"Kalau dihitung secara kuantitatif, yang paling sering tentu kompetisi cosplay, lalu idol performance, gathering, dan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pengembangan budaya Jepang," katanya.
Di antara seluruh program, nobar menjadi salah satu kegiatan dengan antusiasme tertinggi. Menurut Tri, kegiatan tersebut menjadi pintu masuk yang efektif bagi para penggemar anime untuk saling mengenal karena memiliki minat yang sama.
"Kita juga buat program nonton bareng karena peminatnya memang sudah ada. Jadi ketika kita bikin nobar, mereka langsung tahu dan antusias," ujarnya.
Bagi Tri, pencapaian terbesar Wibufest bukanlah jumlah peserta yang hadir dalam sebuah acara, melainkan perubahan yang dialami para anggotanya.
"Yang paling memorable itu ketika ada teman wibu yang minggu lalu datang ke event sendirian, lalu minggu berikutnya datang bareng sama kita dan sudah jadi member. Jadi terasa kalau fungsi Wibufest itu benar-benar berjalan," tuturnya.
Selain itu, ia juga mengingat salah satu acara yang menghadirkan sejumlah kreator konten terkenal, seperti Bang Winda dan Lutfi Halimawan.
"Kalau untuk event, yang paling memorable ketika kami berhasil menghadirkan kreator-kreator seperti Bang Winda dan Bang Lutfi Halimawan di acara Wibufest," ucap Tri.
Menjaga Komunitas Tetap Aman dan Inklusif
Meski mengusung konsep inklusif, Wibufest tetap menerapkan sejumlah mekanisme untuk menjaga kenyamanan para anggotanya. Tri menegaskan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk bergabung, tetapi setiap anggota juga bertanggung jawab menjaga lingkungan komunitas tetap sehat.
"Saya percaya setiap orang berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk membuktikan bahwa dirinya layak diterima, layak dipercaya, dan layak ditemani. Tapi kalau dia membuat persoalan di Wibufest, tentu harus dipantau," jelasnya.
Selain melakukan pendampingan, Wibufest juga secara berkala melakukan proses screening terhadap anggota yang dinilai mengganggu kenyamanan komunitas.
"Kalau ada satu orang yang membuat setengah isi grup membahas persoalan dia, tentu kami punya kewajiban untuk menangani itu. Kami juga melihat motivasi seseorang bergabung. Kalau tidak sesuai dengan nilai-nilai yang kami pegang, biasanya kami beri peringatan terlebih dahulu. Kalau masih berulah, baru kami tindak," kata Tri.
Menurutnya, langkah tersebut bukan untuk membatasi siapa yang boleh bergabung, melainkan memastikan Wibufest tetap menjadi ruang yang aman, nyaman, dan suportif bagi seluruh anggotanya.
Ke depannya, Wibufest berharap komunitas budaya Jepang di Indonesia semakin berkembang melalui semangat kolaborasi, bukan persaingan.
"Harapan kami komunitas jejepangan di Indonesia semakin solid, saling mendukung, dan lebih banyak berkolaborasi daripada berkompetisi. Kami percaya komunitas, kreator, media, dan penyelenggara event budaya Jepang akan terus berkembang dan memberikan manfaat bagi banyak orang," pungkas Tri.
Penulis: Natasha Suhendra