Peringati Hari Bumi, Keraton Yogyakarta Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Kearifan Lokal

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Kamis, 23 April 2026 | 16:19 WIB
Peringati Hari Bumi, Keraton Yogyakarta Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Kearifan Lokal
Keraton Yogyakarta jadi lokasi wisata budaya. (Instagram/@kratonjogja)
  • Keraton Yogyakarta menyelenggarakan pelatihan pengelolaan sampah bagi abdi dalem di Museum Kereta pada 20 hingga 22 April 2026.
  • Kegiatan ini bertujuan mengatasi peningkatan volume sampah organik dan anorganik akibat tingginya kunjungan wisatawan di kawasan Keraton.
  • Peserta mempelajari integrasi kearifan lokal dan metode pengelolaan modern seperti sistem pemilahan sampah serta pengolahan pupuk organik.

Suara.com - Sampah di kawasan wisata terus meningkat seiring tingginya jumlah pengunjung, namun pengelolaannya kerap belum terintegrasi. Kondisi ini juga terjadi di kawasan Keraton Yogyakarta, di mana sampah organik dan anorganik mulai bercampur dan menimbulkan tantangan baru.

Berangkat dari persoalan tersebut, Keraton Yogyakarta menggelar pelatihan pengelolaan sampah bertepatan dengan peringatan Hari Bumi pada 22 April.

Kegiatan ini diikuti puluhan abdi dalem yang bertugas di bidang pariwisata dan kebersihan, dan berlangsung selama tiga hari pada 20–22 April 2026 di Museum Kereta Keraton Yogyakarta.

Penghageng II Kawedanan Radya Kartiyasa, KRT Jatihadiningrat, mengatakan pelatihan ini menjadi bagian dari upaya Keraton untuk lebih mandiri dalam mengelola sampah.

Keraton Yogyakarta Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Kearifan Lokal.
Keraton Yogyakarta Dorong Pengelolaan Sampah Berbasis Kearifan Lokal.

“Keraton selalu terbuka pada kegiatan yang memberi manfaat, tidak hanya bagi internal tetapi juga wisatawan dan masyarakat luas. Harapannya, materi pelatihan ini bisa diterapkan dalam pengelolaan sampah sehari-hari,” ujarnya.

Koordinator operasional bidang pariwisata Keraton, Mas Jajar Praba Hanendra, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah di kawasan Keraton memiliki tantangan tersendiri. Selain luasnya area, tingginya jumlah kunjungan wisatawan juga berkontribusi pada peningkatan volume sampah.

Ia menyebut, kawasan seperti Kedaton, Tamansari, dan Museum Kereta menjadi titik dengan produksi sampah cukup tinggi. “Untuk Tamansari saja, kunjungan bisa mencapai 3.500 orang per hari, bahkan dua kali lipat saat akhir pekan,” katanya.

Selama ini, sampah di lingkungan Keraton didominasi oleh daun dari pepohonan. Namun, seiring meningkatnya aktivitas wisata, sampah tersebut bercampur dengan plastik dan material anorganik lainnya. Hal ini menimbulkan tantangan dari sisi pengelolaan, sumber daya manusia, hingga sarana prasarana.

Sejumlah langkah awal sebenarnya telah dilakukan, seperti penyediaan tempat sampah, termasuk tempat sampah terpilah di beberapa titik. Meski demikian, Irmawan menilai sistem pengelolaan yang lebih terintegrasi masih dibutuhkan.

Dalam pelatihan tersebut, Keraton juga menggandeng komunitas yang telah berhasil menerapkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Ketua RW 05 Mangkuyudan, Ganang Iwan Surya Yudha, membagikan praktik pengelolaan sampah di wilayahnya, termasuk melalui bank sampah untuk limbah anorganik dan biopori jumbo untuk sampah organik.

“Metode ini memungkinkan sampah organik diolah menjadi pupuk padat maupun cair yang bisa dimanfaatkan kembali atau bahkan dijual,” jelasnya.

Sementara itu, fasilitator dari Sirkoola, Sholahuddin Noor Azmy, menekankan bahwa Keraton sebenarnya memiliki landasan kuat dalam pengelolaan lingkungan melalui filosofi Hamemayu Hayuning Bawono.

Menurutnya, filosofi tersebut mengandung nilai menjaga keseimbangan alam yang sudah ada jauh sebelum konsep ekologi modern berkembang. Tantangannya saat ini adalah menerjemahkan nilai tersebut ke dalam praktik konkret yang relevan dengan kondisi kekinian.

Ia mencontohkan konsep pawuhan dalam arsitektur Jawa, lubang atau area khusus untuk menampung sampah daun, yang bisa diadaptasi menjadi sistem pengelolaan modern, seperti tempat sampah terpilah dan biopori.

Sholahuddin juga menilai pentingnya strategi komunikasi yang menarik agar pengelolaan sampah tidak hanya menjadi tanggung jawab internal, tetapi juga melibatkan wisatawan, terutama generasi muda.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gaya Hidup Hijau Tak Cukup: Mengapa Aksi Individu Tak Bisa Selamatkan Iklim

Gaya Hidup Hijau Tak Cukup: Mengapa Aksi Individu Tak Bisa Selamatkan Iklim

Lifestyle | Kamis, 23 April 2026 | 15:24 WIB

Tak Sekadar Wisata, Bagaimana Edukasi dan Restorasi Sains Menjaga Terumbu Karang?

Tak Sekadar Wisata, Bagaimana Edukasi dan Restorasi Sains Menjaga Terumbu Karang?

Lifestyle | Kamis, 23 April 2026 | 11:21 WIB

Hari Bumi 2026: Gaya Hidup Ramah Lingkungan Lagi Ngetren, Bukan Sekadar Tanam Pohon

Hari Bumi 2026: Gaya Hidup Ramah Lingkungan Lagi Ngetren, Bukan Sekadar Tanam Pohon

Lifestyle | Kamis, 23 April 2026 | 06:20 WIB

Terkini

Solusi Cepat Jelajah Kalbar: Panduan Lengkap Marina Express April 2026!

Solusi Cepat Jelajah Kalbar: Panduan Lengkap Marina Express April 2026!

Lifestyle | Kamis, 23 April 2026 | 16:17 WIB

Siapa Saja Pejabat 'Dinasti Kaltim' Kerabat Rudy Mas'ud? Ini Daftar Lengkap dan Faktanya

Siapa Saja Pejabat 'Dinasti Kaltim' Kerabat Rudy Mas'ud? Ini Daftar Lengkap dan Faktanya

Lifestyle | Kamis, 23 April 2026 | 16:00 WIB

Kenapa Sistem Reuse Belum Efektif Kurangi Sampah Plastik? Studi Ungkap Sebabnya

Kenapa Sistem Reuse Belum Efektif Kurangi Sampah Plastik? Studi Ungkap Sebabnya

Lifestyle | Kamis, 23 April 2026 | 15:55 WIB

5 Air Fryer yang Cocok untuk Anak Kos: Ukuran Mungil, Watt Rendah, Harga di Bawah Rp500 Ribuan

5 Air Fryer yang Cocok untuk Anak Kos: Ukuran Mungil, Watt Rendah, Harga di Bawah Rp500 Ribuan

Lifestyle | Kamis, 23 April 2026 | 15:38 WIB

Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian

Lipstik Merek Apa yang Tahan Lama? 5 Produk Lokal Ini Anti Luntur Seharian

Lifestyle | Kamis, 23 April 2026 | 15:30 WIB

Gaya Hidup Hijau Tak Cukup: Mengapa Aksi Individu Tak Bisa Selamatkan Iklim

Gaya Hidup Hijau Tak Cukup: Mengapa Aksi Individu Tak Bisa Selamatkan Iklim

Lifestyle | Kamis, 23 April 2026 | 15:24 WIB

Siapa Rudy Mas'ud sebelum Jadi Gubernur? 3 Kebijakan Kontroversial Bikin Heran

Siapa Rudy Mas'ud sebelum Jadi Gubernur? 3 Kebijakan Kontroversial Bikin Heran

Lifestyle | Kamis, 23 April 2026 | 15:10 WIB

Viral Aksi Penumpang Masak Mie Pakai Kompor Listrik di Kereta, Begini Tanggapan KAI

Viral Aksi Penumpang Masak Mie Pakai Kompor Listrik di Kereta, Begini Tanggapan KAI

Lifestyle | Kamis, 23 April 2026 | 15:05 WIB

Cream Malam Penghilang Flek Hitam yang Bagus Apa? Ini 7 Rekomendasinya

Cream Malam Penghilang Flek Hitam yang Bagus Apa? Ini 7 Rekomendasinya

Lifestyle | Kamis, 23 April 2026 | 14:57 WIB

Demo Kaltim Dipicu Apa? Ini Fakta Aksi Besar Ribuan Warga 21 April 2026

Demo Kaltim Dipicu Apa? Ini Fakta Aksi Besar Ribuan Warga 21 April 2026

Lifestyle | Kamis, 23 April 2026 | 14:42 WIB