Suara.com - Sayangnya, banyak perusahaan mainan hingga saat ini masih menggunakan plastik sebagai bahan utama pembuatan produk mereka. Dilansir dari The World Economic Forum (12/3/2026), sembilan puluh persen dari mainan fisik masih terbuat dari plastik.
Hal ini dikarenakan plastik merupakan bahan yang mudah dibentuk, ringan, dan kuat. Dengan produksi yang masif, para perusahaan mainan secara langsung telah meningkatkan jumlah limbah plastik yang signifikan.
Mengapa Mainan Dapat Menjadi Limbah?
Persoalan tidak hanya sampai di proses produksi. Kebanyakan dari mainan plastik akan berakhir di tempat sampah dan menjadi limbah yang sulit terurai. Dilansir dari ScienceDirect, melalui jurnal yang berjudul “A Life Cycle Assessment of The Environmental Impact of Children's Toys” (2022), hampir 80% dari sampah mainan berakhir di laut, tempat pembuangan sampah, dan insinerator. Mainan plastik juga telah menyumbang hampir 6% limbah plastik di tempat pembuangan sampah.
Tentunya, limbah mainan ini tidak hanya dapat menambah jumlah limbah, tetapi juga bisa mencemari tanah, mengganggu ekosistem, hingga menjadi ancaman bagi keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, hingga saat ini industri mainan masih mengupayakan untuk menggunakan bahan yang lebih berkelanjutan.
Upaya Mengurangi Limbah Plastik dalam Produksi Mainan

Salah satunya upaya tengah dilakukan oleh perusahaan produsen mainan konstruksi plastik terkemuka di dunia, yaitu Lego. Melalui pernyataan keberlanjutannya di tahun 2025, Lego banyak mengumumkan kebijakan mengenai langkah yang mereka ambil agar dapat mengurangi limbah plastik dari Mainan.
Pertama, Lego mengumumkan bahwa terdapat kenaikan jumlah bahan baku yang mereka gunakan dalam pembuatan bricks sebesar 33%. Dari yang semula 19% di tahun 2024 menjadi 52% di tahun 2025. Selanjutnya, Lego juga terus memperluas upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik berbahan dasar fossil. Upaya tersebut dilakukan melalui sistem produksi dimana mereka mencampurkan fossil dengan sumber material yang lebih berkelanjutan, seperti minyak goreng bekas atau minyak nabati.
Mereka juga mengatakan bahwa penggunaan bahan baku berbasis fossil yang mereka gunakan dalam produksi batu bata di tahun 2025 lebih menurun dibandingkan dengan tahun 2022, meskipun selama periode tersebut mereka mengalami kenaikan omset sebanyak 29%.
Baca Juga: IHSG Gagal Tembus Level 9.000, Investor Panik Langsung Buru-buru Lego Saham
Selain itu, Lego juga mendukung penelitian terkait material yang berkelanjutan, dengan tujuan dapat mengurangi jejak karbon dalam produk dan kemasan. Bahkan, di tahun 2023 Lego group juga mengumumkan inisiatif untuk mulai menghapus penggunaan plastik sekali pakai pada kemasan Lego dan mengganti kantong plastik dengan kantong yang terbuat dari kertas.
CEO dari Lego Group, Niels B Christiansen, juga mengatakan bahwa Lego ingin terus memberikan dampak positif kepada dunia dengan cara terus berinvestasi kepada hal-hal yang menjuru kepada material berkelanjutan dalam langkah mengurangi jejak lingkungan yang mereka hasilkan.
Dengan adanya gerakan yang mulai dipraktekkan oleh perusahaan mainan, seperti Lego, diharapkan kedepannya akan lebih banyak lagi perusahaan-perusahaan mainan lainnya yang melakukan hal serupa demi mengurangi limbah dan menjaga lingkungan.