Selanjutnya
2. Kekaguman Khamenei terhadap Bung Karno
Salah satu benang merah hubungan Megawati dan Khamenei terletak pada sosok Bung Karno. Sejumlah kesaksian menyebut bahwa Ali Khamenei sejak muda mengagumi Presiden pertama RI tersebut. Ia disebut membaca pemikiran-pemikiran Bung Karno dan menjadikannya sebagai referensi dalam merumuskan gagasan kebangsaan di Iran.
Pancasila dan Dasa Sila Bandung kerap disebut sebagai inspirasi dalam menyusun sintesis antara nilai agama, nasionalisme, dan keadilan sosial. Konsep anti-imperialisme dan solidaritas antarbangsa yang digaungkan Bung Karno dinilai memiliki resonansi kuat dengan semangat revolusi Iran.
Sebagai putri sulung Bung Karno, Megawati merasa memiliki kedekatan emosional terhadap fakta tersebut. Dalam suratnya, ia menyebut adanya kedekatan batin antara perjuangan Sukarno dan kepemimpinan Khamenei selama lebih dari tiga dekade memimpin Iran.
3. Pertemuan Langsung Saat Konferensi D-8 Tahun 2004
Hubungan Megawati dan Khamenei tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga pernah terjalin melalui pertemuan langsung. Pada 2004, Megawati melakukan kunjungan resmi ke Teheran dalam kapasitas sebagai Presiden Republik Indonesia untuk menghadiri Konferensi D-8 (Developing Eight).