Cerita Etnis Rohingya di Nepal Lebih Beruntung

Pebriansyah Ariefana

Selasa, 19 Mei 2015 | 14:31 WIB
Cerita Etnis Rohingya di Nepal Lebih Beruntung
Anak-anak etnis Rohingya di Kuala Langsa [suara.com/Alfiansyah Ocxie]

Suara.com - Perserikatan Bangsa-Bangsa pernah menyebut jika etnis Rohingya di Myanmar menjadi salah satu kelompok yang paling teraniaya di dunia. Sebab Rohingya terusir dari Bangladesh dan Myanmar. Namun mereka merasa damai di Nepal. Mengapa?

Salah satu muslim Rohingya di Nepal bernama Hassan. Dia tidak keberatan bercerita soal keadaannya di sana. Dia berjuang dari 2 kali gempa di sana bulan lalu. Sama seperti warga lainnya, Hassan berusaha berlindung dari gempa 7,9 SR dan 7,3 SR.

Dia tidur di jalan karena takut tempat tinggalnya di kawasan pinggiran Kathmandu roboh. Sebab dinding tempat tinggalnya sudah hancur.

Hassan adalah seorang pelarian di Nepal. Dia bersama 30-an etnis Rohingya lainnya kabur dari Myanmar ke Nepal untuk mencari kehidupan baru.

Saat ingin kabur, lelaki berusia 22 tahun itu sempat diberikan 2 pilihan. Kabur ke kawasan Indonesia dan Thailand atau ke negara lain. Namun Hasan lebih memilih ke Nepal dengan jalur khusus. Di ikut program perpindahan penduduk dengan sebuah LSM di Nepal.

Hassan mengatakan tidak ingin meregang nyawa kabur dengan kapal kayu reot. Belum lagi risiko bahaya perdagangan manusia di Thailand. Hassan lebih ingin berjuang di tengah gumpalan salju Himalaya.

"Saya beruntung, Jika saya pergi ke Thailand, mungkin aku sudah mati," kata Hassan dalam wawancara dengan majalah TIME.

Laporan badan PBB khusus pengungsian UNHCR mencatat ada 37.000 pengungsi dari berbagai negara di Nepal. Sebanyak 120 orang berasal dari Myanmar, dari itu 70 persennya adalah etnis Rohingya. Mereka mengungsi di Nepal, dan masih dianggap sebagai pengungsi ilegal.

Pengungsi Rohingya lainnya di Nepal, Mita Zhafir juga mengatakan Nepal lebih baik daripada Burma. "Untuk Rohingya, Nepal masih lebih baik dari Myanmar," kata Miya.

Di Nepal, etnis Rohingya tidak akan kentara. Sebab penduduknya tidak membedakan antara penganur Hindu dan Muslim.

"Di Nepal, mereka tidak melihat perbedaan antara Hindu atau Muslim," kata Miya.

"Di Myanmar, muslim hanya menjadi sasaran kejatan," Hassan menambahkan.

Lebih baik di Nepal daripada meregang nyawa di Myanmar

Namun itu jauh lebih baik. Sebab di Myanmar, Rohingya tidak diakui dan dirawat oleh pemerintah. Mereka kelaparan dan dianiaya oleh warga sekitar tempat mereka tinggal.

"Banyak dari mereka telah tewas. Mereka yang tetap, menderita kekurangan gizi dan kelaparan, terserang penyakit fisik dan mental yang berat. Belum lagi mereka diskriminasi dan penganiayaan," cerita Silvia, seorang peneliti HAM di Myanmar.

Mereka yang tidak kuat hidup di Myanmar inilah yang lari ke laut Indonesia dan Malaysia. Mereka berpotensi tewas di tengah laut. Dalam beberapa pekan terakhir, kuburan massal telah ditemukan di hutan lebat di Thailand dan Malaysia. kuburan itu milik Rohingya. (TIME)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Terombang Ambing di Laut, Mereka Saling Berebut Makanan

Terombang Ambing di Laut, Mereka Saling Berebut Makanan

News | Selasa, 19 Mei 2015 | 13:55 WIB

Cerita Nelayan Selamatkan Pengungsi Rohingya Nyaris Tenggelam

Cerita Nelayan Selamatkan Pengungsi Rohingya Nyaris Tenggelam

News | Selasa, 19 Mei 2015 | 13:22 WIB

JK Klaim Indonesia Sudah Bantu Pengungsi Rohingya

JK Klaim Indonesia Sudah Bantu Pengungsi Rohingya

News | Senin, 18 Mei 2015 | 16:31 WIB

Rohingya Mengungsi di Indonesia, Ini Kata Myanmar

Rohingya Mengungsi di Indonesia, Ini Kata Myanmar

News | Minggu, 17 Mei 2015 | 17:43 WIB

Kondisi Manusia Perahu yang Terdampar di Kuala Langsa

Kondisi Manusia Perahu yang Terdampar di Kuala Langsa

News | Minggu, 17 Mei 2015 | 16:23 WIB

Tiga Negara Akan Bertemu Pecahkan Masalah Pengungsi Rohingya

Tiga Negara Akan Bertemu Pecahkan Masalah Pengungsi Rohingya

News | Minggu, 17 Mei 2015 | 15:33 WIB

TNI Bantah Sengaja Halau Kapal Pengungsi Rohingya

TNI Bantah Sengaja Halau Kapal Pengungsi Rohingya

News | Jum'at, 15 Mei 2015 | 20:52 WIB

Jadi Tujuan Manusia Perahu, Malaysia Takkan Beri Izin Mendarat

Jadi Tujuan Manusia Perahu, Malaysia Takkan Beri Izin Mendarat

News | Rabu, 13 Mei 2015 | 01:19 WIB

Dibekali Makanan oleh TNI AL, 500 Pengungsi Rohingya ke Malaysia

Dibekali Makanan oleh TNI AL, 500 Pengungsi Rohingya ke Malaysia

News | Selasa, 12 Mei 2015 | 11:09 WIB

Sekitar 600 Pengungsi Rohingya Terdampar di Aceh Utara

Sekitar 600 Pengungsi Rohingya Terdampar di Aceh Utara

News | Senin, 11 Mei 2015 | 03:25 WIB

Terkini

Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja

Bukan Hanya Populer, Seskab Teddy Salip Sejumlah Menteri Senior dalam Urusan Kinerja

News | Minggu, 09 Agustus 2026 | 00:19 WIB

Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet

Jejak Sang Maestro di Piala Presiden, Ketika Pemimpin Meletakkan Tongkat Estafet

Bola | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 23:35 WIB

Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah

Lahir dari DNA Meradelima, Kembang Goeyang Hadirkan Konsep Tempo Dulu di Sarinah

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 23:10 WIB

Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik

Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 21:35 WIB

IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung

IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 21:27 WIB

5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau

5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:31 WIB

Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026

Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026

Otomotif | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:15 WIB

Kredit Macet Hantui Industri Pinjol

Kredit Macet Hantui Industri Pinjol

Bisnis | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:05 WIB

Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru

Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru

Jawa Tengah | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:00 WIB

Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung

Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung

Lampung | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 19:57 WIB

×