- Ulama asal Arab Saudi, Sheikh Assim al-Hakeem, menjawab pertanyaan WNI bernama Ahmad di media sosial.
- Beliau menyatakan bahwa rakyat dapat melimpahkan dosa-dosa mereka kepada pemimpin yang zalim di akhirat kelak.
- Pernyataan tersebut viral di media sosial Indonesia dan memberikan jawaban yang melegakan bagi warganet.
Suara.com - Baru-baru ini, jagat media sosial di Indonesia diramaikan oleh potongan video dakwah dari seorang ulama internasional asal Arab Saudi, Sheikh Assim al-Hakeem.
Namanya menjadi perbincangan hangat setelah memberikan jawaban yang dinilai sangat melegakan bagi banyak warganet tanah air terkait pertanggungjawaban seorang pemimpin.
Kehebohan ini bermula dari pertanyaan yang diajukan oleh seorang warga negara Indonesia (WNI) bernama Ahmad.
Dalam sebuah sesi tanya jawab, Ahmad melontarkan pertanyaan tajam mengenai nasib rakyat yang hidup di bawah kepemimpinan yang tidak adil atau zalim (sewenang-wenang).
"Sheikh, I wanna ask if, let's say, a ruler do unjust in our land, in the akhirah, are we able to put our sins on them?" tanya Ahmad.
Artinya, ia bertanya apakah di akhirat (hari pembalasan setelah kematian) nanti, rakyat bisa melimpahkan dosa-dosa mereka kepada pemimpin yang berlaku zalim di negeri mereka.
Mendengar pertanyaan itu, Sheikh Assim al-Hakeem langsung memberikan jawaban tegas tanpa keraguan sedikit pun.
"Of course, there is no doubt in that," jawab sang Sheikh.
Kalimat yang berarti "Tentu saja, tidak ada keraguan tentang hal itu" langsung memicu reaksi luas dari masyarakat Indonesia yang merasa jawaban tersebut sangat berbobot dan menenangkan.
Sang Ulama Humoris yang Memiliki Darah Indonesia
Bagi masyarakat Indonesia, Sheikh Assim al-Hakeem sebenarnya bukan sosok yang asing. Ulama yang dikenal dengan gaya penyampaiannya yang jenaka (lucu dan menghibur) ini pernah berkunjung ke Indonesia pada Juli 2023.
Beliau hadir sebagai pembicara dalam acara tablig akbar (pengajian umum skala besar) di Masjid At-Tanwir Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jakarta.
Dalam kunjungan tersebut, terungkap fakta menarik bahwa Sheikh Assim memiliki hubungan darah yang erat dengan Indonesia.
Kakek beliau diketahui berasal dari marga Hasibuan, sedangkan nenek beliau bermarga Nasution. Keduanya merupakan marga khas dari wilayah Sumatra Utara. Tidak heran jika Indonesia terasa sangat dekat di hati sang ulama.
Saat mengisi kajian bertema penolakan terhadap Islamophobia (ketakutan atau kebencian tanpa alasan terhadap Islam), Sheikh Assim menekankan pentingnya umat Islam menunjukkan karakter yang unggul.
Beliau menjelaskan bahwa cara terbaik untuk merespons kebencian adalah dengan tidak terpancing emosi. Sebaliknya, umat Islam harus menampilkan jati diri yang sesungguhnya melalui sifat disiplin, jujur, amanah (dapat dipercaya), serta akhlak yang mulia.
Menurutnya, dakwah bil hal (dakwah melalui tindakan nyata) seperti yang dilakukan oleh organisasi Muhammadiyah adalah contoh nyata dalam membangun peradaban yang tinggi.
Mengenal Profil Sheikh Assim al-Hakeem dan Perjalanan Hidup
Menurut situs dakwahnya, Sheikh Assim bin Luqman al-Hakeem lahir pada tahun 1962 di kota Al-Khobar, Arab Saudi bagian timur.
Setelah menginjak usia 12 tahun, beliau bersama keluarganya pindah ke kota Jeddah, yang dikenal sebagai pintu gerbang menuju dua kota suci umat Islam, yaitu Makkah dan Madinah.
Masa muda Sheikh Assim dilalui seperti anak-anak pada umumnya. Namun, titik balik dalam hidupnya terjadi saat ia menempuh kuliah di King Fahd University of Petroleum and Minerals.
Merasa kurang serius dalam belajar, beliau memutuskan keluar dan kembali ke Jeddah untuk bekerja.
Suatu hari, ibu dari seorang temannya menegur beliau dengan sebutan "punk" karena tidak melanjutkan sekolah. Teguran keras itu justru memicu semangatnya untuk kembali kuliah.
Beliau akhirnya memilih program studi Sastra Inggris karena mengira jurusan tersebut mudah.
Di luar dugaan, Sheikh Assim justru lulus sebagai lulusan terbaik di kampusnya dengan fokus bidang Linguistik (ilmu tentang bahasa).
Latar belakang bahasa Inggris inilah yang kemudian beliau gunakan sebagai sarana untuk menyebarkan ajaran Islam secara global.
Perjalanan dakwahnya dimulai pada tahun 1989 secara tidak sengaja ketika beliau ditunjuk menjadi Imam dan Khatib (orang yang menyampaikan khotbah) di masjid dekat rumahnya karena tidak ada orang lain yang bersedia.
Tugas ini mendorongnya untuk terus belajar dan memperdalam ilmu agama secara mandiri.
Hingga kini, selain aktif menyampaikan ceramah dalam bahasa Inggris di berbagai media internasional seperti Huda TV dan Peace TV, Sheikh Assim juga bekerja secara profesional.
Beliau menjabat sebagai Manajer Umum Sumber Daya Manusia (HRD), Hubungan Masyarakat, dan Urusan Hukum di sebuah perusahaan pemotong batu di Jeddah.
Di sela kesibukannya bekerja 8 hingga 9 jam sehari, beliau tetap rutin berolahraga dan memberikan pengajaran kitab Sahih al-Bukhari di masjid setempat setelah salat Isya.