Suara.com - Dalam dua dekade terakhir, industri fast fashion menjadi sektor yang sangat besar dan berkembang pesat. Data menunjukkan bahwa jumlah pakaian baru yang diproduksi setiap tahunnya hampir meningkat dua kali lipat, seiring dengan konsumsi fesyen global sebesar 400%.
Model bisnis fast fashion kini beroperasi dengan mengandalkan kecepatan produksi untuk mengikuti tren pasar. Sebagai ilustrasi skala operasional, perusahaan besar seperti Shein diperkirakan mengunggah sekitar 1.000 model pakaian baru ke platform mereka setiap harinya.
Dengan rata-rata jumlah pakaian yang diproduksi berkisar antara 50 hingga 100 potong untuk setiap model, estimasi jumlah pakaian baru yang dihasilkan mencapai minimal 50.000 unit dalam satu hari.
Dampak Terhadap Lingkungan
Proses produksi pakaian berskala masif ini menghasilkan limbah di setiap tahap manufakturnya. Industri fesyen cepat saji tercatat sebagai kontributor signifikan terhadap krisis iklim. Mereka menyumbang hingga 10% dari total emisi karbon dioksida global.
Secara tidak langsung, industri ini juga harus bertanggung jawab terhadap kerusakan habitat dan lahan. Tekstil berbahan dasar hewan, seperti wol, berkaitan dengan emisi gas rumah kaca, polusi air, hilangnya habitat secara luas akibat deforestasi dan konversi lahan penggembalan.
Selain itu, wol umumnya dicampur dengan serat dari bahan bakar fosil yang dilapisi dengan bahan kimia. Ini dapat menambah beban biaya lingkungan dari produksi dan pembuangan pakaian. Dari pembuangan pakaian, fast fashion dapat menjadi sumber mikroplastik di tengah lautan saat bahan-bahan berbasis plastik murah yang digunakan, melepaskan seratnya ke lautan.
Pola Konsumsi dan Manajemen Limbah
Meskipun terdapat peningkatan permintaan dan konsumsi, data menunjukkan adanya tren di mana masyarakat membeli pakaian dalam jumlah lebih banyak namun intensitas penggunaannya rendah, sehingga kebanyakan orang hanya suka membeli hingga lupa bahwa mereka memiliki pakaian tersebut.
Kualitas produk fast fashion yang cenderung terbatas berkontribusi pada pendeknya masa pakai pakaian. Akibatnya, pakaian-pakaian ini lebih sering berakhir di tempat pembuangan akhir dan mengalami pembusukan lambat, dibuang ke laut/sungai, atau dimusnahkan dengan cara dibakar.
Kondisi Tenaga Kerja
Selain aspek lingkungan, operasional industri fast fashion juga melibatkan struktur tenaga kerja di negara-negara berpenghasilan rendah. Pekerja di sektor manufaktur pakaian, terutama perempuan muda, kini dihadapkan pada kondisi kerja yang berbahaya dengan risiko keselamatan tinggi serta menerima upah yang tidak layak. Eksploitasi ini terjadi demi perusahaan-perusahaan yang ingin mendapatkan keuntungan besar.
Status Keberlanjutan
Walaupun keberlanjutan menjadi isu yang sering diangkat oleh pihak industri maupun konsumen dalam hal fesyen, tapi data menunjukkan bahwa pasar fast fashion terus berkembang. Hingga saat ini, model bisnis yang mengutamakan produksi massal dan kecepatan ini masih beroperasi kian masif dengan skala yang terus meningkat.
Untuk mengubahnya, ini perlu perhatian khusus dari para konsumen dan pemilik industri itu sendiri untuk menggeser narasi dari kemewahan yang melekat pada konsumsi berlebihan menuju fesyen yang menjunjung tinggi keberlanjutan dan keadilan.