- Masyarakat di Misool, Raja Ampat menerapkan sistem sasi untuk menjaga kelestarian ekosistem laut melalui pengaturan waktu panen.
- Sejak tahun 2008, perempuan di Misool mulai terlibat aktif mengelola wilayah sasi untuk memperkuat peran dalam pengambilan keputusan.
- Keterlibatan perempuan dalam pengelolaan sasi berhasil memulihkan populasi biota laut serta meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat setempat secara berkelanjutan.
Teripang kembali muncul. Lola dan lobster lebih stabil. Hasil tangkapan tidak lagi habis dalam sekali panen. Laut pulih, dan kepercayaan ikut tumbuh.
Pada 2019, wilayah kelola Waifuna diperluas menjadi 213 hektare. Angka itu bukan sekadar luasan, tetapi penanda pengakuan: perempuan mampu memimpin.
Dari Lokal ke Pola Bersama
Apa yang dimulai di satu kampung tidak berhenti di sana. Praktik serupa muncul di Kampung Aduwei dan Salafen. Pada 2022, kelompok perempuan pengelola sasi—Joom Jak dan Zakan Day—dibentuk.
Di Aduwei, dampaknya terasa langsung di kehidupan sehari-hari.
“Biasanya sebelum buka sasi, kami berdiskusi hasil sasi akan digunakan untuk apa. Bisa untuk keperluan gereja, sampai untuk kebutuhan pendidikan maupun kesehatan masyarakat,” kata Mama Ribka.
Sasi kini menjadi cara komunitas mengambil keputusan dan mengelola hasil bersama. Perempuan yang sebelumnya jarang hadir dalam forum kampung mulai duduk di ruang-ruang itu. Mereka tidak hanya mendengar, tetapi juga berbicara dan menentukan arah.
Menurut Manajer Program Kelautan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Hilda Lionata, perubahan ini menunjukkan bahwa sasi terus berkembang.
“Mereka tidak lagi malu atau takut menyampaikan pendapat maupun terlibat dalam pengambilan keputusan di kampung,” ujarnya.
Lebih dari Sekadar Sistem
Pendampingan yang dimulai sejak 2008 mencakup banyak hal, pemahaman siklus hidup biota laut seperti teripang, lola, dan lobster, hingga keterampilan teknis seperti pemantauan dan menyelam. Namun, perubahan paling mendasar tidak selalu terlihat di laporan.
Ia tumbuh dalam cara perempuan memandang diri mereka sendiri—sebagai pihak yang punya pengetahuan, pengalaman, dan hak untuk menentukan.
Pertemuan tiga kelompok perempuan dari Misool, Waifuna, Joom Jak, dan Zakan Day, di Gianyar, Bali, pada April 2026 menjadi ruang untuk merawat proses itu. Mereka berbagi cerita, menyusun ulang pengalaman, dan menguatkan satu sama lain.
Di sana, sasi tidak lagi dibicarakan hanya sebagai tradisi. Ia menjadi jalan untuk mengubah relasi kuasa, tanpa harus meninggalkan akar yang sudah ada.
Dari Misool, pelajarannya sederhana: perubahan tidak selalu datang dengan mengganti sistem, tetapi dengan menggeser siapa yang memegang kendali di dalamnya.