Perhitungan ini menggunakan metode falak hisab tahqiqi tadqiki ashri kontemporer yang menjadi ciri khas Nahdlatul Ulama dalam menentukan awal bulan Hijriah.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga merilis prakiraan hilal saat matahari terbenam pada 19 Maret 2026. BMKG mencatat bahwa konjungsi atau ijtimak terjadi pada pagi hari sekitar pukul 08.23 WIB, sehingga secara astronomis konjungsi sudah berlangsung sebelum matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia.
Ketinggian hilal di Indonesia diperkirakan berkisar antara 0,91 derajat di Merauke hingga 3,13 derajat di Sabang. Elongasi geosentris berada pada kisaran 4,54 derajat hingga 6,1 derajat. Sementara umur bulan saat matahari terbenam berkisar antara 7,41 jam hingga 10,44 jam.
Durasi hilal di atas ufuk juga relatif singkat, yakni sekitar 5,6 menit di Merauke hingga 15,66 menit di Sabang. Data ini memperkuat indikasi bahwa kriteria imkanur rukyah kemungkinan besar belum terpenuhi.
Prediksi Lebaran Pemerintah dan NU
Berbeda dengan Muhammadiyah yang lebih dahulu menetapkan Lebaran jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, pemerintah dan organisasi Islam Nadhlatul Ulama (NU) hingga kini belum memutuskan Hari Raya Idulfitri 1447 H.
Dengan perhitungan berdasarkan pantauan posisi hilal terbaru, ada potensi besar bulan Ramadan digenapkan mnjadi 30 hari (istikmal). Jika prediksi ini sesuai dengan hasil rukyat dan sidang isbat, maka Hari Raya Idulfitri 1447 H diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Dalam proses tersebut, hasil penelitian dari berbagai lembaga seperti Observatorium Bosscha menjadi salah satu masukan ilmiah yang dipertimbangkan sebelum keputusan diumumkan kepada masyarakat.
Demikian itu update posisi hilal jelang lebaran 2026. Masyarakat tetap diimbau menunggu pengumuman resmi 1 Syawal yang menjadi kewenangan pemerintah melalui Kementerian Agama. Penentuan resmi akan diputuskan dalam sidang isbat yang digelar pada Kamis malam, 19 Maret 2026.
Kontributor : Mutaya Saroh