- Audy Item menyadari obesitas adalah kondisi medis kompleks yang memerlukan penanganan profesional, bukan hanya kemauan pribadi.
- Dokter menegaskan obesitas merupakan penyakit kronis yang penanganannya meliputi gaya hidup, farmakoterapi, dan intervensi medis.
- Terapi GLP-1 menunjukkan hasil signifikan berupa penurunan berat badan berkualitas dan pengurangan risiko penyakit kardiovaskular.
Terapi ini bekerja dengan membantu mengatur rasa lapar dan kenyang di otak sehingga mendukung penurunan berat badan yang lebih terkontrol.
Perusahaan farmasi Novo Nordisk menghadirkan terapi GLP-1 receptor agonist (GLP-1 RA) yang kini masuk dalam rekomendasi pedoman global terbaru dari WHO.
Menurut dr. Diana, data klinis menunjukkan bahwa:
- Sekitar 1 dari 3 pasien dapat menurunkan berat badan hingga 20 persen atau lebih.
- Rata-rata penurunan berat badan mencapai sekitar 17 persen.
- Penurunan berat badan yang terjadi berfokus pada pengurangan lemak tubuh sambil mempertahankan massa otot.
Pendekatan ini disebut sebagai quality weight loss, yaitu penurunan berat badan yang tidak hanya signifikan secara angka, tetapi juga membantu menjaga fungsi tubuh, mobilitas, dan kekuatan otot.
Selain itu, penurunan berat badan yang berkualitas juga terbukti dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke hingga sekitar 20 persen.
Obesitas Jadi Tantangan Kesehatan di Indonesia
Permasalahan obesitas tidak hanya dialami individu, tetapi juga menjadi tantangan kesehatan global. Secara dunia, lebih dari satu miliar orang hidup dengan obesitas, dan jumlah ini diperkirakan dapat mencapai hampir setengah populasi dunia pada tahun 2035.
Di Indonesia, tren peningkatan obesitas juga semakin terlihat. Data menunjukkan sekitar satu dari empat orang dewasa hidup dengan obesitas. Angka prevalensinya meningkat dari 21,8 persen pada 2018 menjadi 23,4 persen pada 2023.
Dampaknya pun tidak hanya pada kesehatan, tetapi juga ekonomi. Penelitian dari Institut Pertanian Bogor memperkirakan obesitas menyebabkan kerugian ekonomi hingga Rp78,4 triliun per tahun di Indonesia.
Baca Juga: Kerap Alami Body Shaming, Audy Item: Aku Ingin Berubah Bukan karena Omongan Orang
Selain itu, obesitas menjadi faktor risiko utama berbagai penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2 dan penyakit jantung, yang berkontribusi pada jutaan kematian prematur setiap tahunnya di seluruh dunia.
Sayangnya, banyak orang masih memandang obesitas sebagai kegagalan pribadi. Padahal, para ahli menegaskan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh faktor genetik, hormonal, metabolik, dan lingkungan.
Stigma tersebut justru sering menjadi penghalang bagi individu untuk mencari bantuan medis yang tepat.
Karena itu, pengalaman Audy Item menjadi pengingat bahwa langkah pertama yang penting adalah memahami obesitas sebagai kondisi medis, bukan sekadar masalah kemauan.
Dengan penanganan yang tepat, mulai dari perubahan gaya hidup hingga terapi medis harapan untuk hidup lebih sehat dan berkualitas tetap terbuka bagi siapa pun yang sedang berjuang melawan obesitas.