- Pelari harus memilih sepatu lari dengan bantalan responsif yang memberikan energi balik, bukan sekadar empuk.
- Pemilihan sepatu lari perlu mempertimbangkan jenis foam midsole, bobot, stabilitas, serta disesuaikan dengan jenis latihan.
- Ketebalan sol sepatu lari tidak menjamin tingkat responsivitas karena dipengaruhi material dan geometri midsole.
Sedangkan untuk long run, bantalan responsif sebaiknya tetap diimbangi dengan kenyamanan dan stabilitas. Sepatu yang terlalu lembut atau terlalu tidak stabil belum tentu cocok digunakan berlari dalam waktu lama.
4. Jangan menganggap semakin tebal berarti semakin responsif
Midsole yang tebal memang dapat memberikan perlindungan dan kenyamanan tambahan, tetapi stack height tinggi tidak otomatis membuat sepatu lebih responsif.
Karakter responsif dipengaruhi oleh material foam, konstruksi midsole, geometri sepatu, bobot, serta bagaimana sepatu tersebut berinteraksi dengan gaya lari penggunanya.
Contohnya, ASICS Superblast 2 yang pernah direkomendasikan dr. Tirta menggabungkan FF BLAST PLUS dan FF TURBO PLUS untuk menghasilkan bantalan yang terasa responsif. Sementara Saucony Endorphin Speed menggunakan PWRRUN PB serta pelat nilon untuk memberikan sensasi lari yang ringan dan bertenaga.
Jadi, jangan menjadikan ketebalan sol sebagai satu-satunya indikator.
5. Coba langsung dan rasakan saat berjalan
Jika memungkinkan, jangan membeli sepatu lari hanya berdasarkan foto dan spesifikasi.
Saat mencoba sepatu, gunakan kaus kaki yang biasa dipakai berlari. Pastikan jari kaki masih mempunyai ruang gerak dan tumit tidak mudah terangkat dari bagian belakang sepatu.
Kemudian, lakukan beberapa langkah cepat atau jogging ringan. Perhatikan apakah midsole terasa terlalu lembek, terlalu keras, atau justru memberikan dorongan yang nyaman.
Bantalan responsif yang bagus bukan berarti harus terasa seperti memantul tinggi. Yang terpenting adalah sensasinya sesuai dengan kebutuhan dan nyaman digunakan.
6. Pertimbangkan berat sepatu
Responsivitas juga berkaitan dengan bobot keseluruhan sepatu.
Sepatu dengan foam responsif tetapi bobotnya terlalu berat mungkin tidak memberikan sensasi lari secepat yang diharapkan. Sebaliknya, sepatu yang sangat ringan belum tentu memiliki bantalan yang cukup untuk long run.
Karena itu, cari titik tengah antara bobot, cushioning, stabilitas dan kebutuhan latihan.
7. Pilih berdasarkan gaya lari, bukan tren
Model yang populer di kalangan pelari belum tentu cocok untuk semua orang.
Suara.com sebelumnya juga mencatat bahwa sepatu seperti ASICS Novablast 5, New Balance Rebel 5 hingga Adidas Adizero Evo SL memiliki karakter berbeda meskipun sama-sama dapat digunakan untuk berlari. Dalam ulasan dr. Tirta, misalnya, New Balance Rebel 5 dinilai nyaman dan responsif, tetapi karakter penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan jenis latihan.
Pelari pemula sebaiknya tidak langsung mengejar sepatu dengan karakter paling agresif. Untuk latihan harian, model yang memberikan kombinasi cushioning nyaman, responsivitas cukup, dan stabilitas biasanya lebih mudah digunakan.
Cara memilih alas kaki lari dengan bantalan responsif bukan dengan mencari sol yang paling empuk atau paling tebal. Perhatikan jenis foam, karakter energy return, bobot, stabilitas, geometri midsole dan tujuan penggunaan.
Untuk daily run, pilih responsivitas yang tetap nyaman. Untuk tempo atau interval, karakter yang lebih ringan dan agresif dapat dipertimbangkan. Sementara untuk long run, prioritaskan keseimbangan antara pantulan, cushioning dan stabilitas.
Pada akhirnya, sepatu lari terbaik adalah model yang terasa nyaman dan mendukung pola langkah penggunanya, bukan sekadar sepatu dengan teknologi paling tinggi.