- Navaswara menggelar festival storytelling Suara Nusantara di Pendopo Gubernur Banten pada Minggu, 17 Mei 2026 mendatang.
- Sebanyak 500 peserta dari berbagai kategori berkompetisi untuk melestarikan budaya tutur serta menanamkan nilai moral bangsa.
- Kegiatan ini bertujuan melatih kepercayaan diri generasi muda sekaligus mendorong pertumbuhan sektor ekonomi kreatif dan pariwisata daerah.
Suara.com - Menghidupkan kembali cerita rakyat bukan sekadar menjaga kisah lama agar tetap dikenang. Di tengah derasnya arus digital dan budaya populer global, cerita rakyat menjadi sarana penting untuk menanamkan nilai moral, memperkuat identitas budaya, hingga melatih kemampuan komunikasi generasi muda.
Melalui tradisi bertutur, anak-anak dan masyarakat diajak memahami akar budaya bangsa sekaligus belajar menyampaikan gagasan dengan percaya diri dan kreatif.
Semangat itulah yang dihidupkan kembali oleh Navaswara melalui Festival Storytelling Cerita Rakyat Suara Nusantara Banten 2026. Setelah sukses menggelar edisi perdana di Jakarta pada November 2025, festival ini kembali hadir dengan membawa misi pelestarian budaya ke Provinsi Banten.
Babak final Suara Nusantara Banten 2026 digelar di Pendopo Gubernur Banten, Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten (KP3B), Kota Serang, Minggu (17/5/2026).
Mengusung tema “Menghidupkan Legenda Banten, Menginspirasi Masa Depan”, festival tersebut diikuti sekitar 500 peserta mulai dari tingkat sekolah dasar hingga kategori umum.
Ketua panitia pelaksana Suara Nusantara sekaligus Managing Director Navaswara, Cahaya Manthovani menjelaskan bahwa pemilihan Banten sebagai kota kedua penyelenggaraan bukan tanpa alasan.
Selain memiliki kedekatan geografis dengan Jakarta, Banten juga dinilai memiliki potensi besar dalam pengembangan budaya tutur.
“Secara bisnis, Banten adalah daerah yang paling logis untuk menjadi lokasi kedua karena letaknya dekat dengan Jakarta. Melalui Suara Nusantara, saya justru melihat potensi luar biasa dari anak-anak hingga peserta umum di provinsi ini,” ujar Cahaya.
Ia mengaku terkesan dengan antusiasme para peserta yang tampil penuh percaya diri dan serius mempersiapkan penampilan mereka. Tidak hanya menguasai materi cerita, para peserta juga memperhatikan intonasi, ekspresi, gesture, hingga kostum dan properti pendukung.
“Saya justru belajar banyak dari anak-anak yang tampil. Mereka mampu menghafal cerita selama tiga hingga tujuh menit, mengatur ekspresi, dan menarik perhatian audiens. Itu bukan hal yang mudah,” katanya.
Menurut Cahaya, storytelling memiliki manfaat yang jauh lebih besar dibanding sekadar hiburan. Kegiatan mendongeng dinilai mampu melatih kemampuan membaca, memahami isi cerita, hingga meningkatkan kepercayaan diri seseorang saat berbicara di depan publik.
“Mendongeng sangat penting, bukan hanya untuk anak-anak, tetapi untuk semua usia. Kegiatan ini melatih kita membaca, memahami, menghafal, dan menyampaikan cerita dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Semakin sering berlatih, semakin percaya diri, dan manfaatnya bisa langsung dirasakan,” ujarnya.
Apresiasi terhadap festival tersebut juga datang dari Andra Soni. Menurutnya, storytelling menjadi media efektif untuk menanamkan nilai moral dan membangun karakter generasi muda.
“Budaya tutur adalah akar dari jati diri masyarakat Banten. Melalui Festival Suara Nusantara ini, kita tidak hanya mendengarkan cerita masa lalu, tetapi sedang menanamkan nilai-nilai moral dan etika kepada calon pemimpin masa depan,” ujar Andra Soni.
Ia juga menilai festival budaya seperti ini memberikan dampak positif terhadap sektor ekonomi kreatif dan pariwisata daerah. Tingginya partisipasi masyarakat disebut mampu menggerakkan UMKM dan aktivitas ekonomi lokal.
“Partisipasi masyarakat sangat tinggi. Kegiatan seperti ini bukan hanya melestarikan budaya, tetapi juga mampu menggerakkan UMKM dan ekonomi lokal,” katanya.
Cahaya turut menyampaikan apresiasi atas dukungan Pemerintah Provinsi Banten terhadap penyelenggaraan festival tersebut.
“Alhamdulillah, kami sangat mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Banten. Tanpa dukungan tersebut, acara ini tidak mungkin dapat terselenggara dengan baik,” kata Cahaya.
Festival Suara Nusantara sendiri dirancang sebagai gerakan literasi budaya yang akan menjangkau berbagai daerah di Indonesia. Setelah Banten, Navaswara telah menetapkan Jawa Barat sebagai lokasi berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026.
“Suara Nusantara pasti akan menjadi agenda rutin. Setelah Banten, kami akan melanjutkan ke Jawa Barat. Kami juga terbuka terhadap masukan dari masyarakat mengenai daerah-daerah lain yang ingin menjadi tuan rumah berikutnya,” jelas Cahaya.
Festival ini terbagi dalam empat kategori, yakni Benih Nusantara untuk tingkat SD/MI, Tunas Nusantara untuk SMP/MTs, Kuntum Nusantara untuk SMA/SMK, serta Ranting Nusantara bagi mahasiswa dan peserta umum.
Suara Nusantara diharapkan terus berkembang menjadi gerakan nasional yang menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap cerita rakyat dan warisan budaya Indonesia.
“Cerita rakyat bukan sekadar kisah masa lalu. Di dalamnya terdapat nilai moral, keberanian, dan identitas bangsa. Tugas kita adalah memastikan warisan ini tetap hidup dan relevan bagi generasi masa depan,” tutup Cahaya.