Perkara toleransi beragama menjadi perhatian sejumlah pihak, termasuk Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil. Bahkan belum lama ini Kang Emil mengklaim Jabar sebagai provinsi toleran.
"Jawa Barat provinsi toleran. Hasil survey kepada masyarakat Jawa Barat dilakukan untuk mengukur praktik-praktik dalam keseharian masyarakat," tutur Kang Emil.
"Hasilnya mayoritas menerima keberagaman dengan semua nilai-nilai Pancasila yang terkandung di dalamnya," imbuhnya, dikutip pada Rabu (1/2/2023).
Disebutkan bahwa analisis ini berasal dari hasil survei oleh Indonesia Politic Research and Consulting (IPRC). Dalam video unggahan Kang Emil kemudian terlihat sejumlah momen toleransi beragama, seperti ketika umat Muslim dan Katolik berdiri berdampingan, hingga momen biksu membantu jemaah Muslim berwudu.
Kang Emil kemudian memperlihatkan hasil surveinya, seperti 91 persen warga Jabar yang setuju dengan paham toleransi tersebut, maupun sebanyak 84,8 persen warga Jabar yang tidak menolak penyelenggaraan acara keagamaan agama lain.
Namun unggahan ini malah menjadi bulan-bulanan. Salah satu yang mengkritiknya adalah akun Twitter @narkosun__ yang "menguliti" sejumlah foto yang ditampilkan di video tersebut.
Rupanya sejumlah foto yang dipakai di video tersebut tidak berkaitan dengan praktik toleransi beragama di Jabar. Pasalnya sebagian foto diambil dari momen toleransi di daerah lain dan sudah terjadi beberapa tahun sebelumnya.
"Punten pak @ridwankamil, foto biksu yang jadi content di video bapak ini diambil di Lombok tahun 2018. Kok bisa jadi content untuk video keberagaman di Jabar?" cuitnya.
Rupanya foto yang dipermasalahkan adalah momen biksu membantu jemaah Muslim mengambil air untuk wudu. Lalu ada beberapa foto lain yang juga dipermasalahkannya.
"Sedangkan foto grand syekh Al-Azhar yang bertemu dengan Paus merupakan foto di Abu Dhabi tahun 2019 yang lalu," ucapnya melanjutkan, sambil menunjukkan tangkapan layar foto pertemuan kedua tokoh yang diliput di media BBC.com.
Lalu pemilik akun juga mempermasalahkan foto umat Muslim dan Katolik yang berdiri berdampingan. Menurutnya foto tersebut memang banyak digunakan untuk ilustrasi toleransi keberagaman alih-alih spesifik terjadi di Jabar.
Hal inilah yang kemudian memunculkan beragam respons publik. Bahkan ada yang menyindir dan menyebut foto-fotonya hanya pemanis.
"Lupa kasih keterangan... Gambar hanya pemanis," komentar warganet.
"Di Jabar gak ada jadi nyomot tempat lain," sindir warganet.
"Bingung sendiri kalo buat sesuatu yang gak sesuai fakta di wilayahe dewe... Yoo gur go lamis lambe saja, ethok-ethok, kepura-puraan," kritik yang lainnya.