Baca Bareng Silent Book Club Jakarta: Ditemani Tanpa Kehilangan Ruang untuk Diri Sendiri

M. Reza Sulaiman

Senin, 27 April 2026 | 20:22 WIB
Baca Bareng Silent Book Club Jakarta: Ditemani Tanpa Kehilangan Ruang untuk Diri Sendiri
Baca bareng Silent Book Club Jakarta di Taman Menteng (26/4/26) (Dok. Pribadi/Vicka Rumanti)

Pada Agustus 2019, Hestia memberanikan diri membuat acara serupa di sebuah kedai kopi di Cikini.

"Dalam pikiranku, aku bukan siapa-siapa. Jadi mungkin cuma 2-3 orang ya sudah nggak apa-apa," tuturnya.

Namun, yang datang justru 10 orang. Sejak saat itu, Baca Bareng Silent Book Club Jakarta terus berjalan secara konsisten, bahkan terdaftar resmi sebagai salah satu chapter yang ada di Amerika.

Bagi Hestia, kata “silent” atau senyap bukan berarti membungkam siapa pun. “Kita hanya membaca saja, berkecamuk di dalam kepala sendiri,” jelas Hestia. Ia ingin menciptakan ruang di mana setiap orang bisa tenggelam dalam bacaan mereka tanpa beban untuk berdiskusi atau harus membedah buku tertentu.

Menemukan Ruang dari Payung Minat yang Sama

Baca bareng Silent Book Club di Taman Menteng (26/4/26) (Dok. Pribadi/Vicka Rumanti)
Baca bareng Silent Book Club Jakarta di Taman Menteng (26/4/26) (Dok. Pribadi/Vicka Rumanti)

Keheningan yang dirajut Hestia ini ternyata memiliki magnet bagi mereka yang selama ini hanya bisa memantau dari balik layar ponsel. Di lokasi baca bareng, saya bertemu dengan Rina, seorang perantau yang akhirnya berhasil mewujudkan keinginannya hadir di pertemuan offline setelah sekian lama mengeja informasi dari Instagram.

"Senang rasanya bisa ikut komunitas yang tidak banyak aturan," ujar Rina saat saya tanyakan kesannya. Baginya, Baca Bareng Silent Book Club Jakarta jadi ruang nyaman yang tidak menuntut beban diskusi berat. Ia lebih menikmati kebebasan untuk membaca apa yang ia suka.

“Masing-masing baca, terus biar kita sendiri yang mengetahui apa isi buku ini. Kalau sudah bosan atau ada kegiatan lain, kita bisa pulang. Tidak perlu duduk melingkar untuk mendiskusikan buku apa kita baca masing-masing,” tambahnya.

Saat itu, ia membawa buku karya psikiater dr. Andreas Kurniawan, Seorang Anak yang Bersembunyi di Balik Topeng Superhero. Kata Rina, bukunya menceritakan bahwa apa yang kita tampilkan kepada orang lain itu belum tentu sesuai dengan yang kita inginkan. Buku dr. Andreas ini kebanyakan tentang cerita-cerita pasiennya, sehingga pembaca bisa ikut mengetahui apa yang dialami oleh pasien. Tak jarang juga relate dengan apa yang terjadi pada pembaca.

baca juga

Bagi Rina, ada perbedaan kualitas yang kontras antara membaca di kamar dengan di Taman Menteng. "Kalau di kamar, suasananya privat, tapi sering bikin mata lelah dan cepat mengantuk. Di sini, ruangnya luas. Saya bisa memandang pepohonan hijau saat mulai kehilangan fokus, lalu kembali lagi ke buku dengan pikiran yang lebih segar," jelasnya.

Tak jauh dari tempat Rina duduk, ada Iva yang juga sedang tenggelam dalam bukunya. Jika Rina baru pertama kali hadir secara langsung, Iva adalah peserta yang sebelumnya sudah pernah menjajal sesi daring via Zoom. Baginya, sesi offline di taman ini memberikan sensasi yang jauh lebih hidup.

"Kalau di rumah, saya sering sekali mengantuk dan akhirnya ketiduran. Tapi di sini, suasananya berbeda," ungkap Iva. Ada semacam “dorongan sosial” ketika melihat orang-orang di sekeliling begitu produktif membaca. Secara otomatis, ini membuat Iva ikut bersemangat. Ia tidak lagi merasa membaca adalah tugas, melainkan sebuah ritual yang menyenangkan. Kehadiran Rina dan Iva adalah potret nyata bagaimana komunitas ini bekerja.

Kenyamanan Walau Tak Saling Kenal

Baca bareng Silent Book Club di Taman Menteng (26/4/26) (Dok. Pribadi/Vicka Rumanti)
Baca bareng Silent Book Club di Taman Menteng (26/4/26) (Dok. Pribadi/Vicka Rumanti)

Keunikan SBC Jakarta memang terletak pada tidak adanya aturan yang mengikat. Namun, untuk yang satu ini tidak bisa dibiarkan:

“Kak, jangan merokok, ya. Kalau merokok di luar taman. Di sini bukan tempatnya,” tegur Hestia sopan.

“Iya kak, maaf kak,” sahut pemain futsal spontan. Ia segera menekan puntung rokok yang baru ia nyalakan hingga baranya tak lagi mampu berbicara.

Saya yang melihat hal itu pun tersenyum. Ada semacam kesadaran kolektif yang tak terucap. Sebuah rasa saling memiliki terhadap ruang publik yang semakin jarang saya temui di pusat kota. Kesadaran itu juga tercermin dari cara mereka menikmati waktu: membawa tumbler air minum, kotak makanan berisi keripik atau sosis yang mereka suka, hingga menjaga area duduk mereka tetap bersih. Ini artinya mereka tidak akan membuang sampah dan menjaga taman tetap bersih sama seperti sebelum mereka datang.

Di sekeliling saya, suasana kian hidup namun tetap hening. Ada yang sedang fokus membaca, tertawa karena terbawa alur cerita, asyik bermain dengan kucing, hingga mereka yang datang berpasangan untuk sekadar melukis atau menikmati suasana.

Hestia sendiri mengakui bahwa tantangan terbesarnya adalah menjaga ruang publik ini tetap bisa diakses gratis. "Aku ingin membuat kegiatan membaca itu untuk siapa pun. Dia mau datang hanya pakai kaos dan sandal jepit, itu tidak apa-apa," tegas Hestia. Ia pun harus berurusan dengan birokrasi perizinan dinas pertamanan dan ketidakpastian cuaca yang sering kali menjadi ujian.

Lebih dari Sekadar Membaca

Kegiatan pagi itu makin terasa hidup saat saya bertemu dengan rekan jurnalis dari kantor berita lain yang sedang meliput. Kami sempat bertukar sapa di tengah keramaian pengunjung. Kehadiran berbagai pihak di sini membuktikan bahwa literasi kini bukan lagi kegiatan yang membosankan.

Hestia berharap, semakin banyak lingkaran literasi seperti ini yang muncul di sekolah maupun kampus. "Aku pengen orang sadar bahwa membaca itu salah satu cara kita dapat hiburan. Jadi, mendapatkan hiburan itu nggak hanya dari menonton film atau konser, tapi juga lewat membaca," pungkasnya.

Melihat mereka semua: orang-orang asing yang duduk berdekatan, saling menjaga ketenangan, dan berbagi ruang yang sama, saya tersadar bahwa komunitas ini sebenarnya bukan hanya soal buku. Ini tentang bagaimana kita menemukan kembali koneksi dengan sesama di tengah kota yang sering kali terasa hampa.

Seperti nenek dan bapak di bus tadi yang saling menyapa, atau para pembaca di taman yang saling menghormati ruang diam, ternyata kehangatan itu memang ada. Kita hanya perlu berani melangkah keluar, menaiki transportasi umum, dan mencari di mana ruang itu berada.

Saat saya kembali melangkah menuju halte untuk pulang, Jakarta tidak lagi terasa sama. Semua pertemuan singkat ini meyakinkan saya bahwa Jakarta tidak sekeras yang kita bayangkan. Kita hanya perlu berani keluar, menikmati proses, dan mulai mencari ruang untuk saling terhubung.

Jika Anda ingin mendapatkan informasi baca bareng selanjutnya, Anda bisa terus pantau @bacabareng.scb melalui laman Instagramnya. Mari tumbuhkan literasi dan mencari ruang untuk eksplorasi diri!

(Reporter: Vicka Rumanti)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Bukan Sekadar Membaca: Wajah Nyata Krisis Literasi Modern

Bukan Sekadar Membaca: Wajah Nyata Krisis Literasi Modern

Your Say | Kamis, 23 April 2026 | 17:31 WIB

Gen Z Ternyata Penyelamat Literasi? Membongkar Paradoks di Balik Tren Membaca Saat Ini

Gen Z Ternyata Penyelamat Literasi? Membongkar Paradoks di Balik Tren Membaca Saat Ini

Your Say | Kamis, 23 April 2026 | 16:37 WIB

E-Reader atau Tablet: Mana yang Lebih Baik untuk Membaca di Tahun 2026?

E-Reader atau Tablet: Mana yang Lebih Baik untuk Membaca di Tahun 2026?

Your Say | Kamis, 23 April 2026 | 13:53 WIB

Saya Masih Suka Membaca, Algoritmanya Saja yang Tidak Mengizinkan

Saya Masih Suka Membaca, Algoritmanya Saja yang Tidak Mengizinkan

Your Say | Senin, 20 April 2026 | 16:26 WIB

Tidak Ada Kampus yang Sempurna! Membaca Catatan Hati Seorang Mahasiswa

Tidak Ada Kampus yang Sempurna! Membaca Catatan Hati Seorang Mahasiswa

Your Say | Jum'at, 17 April 2026 | 15:00 WIB

Menembus Batas Diri Sendiri: Membaca Unlimited You Karya Wirda Mansur

Menembus Batas Diri Sendiri: Membaca Unlimited You Karya Wirda Mansur

Your Say | Rabu, 15 April 2026 | 13:00 WIB

Terkini

Donald Trump Klaim AS Punya Cukup Amunisi untuk Habisi Iran tapi...

Donald Trump Klaim AS Punya Cukup Amunisi untuk Habisi Iran tapi...

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:50 WIB

Tipu Pengelola SPPG, Oknum ASN Lampung Timur Masuk Bui

Tipu Pengelola SPPG, Oknum ASN Lampung Timur Masuk Bui

Lampung | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:45 WIB

Prancis Samakan AS dengan Korut, Anak Buah Trump Walk Out dari Sidang DK PBB

Prancis Samakan AS dengan Korut, Anak Buah Trump Walk Out dari Sidang DK PBB

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:43 WIB

Apa Itu Makeup Vegan? Ini Penjelasan dan Rekomendasi dari Merek Lokal

Apa Itu Makeup Vegan? Ini Penjelasan dan Rekomendasi dari Merek Lokal

Lifestyle | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:42 WIB

Naik Transum, Aku Belajar Jatuh Cinta dengan Jakarta

Naik Transum, Aku Belajar Jatuh Cinta dengan Jakarta

Your Say | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:38 WIB

Rupiah Hari Ini Anjlok ke Rp18.063 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah di Asia

Rupiah Hari Ini Anjlok ke Rp18.063 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah di Asia

Bisnis | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:37 WIB

Dari Motor ke KRL: Langkah Kecil Anak Rantau untuk Bumi yang Lebih Baik

Dari Motor ke KRL: Langkah Kecil Anak Rantau untuk Bumi yang Lebih Baik

Your Say | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:36 WIB

Paham Prosedur TPPU, Eks Jampidsus Febrie Tanya Kejagung: Apa Tindak Pidana Asal Kasus Saya?

Paham Prosedur TPPU, Eks Jampidsus Febrie Tanya Kejagung: Apa Tindak Pidana Asal Kasus Saya?

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:34 WIB

KPK Periksa Plt Gubri SF Hariyanto Terkait Temuan Uang di Rumah Dinasnya

KPK Periksa Plt Gubri SF Hariyanto Terkait Temuan Uang di Rumah Dinasnya

Riau | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:34 WIB

Hattrick Lawan Kamboja, Mitchell Baker Ungkap Peran Besar Orang di Balik Layar

Hattrick Lawan Kamboja, Mitchell Baker Ungkap Peran Besar Orang di Balik Layar

Bola | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:34 WIB

×