- Perubahan dunia kerja akibat kecerdasan buatan menuntut anak memiliki keterampilan adaptif dan kreativitas tinggi sejak usia dini.
- Anak-anak butuh fondasi yang lebih mendasar, yaitu kecintaan pada proses belajar itu sendiri.
- Tantangan di Indonesia sendiri terasa cukup nyata. Mengacu pada penilaian PISA 2022 yang dikutip oleh UNICEF Indonesia, rupanya baru 26% siswa berusia 15 tahun di tanah air yang mampu menunjukkan keterampilan pemikiran kreatif dasar.
Program ini baru saja diluncurkan secara publik bersamaan dengan pembukaan center ke-12 Gentem di Living World Kota Wisata, Cibubur, yang juga diisi dengan diskusi talk show inspiratif tentang pendidikan anak.
Dalam kesempatan tersebut, Kish Gill selaku CEO & Founder Gentem Lifelong Learning Group menyampaikan filosofi mendalam di balik visi mereka:
“Setiap brand yang kami bangun berangkat dari satu nilai yang sama: pembelajaran tidak pernah berhenti, dan mereka yang memiliki mindset tersebut adalah mereka yang akan terus berkembang. Genstarkids adalah upaya kami untuk membantu anak usia 2,5–12 tahun mencintai proses belajar itu sendiri, sehingga rasa ingin tahu, kreativitas, dan dorongan untuk terus bertumbuh hadir secara natural. Fondasi inilah yang akan menopang kesuksesan mereka di masa depan, baik secara akademis maupun saat kelak memasuki dunia kerja.”
Pendekatan yang mengutamakan proses eksplorasi anak ini turut mendapat dukungan penuh dari Pritta Tyas, Founder Sekolah Bumi Nusantara Montessori:
“Yang menarik perhatian saya dari Genstarkids adalah bagaimana program ini benar-benar dibangun di sekitar anak, bukan sekadar seputar hasil. Komunikasi, karakter, dan pertumbuhan kognitif adalah fondasi yang tepat bagi generasi berikutnya, dan saya percaya pada misi ini dalam jangka panjang. Saya bangga dapat mendukung Genstarkids dan membawa keyakinan Lifelong Learning ini kepada keluarga-keluarga di seluruh Indonesia.”