- Brongkos Yogyakarta adalah kuliner tradisional berkuah kluwek dari era Kerajaan Mataram Islam, disajikan bagi bangsawan keraton.
- Hidangan favorit Sultan Yogyakarta ini berisi daging sapi, kacang tolo, tahu, dan telur, kaya rasa gurih dan manis.
- Inovasi modern mengganti santan dengan susu evaporasi untuk menghasilkan kuah brongkos yang lebih creamy dan ringan.
Suara.com - Perayaan Idulfitri selalu identik dengan hidangan khas seperti opor ayam, rendang, atau sambal goreng ati yang hampir selalu hadir di meja makan keluarga. Namun di balik menu-menu populer tersebut, Indonesia juga memiliki beragam kuliner tradisional dengan sejarah panjang yang tak kalah istimewa untuk dihidangkan saat Lebaran.
Salah satu hidangan yang memiliki nilai historis sekaligus cita rasa khas adalah brongkos Yogyakarta, menu legendaris yang berasal dari dapur Keraton dan telah dikenal sejak era Kerajaan Mataram Islam.
Pada masa lalu, hidangan ini kerap disajikan di lingkungan keraton sebagai menu istimewa bagi kalangan bangsawan maupun tamu penting kerajaan. Kuahnya yang pekat berwarna cokelat kehitaman berasal dari kluwek, dipadukan dengan berbagai rempah khas Jawa yang menghasilkan rasa gurih, manis, dan kaya bumbu.
Hidangan Favorit Sultan Yogyakarta
Brongkos biasanya berisi potongan daging sapi, kacang tolo, tahu, serta telur rebus yang dimasak perlahan hingga bumbunya meresap sempurna.
Hidangan ini bahkan disebut sebagai salah satu makanan favorit Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Sultan Hamengkubuwono X. Hingga kini, brongkos masih dapat ditemukan di sejumlah rumah makan yang menyajikan kuliner khas Keraton Yogyakarta.
Selain memiliki sejarah panjang, brongkos juga kerap hadir dalam berbagai momen kebersamaan keluarga di wilayah Jawa, termasuk saat perayaan Idulfitri. Kuahnya yang kaya rempah dan sedikit kental membuat hidangan ini cocok disantap bersama ketupat atau nasi hangat.
Sayangnya, popularitas brongkos kini mulai jarang terdengar, terutama di kalangan generasi muda. Padahal, di tengah banyaknya inovasi menu Lebaran, hidangan klasik seperti brongkos justru dapat menjadi alternatif menarik yang tetap autentik sekaligus menghadirkan pengalaman rasa berbeda di meja makan keluarga.
Inovasi Brongkos Creamy Tanpa Santan
Melihat potensi tersebut, Dairy Champ mencoba kembali mengangkat hidangan klasik ini sebagai inspirasi menu Lebaran dengan sentuhan inovasi dalam cara memasaknya.
Marketing Manager PT Etika Beverages Indonesia, Dodi Afandi, mengatakan bahwa Lebaran merupakan momen penting bagi keluarga Indonesia untuk berkumpul sambil menikmati hidangan istimewa.
“Lebaran adalah momen istimewa bagi keluarga Indonesia untuk berkumpul sambil menikmati hidangan terbaik. Melalui resep Brongkos Yogyakarta ini, kami ingin mengajak masyarakat menghadirkan variasi menu Lebaran yang berbeda namun tetap autentik dan kaya cita rasa Nusantara,” ujar Dodi.
Berbeda dari resep tradisional yang menggunakan santan, resep ini menggunakan susu evaporasi sebagai alternatif untuk menghasilkan tekstur kuah yang lebih creamy namun terasa lebih ringan.
Versi Kreator Kuliner
Content creator kuliner Nurul Insiyah juga membagikan versinya dalam mengolah hidangan klasik tersebut.
Menurutnya, brongkos memiliki karakter rasa yang khas karena perpaduan rempah dan kluwek yang kuat.
“Saya memilih brongkos karena cita rasanya sangat khas, perpaduan gurih, manis, dan rempah dari kluwek yang memberikan rasa hangat dan nostalgia saat dinikmati bersama keluarga,” ujar Nurul.
Ia juga menggunakan susu evaporasi Dairy Champ sebagai pengganti santan karena tetap memberikan tekstur kuah yang creamy dan gurih namun tidak terlalu kental.
“Inovasi ini menghadirkan sajian ketupat brongkos yang tetap kaya rasa tetapi terasa lebih ringan,” tambahnya.
Resep Brongkos Creamy Tanpa Santan
Bahan Utama
- 500 gr daging sapi (sandung lamur/brisket)
- 2 butir telur rebus
- 100 gr tahu goreng (opsional)
- 1,5 liter air
- 200 ml susu evaporasi Dairy Champ
- 3 lembar daun salam
- 3 lembar daun jeruk
- 2 cm lengkuas, geprek
- Minyak secukupnya
Bumbu Halus
- 6 siung bawang merah
- 4 siung bawang putih
- 3 butir kemiri sangrai
- 2–3 buah kluwek (ambil isinya)
- 1 sdt ketumbar sangrai
- ½ sdt jintan
- ½ sdt lada
- ¼ sdt pala bubuk
- Garam dan gula jawa secukupnya
Cara Membuat
- Rebus daging sapi menggunakan metode 5:30:7: rebus selama 5 menit dengan api besar, matikan api dan diamkan 30 menit tanpa membuka panci, lalu rebus kembali selama 7 menit.
- Buang buih yang muncul agar kuah tetap jernih. Saring kaldu dan sisihkan sebagai kuah.
- Setelah daging empuk, angkat dan potong-potong ukuran 3–4 cm.
- Seduh kluwek dengan air panas, larutkan isinya dengan air lalu saring.
- Panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum. Tambahkan daun salam, daun jeruk, dan lengkuas, tumis hingga matang.
- Masukkan potongan daging, tahu, dan telur ke dalam tumisan bumbu.
- Tuangkan kembali kaldu rebusan daging.
- Masak dengan api kecil sekitar 20 menit agar bumbu meresap.
- Setelah kuah mendidih, kecilkan api.
- Tuang susu evaporasi, aduk perlahan hingga tercampur rata.
- Koreksi rasa, tambahkan garam atau gula jawa jika perlu. Masak sekitar 5 menit hingga semua rasa menyatu.
- Sajikan brongkos bersama ketupat atau nasi hangat.
Dengan kuah yang kaya rempah, tekstur creamy, serta cita rasa yang khas, brongkos Yogyakarta dapat menjadi pilihan menu Lebaran yang berbeda namun tetap dekat dengan tradisi kuliner Nusantara. Hidangan klasik ini membuktikan bahwa resep warisan leluhur tetap relevan untuk dinikmati generasi masa kini, terutama ketika dipadukan dengan sentuhan inovasi dalam cara memasaknya.