Suara.com - Saat suhu udara terus meningkat akibat perubahan iklim, penggunaan pendingin ruangan atau air conditioner (AC) ikut melonjak. Namun, menurut para peneliti, solusi tersebut justru dapat memperburuk persoalan yang ingin diatasi.
Penggunaan AC dalam jumlah besar meningkatkan konsumsi listrik dan berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca. Di kawasan perkotaan, panas yang dilepaskan dari sistem pendingin juga dapat memperparah fenomena pulau panas (urban heat island), yaitu kondisi ketika suhu kota lebih tinggi dibanding wilayah sekitarnya.
Karena itu, para ilmuwan mendorong penggunaan teknologi pendinginan pasif (passive cooling) sebagai langkah pertama untuk menjaga bangunan tetap sejuk tanpa bergantung pada listrik.
Bangunan dibuat tetap sejuk tanpa AC
![Ilustrasi AC. [Unsplash/Kien Nguyen]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/04/25/98122-ilustrasi-ac.jpg)
Dalam ulasan ilmiah yang diterbitkan di Nature Reviews Clean Technology, para peneliti menyebut teknologi pendinginan pasif berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir.
Teknologi tersebut mencakup penggunaan material yang memantulkan panas matahari, sistem pendinginan radiatif dan evaporatif, ventilasi pintar, hingga desain bangunan yang mampu membuang panas secara alami tanpa menggunakan energi listrik.
Profesor Mat Santamouris dari UNSW Sydney mengatakan strategi terbaik bukanlah langsung menyalakan AC, melainkan mencegah panas masuk ke dalam bangunan sejak awal.
"Strategi pendinginan terbaik adalah menghentikan panas yang tidak diinginkan masuk ke dalam bangunan, misalnya melalui peneduh, material reflektif, ventilasi yang lebih pintar, dan material pendingin baru yang mampu menurunkan suhu tanpa perlu menyalakan AC," ujarnya.
Konsumsi AC diperkirakan terus meningkat
Kebutuhan pendingin ruangan diperkirakan akan terus bertambah seiring meningkatnya suhu global.
Peneliti memperkirakan jumlah AC yang digunakan di seluruh dunia dapat mencapai sekitar 5,6 miliar unit pada 2050. Saat ini saja, konsumsi listrik untuk pendingin ruangan telah menyumbang hampir 10 persen dari penggunaan listrik global.
Kondisi tersebut dikhawatirkan semakin membebani sistem kelistrikan, terutama ketika gelombang panas terjadi dan penggunaan AC meningkat secara bersamaan.
Bisa mengurangi kebutuhan AC hingga 80 persen
Profesor Santamouris bersama Dr. Konstantina Vasilakopoulou dari RMIT menilai pendinginan pasif tidak dimaksudkan untuk menggantikan AC sepenuhnya.
Sebaliknya, teknologi ini sebaiknya menjadi lapisan pertahanan pertama, sementara AC digunakan ketika benar-benar diperlukan.