- Detektif Jubun menyatakan bahwa konflik keluarga yang menjadi konsumsi publik berpotensi memperumit penyelesaian masalah dan memicu spekulasi negatif.
- Orang tua diimbau memprioritaskan kepentingan serta kondisi psikologis anak di atas ego pribadi selama proses penyelesaian konflik.
- Penyelesaian masalah disarankan melalui komunikasi langsung atau mediasi profesional untuk menjaga privasi serta mencegah dampak negatif jangka panjang.
Menurutnya, komunikasi personal memberikan ruang yang lebih besar untuk menemukan titik temu dan mengurangi risiko kesalahpahaman.
"Komunikasi langsung biasanya lebih efektif dibandingkan menyampaikan pesan melalui ruang publik. Jika diperlukan, mediasi keluarga juga dapat menjadi pilihan untuk membantu membangun komunikasi yang lebih konstruktif," jelasnya.
Ia menyebut keterlibatan mediator atau pihak ketiga yang dipercaya bersama dapat membantu menjaga fokus penyelesaian pada substansi masalah, bukan pada opini publik yang berkembang.
Pertimbangkan Dampak Jangka Panjang
Lebih lanjut, Jubun mengingatkan bahwa setiap pernyataan yang disampaikan ke publik berpotensi meninggalkan jejak yang dapat diakses dalam jangka panjang.
Karena itu, semua pihak perlu mempertimbangkan dampak dari setiap ucapan atau tindakan yang dilakukan di ruang publik, terutama terhadap anak-anak yang suatu saat dapat mengetahui berbagai informasi tersebut.
"Setiap pernyataan publik memiliki konsekuensi jangka panjang. Karena itu, penting untuk memikirkan dampaknya, khususnya bagi anak-anak yang menjadi bagian dari keluarga tersebut," katanya.
Menjaga Ketenangan dan Saling Menghormati
Sebagai penutup, Jubun menilai bahwa menjaga ketenangan, sikap saling menghormati, dan fokus pada kepentingan bersama merupakan langkah penting dalam menghadapi konflik pasca perceraian.
Menurutnya, setiap persoalan keluarga memiliki peluang untuk diselesaikan secara baik apabila para pihak mengedepankan komunikasi yang sehat dan mengutamakan kepentingan anak.
"Pada akhirnya, yang paling penting adalah menjaga ketenangan, saling menghormati, dan memastikan kepentingan anak tetap menjadi prioritas utama dalam setiap proses penyelesaian konflik," tutupnya.