Metro.Suara.com - Pasangan pengantin asal Dusun Blitar, Desa Karang Rejo, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus, Lampung, terpaksa menggelar pernikahannya di tengah terjangan banjir, pada Kamis (27/10/2022) kemarin.
Hal ini diakibatkan luapan sungai Way Semaka yang juga menggenangi desa-desa sekitarnya.
Semula, pasangan Jainal Arifin dan Sulis Susilawati menggelar akad nikah yang dipandu oleh seorang penghulu dengan tenang. Akad nikah ini disaksikan oleh keluarga dan sejumlah masyarakat hingga mereka dinyatakan sah menjadi pasangan suami-istri
Setelah dinyatakan sah sebagai pasangan suami-istri, para mempelai lanjut menggelar acara resepsi. Saat menunggu para tamu undangan datang, tiba-tiba banjir menerjang menghampiri rumah dan tenda pernikahan.
Melihat hal itu, keluarga mengangkat kedua mempelai untuk duduk di pelaminan dan langsung pengambilan sesi foto. Mereka tampak menggantung di atas tenda yang dikepung air banjir.
Pihak keluarga akhirnya merapihkan sejumlah properti dekorasi yang telah dipasang rapi di dekat pelaminan. Sebagian tampak menyusun ulang kursi-kursi untuk tamu undangan.
Hal itu disampaikan oleh Setiawati, selaku sohibul hajat bahwa juga sang bunda dari pengantin Sulis Susilawati bahwa peristiwa itu terjadi saat menggelar resepsi pernikahan putrinya.
Ibu dari mempelai wanita, Setiawati mengatakan peristiwa itu terjadi saat resepsi pernikahan putrinya digelar. Banjir akibat luapan sungan Way Semaka masuk tenda dan semakin membesar. Alat-alat masak pun ikut terbawa derasnya air.
“Akad nikahnya pada Kamis, 27 Oktober 2022 pada pukul 09.00 WIB dan selesai pukul 10.00 WIB dengan di iringi hujan deras dari pagi hari,” katanya kepada sejumlah awak media, yang dikutip pada Minggu (30/10/2022).
Baca Juga: Puncak Bulan Bahasa dan Sastra 2022, Kemendikburistek Anugerahkan Duta BahasaTingkat Nasional
Setiawati juga menuturkan kedalaman air di dalam tenda setinggi pinggang orang dewasa hingga malam hari. Ia merasa sedih karena saudara dan keluarga yang diundang tidak bisa berkumpul karena banjir.
“Sedih sih pada hari bahagia anak saya, tamu undangan tidak datang karena banjir. Dalam resepsi kisaran yang hadir tidak lebih dari 100 orang. Tapi kami bersyukur esok harinya tamu undangan datang walaupun resepsi telah selesai,” tutupnya.
Sulis Susilawati, sang pengantin wanita juga mengaku bersedih atas peristiwa. Hari yang harusnya menjadi hari penuh bahagia itu harus ia relakan. Namun ia juga tetap merasa bahagia karena telah menjadi istri sah dari sang lelaki pujaan hatinya.
“Ya sedih sih, bisa seperti ini. Temen-temen enggak bisa hadir, karena motor banyak yang mogok,” ujarnya.
Dari kejaidian ini, panitia berusaha mengamankan perlengkapan di tempat aman. Meja prasmanan pun di pindah ke tempat yang lebih tinggi. Lebih parahnya, banjir mengakibatkan genset mati sehingga hiburan organ tunggal terhenti berjam-jam. (*)