Fenomena ini sering kali membuat cadangan air tanah menyusut lebih cepat daripada kemarau tahunan.
Cakupan wilayah dan skala dampak
Kemarau biasa mungkin hanya memberikan dampak lokal atau regional yang dapat diprediksi oleh petani setempat.
Namun, El Nino memiliki dampak sistemik yang mencakup wilayah yang sangat luas, bahkan lintas benua.
Adapun di Indonesia, dampak El Nino sering kali merata dari ujung barat hingga timur,.
Dampak tersebut menyebabkan penurunan debit air di bendungan-bendungan besar secara drastis.
Skala dampaknya tidak hanya terbatas pada sulitnya mendapatkan air bersih, tetapi juga mengganggu stabilitas ekosistem laut.
Fenomena ini menyebabkan pemutihan terumbu karang (coral bleaching) karena suhu laut yang terlalu hangat.
Coral bleaching tersebut adalah sesuatu yang jarang terjadi pada musim kemarau biasa yang normal.
Risiko kebakaran dan ketahanan pangan
Perbedaan yang paling krusial terletak pada risiko bencana turunannya.
Pada musim kemarau biasa, risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap ada namun lebih terkendali.
Saat El Nino, vegetasi menjadi sangat kering dan mudah terbakar (bagaikan bahan bakar siap sulut), yang memicu kebakaran hebat dengan kabut asap lintas batas negara.
Lalu ari sisi pangan, El Nino sering kali menyebabkan gagal panen masal (puso) karena pola tanam yang terganggu secara total.
Hal ini berdampak pada melonjaknya harga pangan nasional.