Suara.com - Kopi menjadi salah satu komoditas pertanian yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Meningkatnya permintaan global membuka peluang ekonomi bagi negara-negara penghasil kopi.
Namun, di balik peluang tersebut, muncul tantangan besar: bagaimana meningkatkan produksi tanpa mengorbankan hutan dan keanekaragaman hayati.
Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) menilai sistem budidaya kopi berbasis agroforestri dapat menjadi salah satu solusi untuk menjawab tantangan tersebut.
Data UNCTAD menunjukkan, perdagangan global produk berbasis keanekaragaman hayati, termasuk kopi, kakao, rempah-rempah, dan hasil hutan lainnya, mencapai sekitar 3,78 triliun dolar AS pada 2024. Angka tersebut menunjukkan besarnya peran komoditas berbasis alam terhadap perekonomian dunia.
Permintaan yang terus meningkat juga memberikan nilai tambah bagi negara-negara penghasil kopi.
Di Thailand, misalnya, nilai ekspor kopi dan produk olahan kopi berbasis keanekaragaman hayati mencapai sekitar 154 juta dolar AS pada 2024, naik 22,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Namun, peningkatan permintaan juga berpotensi mendorong perluasan lahan perkebunan yang dapat mengancam ekosistem apabila tidak dikelola secara berkelanjutan.
Agroforestri sebagai solusi
UNCTAD mendorong penerapan sistem agroforestri dalam budidaya kopi arabika. Metode ini menggabungkan tanaman kopi dengan pepohonan dalam satu hamparan lahan sehingga fungsi produksi dan konservasi dapat berjalan bersamaan.
Keberadaan pohon pelindung tidak hanya menjaga keseimbangan ekosistem, tetapi juga membantu meningkatkan penyerbukan, memperbaiki kesuburan tanah, mengurangi risiko erosi, serta meningkatkan ketahanan tanaman terhadap hama dan cuaca ekstrem.
Dengan pendekatan tersebut, produktivitas kebun kopi dapat meningkat tanpa harus membuka kawasan hutan baru.
Selain mendukung praktik budidaya, UNCTAD juga bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk membangun sistem ketertelusuran (traceability) kopi. Sistem ini memungkinkan asal-usul biji kopi ditelusuri mulai dari petani hingga konsumen sehingga memperkuat transparansi rantai pasok sekaligus memenuhi standar pasar internasional.
Inisiatif tersebut didukung melalui pendanaan dari Dana Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Memberdayakan perempuan di sektor kopi
Pada Maret 2026, UNCTAD mengunjungi fasilitas pengolahan kopi di Provinsi Xiangkhouang, Laos. Salah satu hal yang menarik perhatian adalah seluruh pekerja di fasilitas tersebut merupakan perempuan.
Menurut UNCTAD, praktik tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kopi berkelanjutan tidak hanya berkontribusi terhadap perlindungan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat pedesaan, termasuk perempuan.
"Pengalaman petani kopi di Xiangkhouang memperlihatkan potensi besar kopi arabika untuk mendukung keberlanjutan di wilayah utara Laos," kata Wakil Direktur Divisi Departemen Promosi UMKM Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Laos, Sonephet Sihapanya.
Ia menambahkan, sistem agroforestri kopi mampu menciptakan peluang ekonomi baru sekaligus memperkuat peran perempuan dalam rantai nilai komoditas kopi.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Direktur Jenderal Departemen Promosi UMKM Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Laos, Vithoun Sithimorlada.
"Agroforestri menawarkan keuntungan bagi Laos untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sekaligus menjaga keanekaragaman hayati dan memperkuat ketahanan iklim," ujarnya.
Tantangan berikutnya
Meski menawarkan berbagai manfaat, keberhasilan sistem kopi berkelanjutan tidak hanya bergantung pada teknologi budidaya. Petani kecil juga perlu memperoleh akses terhadap pendampingan, pembiayaan, sertifikasi, hingga pasar yang memberikan insentif bagi praktik produksi yang ramah lingkungan.
Di tengah ancaman perubahan iklim dan semakin ketatnya standar perdagangan global, agroforestri menjadi salah satu pendekatan yang berpotensi menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan konservasi alam.
Namun, keberhasilan model ini pada akhirnya ditentukan oleh sejauh mana petani menjadi aktor utama dalam rantai nilai kopi berkelanjutan. Jika diterapkan secara inklusif, agroforestri tidak hanya menjaga hutan dan keanekaragaman hayati, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada komoditas kopi.
Penulis: Chairunisa