Suara.com - Tumpukan pakaian yang cepat dibeli lalu cepat dibuang sering dianggap sebagai persoalan baru di era modern. Namun, menurut sejumlah peneliti, kritik terhadap budaya produksi dan konsumsi tekstil sebenarnya sudah muncul sejak lebih dari satu abad lalu.
Kesadaran itu yang coba dibawa ke ruang kelas di Kampus Augustana, Universitas Alberta, Kanada.
Melalui metode pembelajaran yang tidak biasa, mahasiswa diajak membuat karpet dari kain perca—menggunakan sprei usang dan potongan kain bekas—untuk memahami hubungan antara sejarah industri tekstil dan krisis limbah yang terjadi saat ini.
Pendekatan tersebut dikembangkan oleh profesor sejarah seni sekaligus wakil dekan penelitian Augustana, Andrea Korda, dan menjadi bagian dari riset yang dipublikasikan dalam jurnal History.
Alih-alih mempelajari sejarah hanya lewat buku, mahasiswa diminta mengalami langsung proses membuat, menyusun ulang, dan menggunakan kembali material yang sebelumnya dianggap tidak lagi bernilai.
Menurut Korda, pengalaman itu membantu mahasiswa melihat bahwa persoalan konsumsi berlebih dan pemborosan bukanlah fenomena yang muncul tiba-tiba.
Ketika Produksi Massal Mengubah Cara Manusia Menggunakan Pakaian
Dalam proses pembelajaran, mahasiswa diajak menelusuri perubahan besar yang terjadi pada era Victoria abad ke-19 saat Revolusi Industri berlangsung di Inggris.
Perkembangan teknologi saat itu memungkinkan produksi tekstil dilakukan dalam jumlah besar dan lebih cepat. Namun di balik efisiensi tersebut, muncul konsekuensi sosial dan lingkungan yang mulai dipertanyakan sejak masa itu.
Mahasiswa mempelajari bagaimana mekanisasi produksi mengubah hubungan manusia dengan barang—dari sesuatu yang dibuat untuk dipakai lebih lama menjadi produk yang semakin mudah diproduksi dan diganti.
Sebagai respons terhadap perubahan tersebut, muncul gerakan British Arts and Crafts movement yang mendorong masyarakat kembali menghargai pengerjaan tangan dan menolak logika produksi massal.
Bagi Korda, perdebatan itu terasa dekat dengan situasi saat ini.
Ketika Sejarah Menjelaskan Fast Fashion Hari Ini
Melalui aktivitas sederhana seperti membuat karpet kain perca, mahasiswa kemudian menghubungkan pengalaman historis tersebut dengan persoalan kontemporer, termasuk penumpukan limbah tekstil dan tren fast fashion.
Budaya konsumsi yang mendorong pembelian pakaian murah dan cepat berganti dinilai memperbesar jumlah limbah sekaligus meningkatkan tekanan terhadap lingkungan.
Menurut Korda, tekstil menjadi isu yang dekat dengan semua orang karena pakaian merupakan kebutuhan sehari-hari.
“Saya ingin mereka tahu bahwa orang-orang telah membicarakan masalah ini selama lebih dari seratus tahun, dan ini adalah masalah yang terus berlanjut. Kita bukanlah yang pertama bergulat dengan masalah ini, dan selalu ada tanggapan kritis terhadapnya,” ujarnya.
Ia juga melihat meningkatnya minat generasi muda terhadap aktivitas seperti memperbaiki pakaian, merajut, hingga membeli pakaian bekas sebagai bentuk respons terhadap budaya konsumsi yang semakin cepat.
Menurutnya, praktik-praktik tersebut menunjukkan keinginan untuk kembali pada cara menggunakan barang yang lebih panjang umur.
“Saya rasa mereka ingin kembali ke masa ketika Anda tidak membuang barang, tetapi menyimpannya dan menemukan cara untuk menggunakannya kembali. Mereka ingin membuat barang sendiri,” tambahnya.
Untuk memperluas pendekatan tersebut, Korda dan tim penelitinya mengembangkan platform Crafting Communities yang menyediakan materi pembelajaran dan sumber belajar tentang budaya material era Victoria.
Penulis: Vicka Rumanti