- Pengguna internet di Indonesia mencapai 235 juta orang pada 2026, mendorong perubahan perilaku belanja online yang semakin kritis.
- Sekjen idEA Budi Primawan menyatakan platform e-commerce wajib meningkatkan kepercayaan, kemudahan pembayaran, serta perlindungan transaksi konsumen.
- CEO Blibli Kusumo Martanto menyampaikan perusahaan mengembangkan ekosistem omnichannel terintegrasi untuk memperkuat efektivitas operasional sepanjang 2025.
Suara.com - Tren belanja online di Indonesia perlahan memasuki babak baru. Jika selama bertahun-tahun konsumen terbiasa membandingkan harga dan berburu promo besar-besaran, kini pertimbangan saat berbelanja semakin berkembang.
Harga tetap penting, tetapi pengalaman yang praktis, aman, tepercaya, dan konsisten mulai menjadi bagian dari keputusan pembelian.
Perubahan tersebut tidak terlepas dari semakin masifnya penggunaan internet di Indonesia. Berdasarkan Survei Penetrasi Internet APJII 2026, jumlah pengguna internet nasional telah mencapai 235 juta orang atau sekitar 81 persen dari total populasi.
Artinya, aktivitas digital kini semakin lekat dengan rutinitas masyarakat, termasuk ketika mencari informasi, memilih produk, hingga melakukan transaksi.
Ketika pilihan platform semakin banyak, konsumen pun menjadi lebih kritis. Mereka tidak hanya ingin mendapatkan barang dengan harga kompetitif, tetapi juga memastikan produk yang dibeli asli, proses transaksi mudah, pengiriman jelas, serta tersedia layanan purnajual apabila terjadi kendala.
Kondisi ini kemudian mendorong berkembangnya konsep omnichannel commerce, yang menghubungkan pengalaman belanja digital dan fisik dalam satu ekosistem.
Konsumen bisa menemukan produk melalui aplikasi, melakukan transaksi secara online, kemudian mengambilnya di toko atau memilih datang langsung untuk melihat produk sebelum membeli.
![Ilustrasi Blibli. [Blibli]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/21/29717-ilustrasi-blibli.jpg)
Perubahan perilaku tersebut turut menjadi perhatian industri e-commerce. Sekretaris Jenderal Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Budi Primawan, menilai platform perdagangan digital perlu terus menyesuaikan diri dengan kebutuhan konsumen yang semakin beragam.
“Hal ini menjadi dorongan agar platform e-commerce terus meningkatkan kemudahan, kenyamanan, dan kepercayaan konsumen, baik dari sisi pembayaran, pengiriman, maupun perlindungan transaksi,” ujar Budi.
Bagi konsumen, kepercayaan menjadi semakin penting, terutama ketika berbelanja produk elektronik, kebutuhan rumah tangga, maupun barang dengan nilai transaksi yang cukup besar.
Kepastian mengenai keaslian produk, garansi, proses pengembalian, hingga dukungan setelah pembelian dapat memberikan rasa aman yang tidak selalu bisa diperoleh hanya dari potongan harga.
Salah satu perusahaan yang mencoba mengikuti perubahan tersebut adalah Blibli. Setelah 15 tahun beroperasi, Blibli mengembangkan bisnisnya dari platform e-commerce menjadi ekosistem omnichannel yang terhubung dengan tiket.com, Ranch Market, dan Dekoruma.
CEO dan Co-Founder Blibli, Kusumo Martanto, mengatakan pendekatan omnichannel menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk menghadirkan pengalaman yang lebih terintegrasi.
“Dengan berfokus pada pendekatan omnichannel yang terintegrasi serta didukung oleh pengembangan inovasi teknologi yang berkelanjutan, termasuk peningkatan keandalan sistem dan efisiensi proses, Perseroan berhasil meningkatkan skala dan memperkuat efektivitas operasional usaha sepanjang tahun 2025,” kata Kusumo.
Penguatan ekosistem tersebut juga terlihat dari bertambahnya titik interaksi secara fisik. Sepanjang semester pertama 2026, Blibli menambah 36 toko baru.
Hingga akhir Juni 2026, jaringan tersebut mencakup 326 toko elektronik konsumen, 14 toko elektronik rumah tangga, satu toko fesyen dan olahraga, 60 gerai Ranch Market, serta 38 home and living experience center Dekoruma.
Di sisi logistik, Blibli juga memiliki 15 gudang dengan luas sekitar 200.000 meter persegi dan 19 distribution hub. Infrastruktur tersebut mendukung layanan pengiriman dua jam untuk lebih dari 400.000 SKU di lebih dari 40 kota, sementara layanan Prioritas di area tertentu memungkinkan pesanan tiba mulai 30 menit setelah pembayaran.
Pada akhirnya, perubahan tren belanja online menunjukkan bahwa konsumen Indonesia semakin mencari pengalaman yang menyeluruh.
Persaingan e-commerce pun perlahan bergeser dari sekadar perang harga menuju bagaimana sebuah platform mampu membangun kepercayaan, memberikan kemudahan, dan memastikan pengalaman pelanggan tetap nyaman sejak mencari produk hingga setelah transaksi selesai.