Mencari Ruang Jeda di Tengah Ketidakpastian Global: Mengapa Sanctuary Jadi Tren Liburan Masa Depan?

M. Reza Sulaiman

Kamis, 11 Juni 2026 | 20:31 WIB
Mencari Ruang Jeda di Tengah Ketidakpastian Global: Mengapa Sanctuary Jadi Tren Liburan Masa Depan?
Destinasi Wisata Sanctuary jadi incaran. (Dok. KEK Tanjung Lesung)
baca 10 detik
  • Tren wisata bergeser menuju mindful travel yang mengutamakan ketenangan untuk memulihkan kesehatan mental akibat tekanan gaya hidup modern.
  • Pakar mengusulkan destinasi sanctuary ideal untuk fokus pada restorasi lingkungan dan alam.
  • Pengembangan pariwisata masa kini harus mengutamakan kualitas lingkungan sebagai aset berkelanjutan dibandingkan sekadar membangun fasilitas fisik yang masif.

Suara.com - Belakangan ini, tren pariwisata perlahan bergeser dari sekadar sightseeing atau mengunjungi destinasi populer yang padat merayap, menuju konsep mindful travel atau wisata berkesadaran. Wisatawan modern kini lebih mendambakan sebuah sanctuary—sebuah tempat perlindungan yang tenang untuk melepaskan diri sejenak dari rutinitas dan ekspektasi yang memicu stres.

Gaya liburan ini sangat lekat dengan filosofi slow travel. Alih-alih mengejar itinerary yang padat dari satu tempat ke tempat lain, pelancong memilih untuk menetap lebih lama, mempraktikkan detoks digital, dan menikmati ritme alam yang lebih lambat.

Mengunjungi sebuah sanctuary menawarkan manfaat yang jauh lebih mendalam daripada sekadar relaksasi fisik semata. Berbagai riset psikologi lingkungan menunjukkan bahwa menyatu dengan alam—seperti mendengarkan deburan ombak atau melakukan forest bathing (berjalan santai di tengah pepohonan)—dapat menurunkan kadar kortisol atau hormon stres secara signifikan.

Secara mental, berada di ruang yang asri dan tenang sangat efektif untuk menjernihkan pikiran, mengurangi kecemasan, serta memulihkan fokus (restorasi kognitif) yang kerap terkuras habis oleh gaya hidup modern dan hustle culture. Berlibur di sanctuary adalah investasi pada kesehatan mental agar seseorang bisa kembali ke realitas dengan energi dan perspektif yang baru.

Kebutuhan akan ruang jeda yang memulihkan ini terasa makin mendesak di tengah bayang-bayang ketidakpastian global saat ini. Rentetan isu berat mulai dari perlambatan ekonomi, konflik geopolitik, hingga krisis iklim yang makin nyata, membuat banyak orang merasa kehilangan kepastian mengenai masa depan pekerjaan dan kehidupan mereka. Di tengah situasi yang rentan tersebut, pencarian akan sanctuary yang menawarkan rasa aman, kenyamanan, dan kedekatan dengan alam menjadi sebuah keharusan.

Merespons fenomena ini, Dr. (HC) Setyono Djuandi Darmono, Chairman of PATA (Pacific Asia Travel Association) Indonesia Chapter, menyoroti bahwa Indonesia menyimpan banyak kawasan yang berpotensi menjadi sanctuary ideal. Salah satu primadonanya adalah Tanjung Lesung di Pandeglang, Banten.

Sebagai kawasan wisata terintegrasi seluas 1.500 hektare yang lokasinya cukup dekat dari hiruk-pikuk Jakarta, Tanjung Lesung menyajikan paket pemulihan yang lengkap, mulai dari wisata air, darat, udara, hingga wisata budaya.

Pariwisata Berkesadaran: Mengubah Paradigma

Lebih dari sekadar destinasi liburan akhir pekan, kawasan sanctuary mewakili pergeseran cara pandang manusia terhadap pembangunan. "Kalau model pembangunan abad ke-20 sebagian besar didorong dengan pemanfaatan sumber daya (alam), model pembangunan abad ke-21 ditentukan oleh kemampuan kita melakukan restorasi, termasuk restorasi lingkungan," jelas SD Darmono di Jakarta baru-baru ini.

baca juga

Dalam kacamata baru ini, alam yang sehat tidak lagi dianggap sebagai hambatan bagi pembangunan, melainkan aset penting bagi masa depan. Keberhasilan sebuah destinasi tidak lagi diukur dari seberapa banyak bangunan atau fasilitas megah yang didirikan, melainkan dari seberapa baik kualitas lingkungan tersebut dipertahankan.

Pantai yang bersih, terumbu karang yang sehat, hutan yang terjaga, dan budaya lokal yang hidup justru menjadi daya tarik utama bagi wisatawan saat ini. "Ketika wisatawan menghargai pantai yang bersih, hutan yang lestari, terumbu karang yang sehat, dan budaya lokal yang hidup, maka ekonomi akan memberikan insentif untuk menjaga semuanya," ujar SD Darmono.

Pendekatan ini menyadarkan kita bahwa pariwisata yang dikelola dengan baik bukan lagi industri yang sekadar mengonsumsi, melainkan kekuatan konservasi dan instrumen untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan budaya.

Tumbuh Bersama Alam

Tanjung Lesung memiliki peluang unik karena kawasan ini berkembang tepat di saat dunia sedang mencari model baru pembangunan. Kawasan ini memiliki kesempatan emas untuk menghindari kesalahan yang kerap dilakukan oleh destinasi wisata massal lainnya di dunia. Alih-alih mengejar kuantitas dengan membangun sebanyak mungkin demi mendatangkan wisatawan dalam jumlah masif, pengembangannya dapat dilakukan secara lebih terukur dengan berfokus pada kualitas pengalaman.

Ketimbang menguras sumber daya alam demi keuntungan jangka pendek, Tanjung Lesung bisa menjadikan alam sebagai mitra pembangunan yang setara. “Dengan hadirnya akses Jalan Tol Serang–Panimbang yang segera rampung, Tanjung Lesung tidak hanya menjadi lebih dekat secara geografis. Tanjung Lesung menjadi lebih relevan dengan kebutuhan dunia saat ini,” urai Darmono.

Pada akhirnya, investasi yang memberikan makna terdalam di masa depan bukanlah sekadar yang menghasilkan keuntungan finansial, melainkan yang mampu menciptakan nilai bagi masyarakat dan pelestarian bumi. Kehadiran ruang-ruang sanctuary seperti Tanjung Lesung menghadirkan harapan bahwa di abad ke-21 ini, pembangunan manusia dan konservasi alam sejatinya bisa tumbuh dan berjalan secara beriringan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Menyusuri Al Balad, Kota Tua Jeddah yang Menyimpan Jejak Peradaban Berabad-Abad

Menyusuri Al Balad, Kota Tua Jeddah yang Menyimpan Jejak Peradaban Berabad-Abad

Foto | Selasa, 09 Juni 2026 | 11:00 WIB

Saat Rupiah Kian Tertinggal, Jangan Keliru Membaca Ramainya Wisata Belanja

Saat Rupiah Kian Tertinggal, Jangan Keliru Membaca Ramainya Wisata Belanja

Your Say | Senin, 08 Juni 2026 | 11:00 WIB

Wisata Kuliner Australia Barat: 5 Tempat Makan dan Kedai Kopi Wajib Masuk Itinerary

Wisata Kuliner Australia Barat: 5 Tempat Makan dan Kedai Kopi Wajib Masuk Itinerary

Lifestyle | Jum'at, 05 Juni 2026 | 12:03 WIB

Dongkrak Kunjungan Wisata, FE Watersport Sensasi Baru di Danau Singkarak

Dongkrak Kunjungan Wisata, FE Watersport Sensasi Baru di Danau Singkarak

Your Say | Kamis, 04 Juni 2026 | 10:42 WIB

Rockhills: Rekomendasi Kafe dengan View Ketinggian dari Kota Batu

Rockhills: Rekomendasi Kafe dengan View Ketinggian dari Kota Batu

Your Say | Rabu, 03 Juni 2026 | 12:30 WIB

Di Antara Dingin, Doa, dan Cahaya Subuh Al-Aqsa

Di Antara Dingin, Doa, dan Cahaya Subuh Al-Aqsa

Foto | Minggu, 31 Mei 2026 | 10:00 WIB

Terkini

Piala Presiden 2026: Gol Bunuh Diri Konyol Nodai Debut Shin Tae-yong

Piala Presiden 2026: Gol Bunuh Diri Konyol Nodai Debut Shin Tae-yong

Bola | Minggu, 26 Juli 2026 | 23:54 WIB

ICCS 2026: Dorong Konten Kreator Tak Hanya Berdiskusi, tapi Langsung Berkarya

ICCS 2026: Dorong Konten Kreator Tak Hanya Berdiskusi, tapi Langsung Berkarya

Banten | Minggu, 26 Juli 2026 | 23:38 WIB

Notarace 2026: Gaya Hidup Sehat Menjadi Momen Silaturahmi Ribuan Notaris

Notarace 2026: Gaya Hidup Sehat Menjadi Momen Silaturahmi Ribuan Notaris

Lifestyle | Minggu, 26 Juli 2026 | 23:36 WIB

Rehabilitasi Mangrove Berkelanjutan, 21.060 Bibit Ditanam di Pesisir Jakarta

Rehabilitasi Mangrove Berkelanjutan, 21.060 Bibit Ditanam di Pesisir Jakarta

Jakarta | Minggu, 26 Juli 2026 | 23:31 WIB

Pembalut Kain Makin Dilirik, WCC Palembang Kenalkan Cindo-Pads untuk Menstruasi Sehat

Pembalut Kain Makin Dilirik, WCC Palembang Kenalkan Cindo-Pads untuk Menstruasi Sehat

Sumsel | Minggu, 26 Juli 2026 | 23:28 WIB

Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa

Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa

News | Minggu, 26 Juli 2026 | 23:23 WIB

Dari Parenting hingga Drone, Dua Kreator Ungkap Pesona Pesisir Jakarta

Dari Parenting hingga Drone, Dua Kreator Ungkap Pesona Pesisir Jakarta

Jakarta | Minggu, 26 Juli 2026 | 23:00 WIB

Merawat Nyala Wayang Palembang, Warisan Kesultanan yang Menjadi Ruang Belajar Generasi Muda

Merawat Nyala Wayang Palembang, Warisan Kesultanan yang Menjadi Ruang Belajar Generasi Muda

Sumsel | Minggu, 26 Juli 2026 | 22:52 WIB

Promo Spesial BRI, Makan Enak di Ramen Girl Dapat Potongan Harga!

Promo Spesial BRI, Makan Enak di Ramen Girl Dapat Potongan Harga!

Bri | Minggu, 26 Juli 2026 | 22:30 WIB

Usut Bentrokan Menteng, Polisi Dalami Peran 15 Orang yang Diamankan

Usut Bentrokan Menteng, Polisi Dalami Peran 15 Orang yang Diamankan

News | Minggu, 26 Juli 2026 | 22:28 WIB

×