Suara.com - Kecelakaan kereta terjadi di wilayah Bekasi Timur, Jawa Barat, pada hari Senin malam, 27 April 2026, sekitar pukul 20.50 WIB. Peristiwa tersebut melibatkan kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur.
Beberapa waktu yang lalu, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI pernah menjelaskan alasan yang menyebabkan kereta api tidak dapat berhenti mendadak.
Seiring dengan alasan ini, PT Kereta Api Indonesia juga menjelaskan simulasi jarak yang dibutuhkan lokomotif untuk berhenti.
![KRL yang alami tabrakan dengan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, insiden ini menyebabkan 6 penumpang tewas dan 240 orang luka-luka. [Dokumentasi Kemenhub].](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/04/28/35311-kereta-api-tabrakan-kereta-api.jpg)
Kenapa Kereta Api Tidak Bisa Berhenti Mendadak?
1. Panjang dan Bobot Kereta yang Besar
Kereta api tidak bisa menghentikan dirinya dengan tiba-tiba karena ukuran dan beratnya yang cukup besar. Semakin banyak dan berat kereta api yang bergerak beruntun, maka jarak yang dibutuhkan agar bisa berhenti menjadi semakin besar.
Di Indonesia, biasanya 1 rangkaian kereta penumpang terdiri dari 8 hingga 12 gerbong dengan berat mencapai 600 ton, belum termasuk penumpang dan barang yang dibawa. Dengan kondisi seperti itu, diperlukan energi yang besar agar rangkaian kereta api dapat berhenti.
2. Sistem Pangereman Kereta Api
Selain itu, sistem pengereman yang digunakan kereta api saat ini menggunakan jenis rem berbasis udara. Cara kerjanya adalah dengan mengompresi udara lalu menyimpannya sampai proses pengereman dilakukan.
Meski kereta api sudah dilengkapi dengan rem darurat, rem tersebut tetap tidak bisa menghentikan kereta secara mendadak. Rem ini membuat energi dan tekanan udara bertambah, sehingga kereta bisa dihentikan dengan lebih cepat.
Setelah itu, jika kereta api melakukan pengereman mendadak, terdapat risiko bahaya yang bisa terjadi. Karenanya, sistem rem berbasis tekanan udara menghubungkan rem pada rodanya dengan piston dan rangkaian silinder.
3. Kecepatan Kereta yang Tinggi
Kereta api umumnya berjalan dengan cepat, terutama di jalur antar kota yang memiliki rel lurus dan hambatan sedikit. Kecepatan ini memungkinkan kereta menempuh jarak yang jauh dalam waktu yang singkat, sehingga menjadi pilihan yang efisien bagi banyak penumpang.
Namun, kecepatan yang tinggi membuat kereta memiliki momentum besar yang sulit dihentikan secara mendadak. Karena kecepatannya yang cepat, kereta membutuhkan jarak rem yang lebih panjang agar dapat berhenti dengan aman.
Rem harus ditekan secara perlahan agar kecepatan turun bertahap tanpa menyebabkan hentakan yang keras. Jika pengereman dilakukan secara mendadak, risiko tergelincir atau kecelakaan kereta akan meningkat.
4. Jalur Rel yang Terbatas dan Kaku
Kereta api hanya dapat bergerak di atas rel yang sudah ditentukan, sehingga tidak bisa berbelok atau bergerak bebas seperti mobil di jalan raya. Rel memiliki arah yang tetap dan jalur yang lurus, sehingga tidak memungkinkan belokan tajam atau perubahan arah secara mendadak.
Oleh karena itu, setiap gerakan kereta harus direncanakan secara tepat, termasuk ketika mengurangi atau menghentikan kecepatannya. Jika kereta dihentikan tiba-tiba, dorongan dan tekanan dari setiap gerbong bisa membuat kereta terlepas dari rel.
Ini sangat berbahaya, terlebih saat kereta berjalan dengan kecepatan tinggi. Jalur rel yang terbatas juga membatasi ruang untuk melakukan koreksi kesalahan secara menyeluruh.
5. Faktor Mekanik dan Teknis
Pengereman mendadak yang sering terjadi bisa merusak bagian-bagian mesin kereta. Ban dan sistem rem akan lebih cepat rusak jika sering digunakan untuk berhenti mendadak.
Selain itu, rem yang terlalu panas bisa kehilangan efektivitasnya. Kerusakan ini bisa mengancam keselamatan perjalanan kereta. Tidak hanya itu, pengereman mendadak juga berdampak pada rel kereta.
Gesekan keras dapat merusak permukaan rel dan menyebabkan deformasi. Jika rel rusak, risiko kecelakaan akan meningkat. Oleh karena itu, pengereman harus dilakukan dengan cara yang benar dan bertahap.
Kontributor : Rizky Melinda