- Artikel ini membahasc cara menentukan hari baik saat pindah rumah menurut Primbon Jawa dan weton.
- Metode Catursuda menjumlahkan neptu penghuni dan hari pindahan, lalu dibagi empat untuk melihat sisa hasilnya.
- Sisa pembagian Catursuda menentukan kategori hari yang dipercaya membawa dampak tertentu bagi kehidupan penghuni rumah.
Suara.com - Bagi masyarakat Jawa, pindah rumah bukan sekadar memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain.
Ini adalah momen sakral, awal kehidupan baru yang diharapkan membawa rezeki, ketenangan, dan keharmonisan bagi seluruh penghuninya.
Karena itu, banyak yang masih berpedoman pada Primbon Jawa untuk menentukan hari paling tepat sebelum pindahan.
Apa Itu Weton dan Neptu?
Primbon Jawa merupakan kumpulan pengetahuan tradisional yang memuat berbagai perhitungan, termasuk penentuan hari baik.
Salah satu dasar perhitungannya adalah weton, yaitu gabungan antara hari dalam sepekan dan lima hari pasaran Jawa.

Lima pasaran tersebut adalah Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Dari kombinasi hari dan pasaran tersebut diperoleh nilai yang disebut neptu.
Berikut nilai neptu masing-masing hari:
Neptu Hari:
Minggu = 5
Senin = 4
Selasa = 3
Rabu = 7
Kamis = 8
Jumat = 6
Sabtu = 9
Neptu Pasaran:
Legi = 5
Pahing = 9
Pon = 7
Wage = 4
Kliwon = 8
Sebagai contoh, seseorang yang lahir pada Senin Wage memiliki neptu 4 + 4 = 8.
Cara Menghitung Hari Baik Pindah Rumah
1. Hitung Neptu Weton Penghuni
Pertama, hitung neptu weton setiap orang yang akan menempati rumah tersebut. Jika pindah bersama pasangan atau keluarga, seluruh neptu dapat dijumlahkan.
Misalnya, suami lahir Senin Wage dengan neptu 8, sedangkan istri lahir Kamis Pahing dengan neptu 8 + 9 = 17. Total neptu keduanya adalah 25.
2. Tambahkan Neptu Hari Pindahan
Selanjutnya, tentukan kandidat hari pindahan dan hitung neptunya.
Misalnya memilih Jumat Legi, yang memiliki neptu 6 + 5 = 11. Kemudian jumlahkan dengan neptu penghuni:
25 + 11 = 36.
3. Bagi dengan Angka 4
Dalam metode Catursuda, hasil tersebut kemudian dibagi 4. Perhatikan sisa pembagiannya:
Sisa 1 – Guru: dipercaya membawa kelancaran rezeki, keselamatan, dan kehidupan yang sejahtera.
Sisa 2 – Ratu: dipercaya berkaitan dengan rezeki, kewibawaan, keharmonisan, dan kehidupan yang baik.
Sisa 3 – Rogoh: secara tradisional dianggap kurang baik karena dikaitkan dengan masalah keamanan dan ketidakharmonisan.
Sisa 0 – Sempoyong: dipercaya menggambarkan kehidupan yang kurang stabil dan mudah mengalami kegelisahan.
Pada contoh sebelumnya, 36 ÷ 4 = 9 dengan sisa 0. Berdasarkan metode tersebut, Jumat Legi masuk kategori Sempoyong, sehingga dianggap kurang baik untuk pindahan.
Karena itu, seseorang yang mengikuti perhitungan ini dapat mencari kandidat hari lain hingga memperoleh hasil sisa 1 atau 2, yang dalam tradisi tersebut dianggap lebih baik.
Perhitungan weton dan Primbon Jawa merupakan kepercayaan dan warisan budaya, sehingga tidak dapat menjadi jaminan mengenai rezeki, keselamatan, atau keberhasilan seseorang setelah pindah rumah.
Dalam praktiknya, kesiapan finansial, keamanan rumah, kondisi lingkungan, serta kesepakatan seluruh anggota keluarga tetap penting dipertimbangkan.