- Masyarakat urban perkotaan kini menjadikan kafe dan restoran sebagai ruang ketiga untuk bersosialisasi dan bekerja.
- Teknologi digital dan media sosial memengaruhi konsumen dalam menemukan destinasi kuliner serta tren makanan global.
- Erajaya Food & Nourishment memperluas ekosistem bisnis melalui berbagai merek kuliner untuk memenuhi kebutuhan gaya hidup.
Suara.com - Ada masa ketika pergi ke kafe berarti duduk sebentar, memesan kopi, lalu pulang. Sekarang, ceritanya sudah berbeda.
Kafe bisa menjadi kantor sementara untuk menyelesaikan deadline, tempat bertemu sahabat setelah sekian lama tak bertemu, lokasi meeting santai, sampai ruang untuk sekadar duduk sendirian sambil menikmati secangkir teh.
Begitu pula restoran. Makan di luar kini bukan sekadar aktivitas untuk mengisi perut. Memilih tempat makan bisa menjadi bagian dari gaya hidup: mencari suasana yang nyaman, makanan yang menarik untuk difoto, pelayanan yang menyenangkan, hingga pengalaman yang terasa layak dibagikan di media sosial.
Di tengah ritme kehidupan perkotaan yang serba cepat, restoran dan kafe perlahan mengambil peran sebagai 'ruang ketiga' atau third place, sebuah tempat di luar rumah dan kantor yang memungkinkan orang bersosialisasi, bekerja, beristirahat, sekaligus menjadi dirinya sendiri.
Datang untuk Makan, Pulang Bawa Pengalaman
Perubahan ini ikut menggeser cara masyarakat memilih destinasi kuliner.
Rasa tentu tetap menjadi pertimbangan utama. Namun, konsumen urban kini juga memperhatikan hal-hal lain yang membuat sebuah tempat terasa spesial. Mulai dari desain interior, pencahayaan, musik, aroma, keramahan staf, hingga bagaimana sebuah menu disajikan.
Karena itu, secangkir kopi atau segelas teh bisa terasa lebih menarik ketika dinikmati di ruang yang nyaman. Sepotong pastry pun bisa menjadi bagian dari pengalaman ketika disandingkan dengan suasana yang membuat orang betah berlama-lama.
Fenomena ini membuat batas antara kuliner dan gaya hidup semakin tipis.
Orang datang ke kafe bukan hanya untuk coffee break, tetapi juga untuk bekerja. Mereka datang ke restoran bukan hanya untuk makan malam, tetapi merayakan ulang tahun, bertemu pasangan, berkumpul dengan komunitas, atau sekadar mencari waktu berkualitas setelah menjalani hari yang panjang.
Bahkan aktivitas kuliner kini sering menjadi bagian dari agenda akhir pekan. Sarapan, brunch, ngopi sore, mencicipi menu baru, berburu dessert viral, sampai mencoba minuman dengan rasa yang sedang tren bisa menjadi bentuk rekreasi kecil di tengah padatnya kehidupan kota.
Ketika Tren Kuliner Menjadi Bagian dari Identitas
Generasi muda juga punya cara sendiri dalam menikmati tren F&B.
Makanan dan minuman yang sedang populer tidak hanya dinilai dari rasanya, tetapi juga cerita di baliknya. Hojicha, matcha, milk tea, pastry Korea, hingga berbagai dessert dengan tampilan unik menunjukkan bagaimana tren kuliner global dengan cepat menemukan tempat di Indonesia.
Yang menarik, konsumen tidak selalu mencari sesuatu yang benar-benar baru. Mereka justru menyukai ketika sesuatu yang familiar diberi sentuhan berbeda.
Butter tteok, misalnya, membawa camilan tradisional Korea ke dalam format dessert modern dengan berbagai pilihan isian. Sementara hojicha dan genmai menawarkan pengalaman menikmati teh dengan karakter rasa yang berbeda dari minuman manis pada umumnya.
Di sinilah kreativitas menjadi penting. Sebuah menu bukan hanya tentang bahan dan rasa, tetapi juga bagaimana ia menciptakan pengalaman yang membuat orang ingin mencoba, mengingat, bahkan membagikannya.
Dari Layar ke Meja, Pengalaman Makin Terhubung
Pengalaman kuliner masyarakat urban juga semakin dipengaruhi teknologi.
Seseorang bisa menemukan kafe baru melalui TikTok atau Instagram, melihat menu sebelum datang, melakukan pemesanan secara digital, membayar secara nontunai, hingga mendapatkan penawaran melalui aplikasi loyalitas.
Namun, teknologi pada akhirnya tetap mengantarkan konsumen pada pengalaman yang nyata: duduk di sebuah ruang, menikmati makanan dan minuman, berbincang, atau menghabiskan waktu sendiri.
Artinya, dunia digital justru ikut memperkuat fungsi kafe dan restoran sebagai ruang sosial.
Dari Tren Menjadi Ekosistem Gaya Hidup
Besarnya kebutuhan terhadap ruang sosial baru ini membuka peluang bagi pelaku industri F&B untuk menghadirkan lebih dari sekadar tempat makan.
Hal tersebut sejalan dengan perkembangan Erajaya Food & Nourishment (EFN), vertikal bisnis Erajaya Group yang bergerak di sektor F&B dan grocery. Portofolionya mencakup Paris Baguette, Bacha Coffee, Curry Up, CHAGEE, serta GrandLucky Superstore.

Paris Baguette, misalnya, mengembangkan konsep bakery café yang dapat menjadi tempat bertemu sekaligus menikmati pastry dan minuman. Di sisi lain, CHAGEE membawa budaya minum teh ke pengalaman yang lebih modern melalui inovasi menu dan berbagai aktivitas yang dekat dengan gaya hidup konsumen.
Ada pula Curry Up yang menawarkan konsep Build-Your-Own Curry, memungkinkan pelanggan meracik pilihan saus, nasi, dan protein sesuai selera.
Ragam konsep tersebut menunjukkan bahwa industri F&B kini bergerak menuju satu hal, yaitu menciptakan pengalaman yang relevan dengan kehidupan masyarakat urban.
Dalam perjalanan “30 Tahun Erajaya Group”, perkembangan ini menjadi bagian dari langkah memperluas ekosistem bisnis ke kebutuhan gaya hidup masyarakat.
Sebab, pada akhirnya,kafe dan restoran bukan lagi sekadar tempat untuk makan.
Mereka adalah tempat kita bertemu, bekerja, bercerita, merayakan sesuatu, menemukan tren baru, atau bahkan hanya mengambil jeda dari hiruk-pikuk kota.
Dan mungkin, itulah alasan mengapa secangkir kopi hari ini bisa berarti jauh lebih banyak daripada sekadar kopi.