Setanah, Tak Diam: Membaca Risiko Bandung lewat Sains dan Seni

Bimo Aria Fundrika

Senin, 07 September 2026 | 16:35 WIB
Setanah, Tak Diam: Membaca Risiko Bandung lewat Sains dan Seni
Setanah, Tak Diam: Membaca Risiko Bandung lewat Sains dan Seni. (Dok. Istimewa)
baca 10 detik
  • Selasar Sunaryo Art Space di Bandung menyelenggarakan pameran Setanah, Tak Diam dari 28 Agustus 2026 hingga Januari 2027.
  • Kolaborasi institusi sains dan seni menerjemahkan hasil riset risiko geologi Bandung menjadi pengalaman yang mudah diakses publik.
  • Pameran bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat menghadapi dinamika geologi melalui integrasi data ilmiah dan pengalaman warga lokal.

Suara.com - Di balik keindahan pegunungan yang mengelilingi Bandung, terdapat lanskap geologi yang terus bergerak. Kawasan Metropolitan Bandung dihuni lebih dari sembilan juta orang dan berada di dekat Sesar Lembang serta sejumlah gunung api, seperti Tangkuban Parahu, Guntur, Papandayan, dan Galunggung.

Kondisi tersebut menjadi bagian dari realitas lingkungan tempat masyarakat Bandung hidup. Namun, memahami risiko geologi tidak selalu harus dilakukan melalui angka, peta, atau istilah ilmiah yang sulit dipahami.

Di Bandung, pengetahuan tentang bumi kini coba dibawa ke ruang yang lebih dekat dengan publik melalui pameran Setanah, Tak Diam di Selasar Sunaryo Art Space (SSAS).

Ketika risiko geologi diterjemahkan lewat seni

Setanah, Tak Diam: Membaca Risiko Bandung lewat Sains dan Seni. (Dok. Istimewa)
Setanah, Tak Diam: Membaca Risiko Bandung lewat Sains dan Seni. (Dok. Istimewa)

Setanah, Tak Diam mempertemukan sains, seni, budaya, storytelling, dan pengalaman masyarakat untuk membicarakan hubungan manusia dengan lingkungan tempat tinggalnya.

Pameran ini merupakan bagian dari kolaborasi SSAS, Institut Teknologi Bandung (ITB), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Gamma Metrics, dengan dukungan The Toyota Foundation dan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

Gagasan pameran berangkat dari penelitian Exposed: Physical and Social Exposure to Seismic and Volcanic Threats in Bandung, Indonesia, yang digagas British Geological Survey (BGS) dan ITB.

Penelitian tersebut menggabungkan geosains, observasi bumi berbasis satelit, kecerdasan buatan, analisis demografi, pemodelan perkotaan, serta pelibatan masyarakat untuk memahami risiko geologi di Bandung secara lebih menyeluruh.

Melalui pameran, pengetahuan tersebut tidak hanya ditempatkan sebagai hasil penelitian, tetapi diterjemahkan menjadi pengalaman yang dapat diakses masyarakat.

baca juga

Tujuannya bukan memprediksi kapan gempa atau aktivitas gunung api akan terjadi, apalagi menimbulkan ketakutan. Pameran justru mengajak pengunjung memahami bahwa tinggal di kawasan dengan dinamika geologi membutuhkan pengetahuan dan kesiapsiagaan.

Dari laboratorium ke ruang publik

Salah satu tantangan penelitian tentang kebencanaan adalah memastikan pengetahuan tidak berhenti di lingkungan akademik. Data dan temuan ilmiah perlu diterjemahkan agar dapat digunakan oleh masyarakat yang hidup di wilayah tersebut.

Di sinilah Setanah, Tak Diam mengambil peran. Pameran ini menjadi ruang pertemuan bagi peneliti, seniman, masyarakat, praktisi, pemerintah, jurnalis, dan publik untuk membicarakan risiko serta resiliensi.

Pengalaman masyarakat juga mendapat tempat dalam percakapan tersebut. Warga yang tinggal di sekitar Sesar Lembang tidak hanya diposisikan sebagai penerima informasi, tetapi turut memberikan perspektif mengenai bagaimana risiko dipahami dan dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

“Yang penting bagi kami bukan hanya memahami di mana bahaya dapat terjadi dan seberapa besar potensinya, tetapi juga mengidentifikasi siapa dan apa yang paling terpapar serta bagaimana pengetahuan tersebut dapat membantu masyarakat dan pemerintah mempersiapkan diri secara lebih efektif,” ujar Dr Endra Gunawan, Indonesian Project Lead dari ITB.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa kesiapsiagaan tidak cukup dibangun dari data ilmiah. Pengetahuan lokal dan pengalaman masyarakat juga diperlukan agar informasi mengenai risiko dapat diterapkan dalam konteks kehidupan nyata.

Membuka percakapan tentang Bandung yang terus bergerak

Setanah, Tak Diam resmi dibuka pada 28 Agustus 2026 dan akan berlangsung hingga Januari 2027. Selain pameran, program publik seperti kuliah, lokakarya, diskusi, dan kegiatan bersama komunitas juga disiapkan.

Sejumlah peneliti yang terlibat dalam proyek ini antara lain Dr Ekbal Hussain dari BGS, Dr Endra Gunawan dan Dr Prasanti Widyasih Sarli dari ITB, Dr Rahma Hanifa dari BRIN, serta Dr Prananda Luffiansyah Malasan dari ITB dan SSAS yang juga berperan sebagai kurator.

Bagi British Council, kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa riset tidak harus berhenti ketika penelitian selesai. Pengetahuan dapat terus dikembangkan melalui pertemuan dengan masyarakat dan diterjemahkan ke dalam bentuk yang lebih mudah dipahami.

Summer Xia, Country Director Indonesia dan Director Southeast Asia British Council, mengatakan dampak kolaborasi riset akan semakin berarti ketika pengetahuan dapat dibagikan, dipahami, dan digunakan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Siapa Frankie MacDonald? Viral Ramal Gempa Besar Hancurkan Jakarta Sebelum Akhir 2026

Siapa Frankie MacDonald? Viral Ramal Gempa Besar Hancurkan Jakarta Sebelum Akhir 2026

News | Senin, 07 September 2026 | 11:52 WIB

Gempa M 5,3 Guncang Cilacap Siang Ini, Getaran Terasa hingga DIY dan Jabar

Gempa M 5,3 Guncang Cilacap Siang Ini, Getaran Terasa hingga DIY dan Jabar

News | Jum'at, 04 September 2026 | 14:53 WIB

Bukan Hanya Pangan dan Tempat Tinggal, Ini Kebutuhan Utama Warga Terdampak Gempa NTT

Bukan Hanya Pangan dan Tempat Tinggal, Ini Kebutuhan Utama Warga Terdampak Gempa NTT

News | Jum'at, 04 September 2026 | 00:32 WIB

Terkini

YouTube hingga Instagram Dinilai Berisiko Tinggi, Kemenkomdigi Batasi Akses Anak

YouTube hingga Instagram Dinilai Berisiko Tinggi, Kemenkomdigi Batasi Akses Anak

News | Senin, 26 Oktober 2026 | 18:35 WIB

Menghabiskan Sore Bersama Klub Corat-coret, Cara Bercerita Lewat Gambar

Menghabiskan Sore Bersama Klub Corat-coret, Cara Bercerita Lewat Gambar

Your Say | Senin, 26 Oktober 2026 | 18:35 WIB

Bahlil: Pertamina Selalu Diremehkan!

Bahlil: Pertamina Selalu Diremehkan!

Bisnis | Senin, 26 Oktober 2026 | 18:28 WIB

DPR Soroti Perundungan di Sekolah hingga Kampus, Pemerintah Diminta Segera Bergerak

DPR Soroti Perundungan di Sekolah hingga Kampus, Pemerintah Diminta Segera Bergerak

News | Senin, 26 Oktober 2026 | 18:25 WIB

3 Urutan Skincare Malam Skintific untuk Tampilan Glass Skin, Wajah Bening Bercahaya

3 Urutan Skincare Malam Skintific untuk Tampilan Glass Skin, Wajah Bening Bercahaya

Lifestyle | Senin, 26 Oktober 2026 | 18:15 WIB

Gen Z Suka Code-Mixing, Memperkaya atau Justru Merusak Bahasa Indonesia?

Gen Z Suka Code-Mixing, Memperkaya atau Justru Merusak Bahasa Indonesia?

Your Say | Senin, 26 Oktober 2026 | 18:15 WIB

Stasiun BNI City Makin Padat, Akses Pejalan Kaki dari Kawasan Karet Mulai Dibangun

Stasiun BNI City Makin Padat, Akses Pejalan Kaki dari Kawasan Karet Mulai Dibangun

News | Senin, 26 Oktober 2026 | 18:14 WIB

Alasan Kain Mikrofiber Sebaiknya Tidak Digunakan Lagi Setelah Terjatuh

Alasan Kain Mikrofiber Sebaiknya Tidak Digunakan Lagi Setelah Terjatuh

Otomotif | Senin, 26 Oktober 2026 | 18:10 WIB

Raih Medali Emas Panahan, Daffa Indika dan Dimas Maulana Kompak Angin Jadi Tantangan

Raih Medali Emas Panahan, Daffa Indika dan Dimas Maulana Kompak Angin Jadi Tantangan

Surakarta | Senin, 26 Oktober 2026 | 18:08 WIB

Dikeroyok Perguruan Silat hingga 7 Tahun Koma, Kompol Aditia Menghembuskan Nafas Terakhir

Dikeroyok Perguruan Silat hingga 7 Tahun Koma, Kompol Aditia Menghembuskan Nafas Terakhir

Jawa Tengah | Senin, 26 Oktober 2026 | 18:08 WIB

×