Array

Deklarasi Koalisi Permanen Merah Putih Dinilai Membingungkan

Siswanto Suara.Com
Selasa, 15 Juli 2014 | 20:49 WIB
Deklarasi Koalisi Permanen Merah Putih Dinilai Membingungkan
Deklarasi Koalisi Merah Putih di Tugu Proklamasi (suara.com/Bowo Raharjo)

Suara.com - Deklarasi koalisi permanen yang dilakukan oleh Koalisi Merah Putih dinilai membingungkan masyarakat dan rancu. Koaisi ini merupakan kumpulan partai pendukung pasangan Prabowo Subianto - Hatta Rajasa.

"Dua hal yang menarik untuk dianalisis sekarang ini. Pertama, terkait koalisi permanen dan kedua, kemungkinan bergabungnya Partai Golkar dengan koalisi partai pendukung pasangan Capres Jokowi-JK," kata pengamat politik Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, Leo Agustino, Selasa (15/7/2014).

Ia menyebutkan setidaknya ada tiga hal yang harus dipahami dari deklarasi ini. Pertama, ketakutan pasangan Prabowo-Hatta atas kemungkinan pecahnya Koalisi Merah Putih apabila pasangan Jokowi-JK menang dalam Pilpres 2014.

Langkah deklarasi koalisi permanen ini dilakukan karena muncul tendensi Golkar dan PPP akan memindahkan dukungannya kepada Jokowi-JK.

Kedua, koalisi permanen merupakan metode lanjutan untuk menjaga kebersamaan seperti yang dilakukan pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. SBY pernah membuat koalisi permanen dalam bentuk Setgab Koalisi Partai Pendukung Pemerintahan SBY.

Pembentukan Setgab ini juga dilatari oleh ketakutan atau ketidakpercayaan atas partai komponen koalisi. Oleh karena itu, menurut Leo diperlukan kesepakatan dalam bentuk koalisi permanen.

Ketiga, koalisi permanen dinilai rancu karena tidak sesuai dengan sistem presidensial. "Koalisi biasanya dilakukan dalam sistem parlementer. Mengapa ini terjadi? Ini karena kita memadumadankan sistem presidensial dengan multipartai yang berakibat pada kemungkinan terjadinya minority government dan politik transaksional," jelas Leo.

Mengenai beberapa kemungkinan bergabungnya Partai Golkar dengan koalisi pasangan Capres Jokowi-JK, Leo menilai sangat mungkin terjadi apabila hasil hitungan KPU pada 22 Juli yang akan datang menunjukkan pasangan Jokowi-JK sebagai pemenang.

"Manakala yang terjadi adalah sebaliknya, maka Golkar akan terus bertahan dalam Koalisi Merah Putih," ujarnya.

Beralihnya dukungan Golkar pada pasangan Jokowi-JK bisa terjadi atas beberapa alasan. Pertama, jejak rekam Partai Golkar yang selalu berada di pemerintahan. Dalam arti kata lain, Golkar kurang berminat untuk menjadi partai oposisi, selain memang tidak pernah ada sejarah Golkar untuk beroposisi.

"Kedua, Golkar tidak ingin kehilangan kesempatan untuk memperoleh kue kekuasaan. Oleh karena itu, pilihan yang strategis adalah mendukung pasangan Jokowi-JK," tuturnya.

Leo mengatakan, perpindahan dukungan Golkar tersebut akan menguntungkan koalisi partai pengusung Jokowi-JK, khususnya dalam konteks minority government yang kemungkinan terjadi apabila Golkar tidak bergabung. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI