Sebanyak 50 perusuh, kebanyakan di antaranya adalah pemuda, telah menjalani persidangan cepat di Paris dan Grenoble atas keterlibatan mereka dalam gelombang anarki yang terjadi setelah penembakan polisi terhadap seorang remaja berkebangsaan Prancis-Aljazair pada awal pekan ini. Lebih dari 2.800 orang telah ditangkap sepanjang kerusuhan tersebut.
Dilansir dari Russia Today (2/7/2023), sebanyak 20 tersangka tampil di pengadilan di pinggiran kota Paris, Nanterre, pada hari Jumat pekan lalu. Sebagian besar dari mereka, seperti yang dicatat oleh surat kabar Prancis, Le Monde, adalah remaja atau dewasa muda yang tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya.
Lima tersangka diadili atas tuduhan pemberontakan, kekerasan terhadap petugas polisi, dan kerusakan properti. Kelima tersangka tersebut menyatakan diri tidak bersalah, tetapi setelah hanya 15 menit pembahasan, tiga di antaranya divonis penjara, satu diberikan peringatan, dan satu dinyatakan tidak bersalah.
Hukuman paling berat diberikan kepada seorang pria berusia 22 tahun yang diidentifikasi sebagai Amaury I., yang melemparkan batu ke arah petugas polisi dari atas gedung hunian.
Beberapa kasus pengadilan berlanjut, dengan stasiun radio France Info melaporkan pada hari Minggu bahwa tiga perusuh di kota tenggara Grenoble telah divonis penjara antara tiga hingga empat bulan. Pengadilan di Grenoble memeriksa total 30 kasus pada hari Minggu pagi, seperti yang dilaporkan oleh France Info.
Otoritas Prancis telah menangkap lebih dari 2.800 orang karena kerusuhan sejak hari Selasa pekan lalu, demikian diumumkan oleh Kementerian Dalam Negeri negara itu pada hari Minggu. Terutama dipicu oleh pemuda dari latar belakang imigran, kerusuhan itu pecah setelah polisi menembak mati seorang remaja yang menolak bekerjasama saat berhenti di jalan di Nanterre.
Protes tersebut dengan cepat menjadi kerusuhan dan menyebar ke seluruh negara, meskipun petugas yang terlibat dalam penembakan telah ditangkap dan dikenai dakwaan pembunuhan. Di tengah aksi pembakaran dan vandalisme yang meluas, para perusuh telah menyerang polisi dengan kembang api dan koktail molotov, sementara beberapa di antaranya terekam membawa senjata api berkaliber militer.
Pada hari Sabtu, Presiden Prancis Emmanuel Macron menunda kunjungan yang direncanakan ke Jerman karena kerusuhan yang terus berlanjut. Sementara itu, beberapa negara Eropa, termasuk Inggris, telah menyarankan warganya untuk menghindari perjalanan ke daerah-daerah yang dilanda kekerasan.
Macron menanggapi kerusuhan ini, yang menurutnya merupakan hasil dari pengaruh "video game", membuatnya panen dikritik oleh serikat polisi Prancis.
Baca Juga: Profil Dewi Perssik, Pedangdut yang Dihujat Perkara Sapi Kurban
Dua organisasi yang mewakili separuh jumlah petugas polisi negara itu meminta pada hari Jumat agar presiden melancarkan tindakan keras terhadap pelaku kekerasan yang merusak di jalanan.