Tak Lagi Identik dengan Jamu Gendong, Begini Wajah Baru Jamu Indonesia di Tangan Generasi Muda

Dinda Rachmawati

Sabtu, 18 April 2026 | 07:04 WIB
Tak Lagi Identik dengan Jamu Gendong, Begini Wajah Baru Jamu Indonesia di Tangan Generasi Muda
Bukan Lagi Minuman 'Kuno', Jamu Kini Jadi Tren Nongkrong Anak Muda di Cafe (Dok. Istimewa)
baca 10 detik
  • Acaraki di PIK 2 menghadirkan konsep Jamu Experience Cafe untuk mendekatkan minuman herbal tradisional kepada generasi muda.
  • Pengunjung dapat menyaksikan langsung proses peracikan dan mengkreasikan jamu dengan berbagai bahan pendamping agar lebih sesuai selera.
  • Inovasi penyajian modern ini berhasil menjadikan jamu sebagai bagian gaya hidup tanpa menghilangkan identitas budaya Indonesia.

Suara.com - Cara menikmati jamu kini tak lagi harus identik dengan rasa pahit dan pengalaman yang “dipaksakan”. Di tangan generasi baru, minuman tradisional ini justru hadir lebih ringan, fleksibel, dan terasa dekat dengan keseharian. 

Perubahan cara minum jamu ini salah satunya terlihat dari pendekatan yang dilakukan Acaraki di PIK 2, Tangerang, yang mengusung konsep Jamu Experience Cafe, sebuah ruang di mana jamu bukan hanya diminum, tapi juga dialami.

Selama ini, jamu kerap diasosiasikan dengan aroma rempah yang kuat dan kebiasaan lama yang lekat dengan generasi orang tua. Namun, konsep kafe yang estetik dan interaktif membuat jamu tampil lebih akrab bagi anak muda. 

Di acaraki, pengunjung tidak hanya memesan minuman herbal, tetapi juga bisa menyaksikan langsung proses peracikan, memahami filosofi di baliknya, hingga mengeksplorasi rasa sesuai preferensi mereka.

Founder & Director PT Acaraki Nusantara Persada, Jony Yuwono, menjelaskan bahwa pendekatan ini muncul dari pengamatannya terhadap respons generasi muda sejak awal acaraki berdiri.

Bukan Lagi Minuman 'Kuno', Jamu Kini Jadi Tren Nongkrong Anak Muda di Cafe (Dok. Istimewa)
Bukan Lagi Minuman 'Kuno', Jamu Kini Jadi Tren Nongkrong Anak Muda di Cafe (Dok. Istimewa)

“Ketika pertama kali buka acaraki di tahun 2018, ya mungkin teman-teman yang sepuh yang datang. Tapi menariknya, anak-anak muda justru mengunjungi alat cafe jamu kami. Sebenarnya anak-anak muda hanya perlu dilibatkan saja," ujarnya.

Melalui konsep Jamu Experience Cafe ini, kata dia Acaraki ingin memperlihatkan proses pembuatan jamu di depan pelanggan supaya mereka bisa mengetahui dan mengikuti proses tersebut.

Keterlibatan itu terasa sejak pengunjung memasuki area bar. Proses racik dilakukan secara terbuka, menghadirkan transparansi sekaligus pengalaman visual yang menarik. Bahan-bahan herbal yang sebelumnya terasa asing, kini disajikan dengan cara yang lebih modern sehingga mudah dipahami. 

Pendekatan ini sekaligus menggeser persepsi bahwa jamu adalah produk masa lalu yang sulit dijangkau selera generasi sekarang.

baca juga

“Pesannya jelas, yakni modernisasi tidak harus memutus akar. Ia justru bisa menjadi jembatan agar tradisi tetap hidup,” tambah Jony.

Cara minum jamu modern juga tercermin dari inovasi menu yang ditawarkan. Jamu tidak lagi disajikan dalam bentuk klasik saja, melainkan dikombinasikan dengan elemen kekinian seperti susu, es krim, hingga teknik penyeduhan ala kopi dan matcha. 

Ada beras kencur dengan susu yang lebih creamy, kunyit asam dengan es krim yang segar, daun kelor yang diolah dengan teknik matcha, hingga jahe yang diseduh ala Vietnam drip. Semua ini membuka ruang eksplorasi rasa yang lebih luas.

Yang menarik, konsumen juga diberi kebebasan untuk menyesuaikan racikan sesuai selera. Pendekatan ini membuat jamu terasa lebih personal dan tidak lagi kaku.

“Jamu itu sangat subjektif. Di sini, acaraki berperan sebagai peracik jambu. Artinya apa? Kita mencoba meracik jamu yang sesuai dengan keinginan pelanggan. Kalau Anda enggak nyaman minum kunyit asam pekat, mau ditambahkan gula, silahkan. Tambahkan madu, boleh. Mau tambahkan soda biar lebih segar, silahkan. Kita meracik supaya bisa nyaman dulu di lidah, supaya bisa menjadi bagian dari gaya hidup,” jelas Jony.

Pengalaman ini juga dirasakan langsung oleh pengunjung muda seperti Aurelina Prameswari (21), yang mengaku awalnya tidak terbiasa minum jamu.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

420 Siswa Ikuti Program CyberHeroes Telkom, Bangun Kesadaran Keamanan Digital

420 Siswa Ikuti Program CyberHeroes Telkom, Bangun Kesadaran Keamanan Digital

Bisnis | Kamis, 16 April 2026 | 16:15 WIB

Krisis Lingkungan Mengintai, Bagaimana Melibatkan Generasi Muda Agar Mau Bergerak?

Krisis Lingkungan Mengintai, Bagaimana Melibatkan Generasi Muda Agar Mau Bergerak?

Lifestyle | Kamis, 16 April 2026 | 11:15 WIB

Membentuk Diplomat Muda Sejak Dini, Ruang Belajar Global Jadi Kunci Pengembangan Generasi Masa Depan

Membentuk Diplomat Muda Sejak Dini, Ruang Belajar Global Jadi Kunci Pengembangan Generasi Masa Depan

Lifestyle | Kamis, 16 April 2026 | 08:00 WIB

Terkini

Laba SIG Meroket 363%, Industri Semen Masih Dibayangi Overcapacity

Laba SIG Meroket 363%, Industri Semen Masih Dibayangi Overcapacity

Bisnis | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 13:10 WIB

Jebakan Konsumerisme Digital: Di Balik Perilaku Cemas dan Lapar Mata Gen Z

Jebakan Konsumerisme Digital: Di Balik Perilaku Cemas dan Lapar Mata Gen Z

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 13:10 WIB

Anak SD Tewas Dibully Kakak Kelas: Guru, Sekolah, atau Orang Tua yang Harus Bertanggung Jawab?

Anak SD Tewas Dibully Kakak Kelas: Guru, Sekolah, atau Orang Tua yang Harus Bertanggung Jawab?

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 13:06 WIB

Imbas Seruan Boikot, Ini Daftar Musisi yang Kompak Mundur dari Rans Carnival Jogja

Imbas Seruan Boikot, Ini Daftar Musisi yang Kompak Mundur dari Rans Carnival Jogja

Entertainment | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 13:01 WIB

Abdullah Dorong RUU Perampasan Aset Atur Investasi Bodong, Tegaskan Uang Korban Harus Kembali

Abdullah Dorong RUU Perampasan Aset Atur Investasi Bodong, Tegaskan Uang Korban Harus Kembali

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:55 WIB

5 Cara Elegan Menghadapi Anggota Kelompok yang Pasif, Bebas Drama dan Nggak Bikin Baper!

5 Cara Elegan Menghadapi Anggota Kelompok yang Pasif, Bebas Drama dan Nggak Bikin Baper!

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:45 WIB

Bukan Sekadar Gestur, Ini Pesan Mendalam di Balik Aksi Tiga Jari Saat Unjuk Rasa

Bukan Sekadar Gestur, Ini Pesan Mendalam di Balik Aksi Tiga Jari Saat Unjuk Rasa

Video | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:44 WIB

5 Sampo Kelapa Kaya Nutrisi untuk Rawat Keindahan Rambutmu

5 Sampo Kelapa Kaya Nutrisi untuk Rawat Keindahan Rambutmu

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:40 WIB

Revitalisasi RSUD dan Puskesmas Jadi Bukti Pemerintah Perkuat Akses Kesehatan Masyarakat

Revitalisasi RSUD dan Puskesmas Jadi Bukti Pemerintah Perkuat Akses Kesehatan Masyarakat

Jabar | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:38 WIB

Kejahatan Kosmetik di Sulawesi Utara Tertinggi Kedua Nasional

Kejahatan Kosmetik di Sulawesi Utara Tertinggi Kedua Nasional

Sulsel | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:30 WIB

×