Suara.com - Hari Kartini sering datang dengan cara yang srupa: kebaya terbaik, unggahan foto, dan diskusi tentang emansipasi. Tapi di tengah semua itu, ada pertanyaan lain yang jarang diajukan—apa arti menjadi perempuan hari ini, di saat bumi sedang tidak baik-baik saja?
Bagi Novia Arifin, jawabannya tidak datang dari apa yang dikenakan, melainkan dari apa yang dipilih untuk tidak dilakukan.
Sudah lima tahun ia tidak membeli baju baru. Keputusan itu terdengar sederhana, tapi tidak mudah dijalani di tengah tren fesyen yang bergerak cepat.
Lewat akun Instagram @ceritanupi, Novia perlahan membagikan pilihan hidupnya, memakai kembali pakaian lama, mengurangi konsumsi, dan menolak dorongan untuk terus membeli.
Di rumahnya, lemari bukan lagi tempat mengejar tren. Ia justru menjadi ruang untuk mengingat: bahwa apa yang sudah dimiliki, sebenarnya masih cukup.
Bersama suaminya, Yobel, Novia menjalani prinsip slow fashion. Mereka tidak hanya bicara, tapi mempraktikkan. Bahkan untuk momen khusus seperti Imlek, mereka memilih mengenakan pakaian lama yang sudah ada.
“Sumber daya bumi terbatas,” kata Yobel suatu waktu.
“Fast fashion merusak lingkungan dan juga manusia di balik produksinya.”
Pilihan itu bukan tanpa godaan. Suatu hari, sebuah jenama fast fashion besar menawarkan kerja sama kepada Novia—sebuah kampanye bertema keberlanjutan. Tawaran yang, bagi banyak orang, mungkin sulit ditolak. Tapi Novia berhenti sejenak.
“Masa iya aku terima, sementara selama ini aku bicara soal dampak fast fashion?” pikirnya.
Ia menolak. Keputusan itu bukan soal idealisme semata, tapi soal konsistensi. Novia percaya, di tengah derasnya media sosial, banyak brand terjebak dalam greenwashing—mengemas citra ramah lingkungan tanpa benar-benar mengubah praktiknya.
Di sisi lain, dampaknya nyata. Pakaian yang dibuang berakhir di sungai, menumpuk di TPA, atau dibakar. Limbah tekstil terus bertambah, jauh lebih cepat daripada kesadaran untuk menguranginya.
Itulah yang membuat Novia memilih bertahan. Dalam kesehariannya, pilihan-pilihan kecil terus ia jaga. Menggunakan produk berbahan alami. Membawa wadah sendiri saat berbelanja. Hal-hal yang terlihat merepotkan, tapi ia anggap sebagai bentuk tanggung jawab.
Lewat kontennya, Novia tidak berusaha menggurui. Ia hanya mengajak: untuk mulai lebih kritis—pada apa yang dibeli, pada brand yang diikuti, juga pada narasi yang dipercaya.
“Sudah saatnya kita jadi masyarakat yang lebih pintar memilih,” ujarnya.