Suara.com - Eks Koordinator Pokja Tim Transisi, Arif Satria, mengakui bahwa kinerja para Menteri pada Kabinet Kerja memang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat Indonesia. Hal itu disebabkan para menteri tidam memiliki rumusan yang jelas atau target yang harus dicapai. Karena itu, dia menyarankan agar setiap menteri harus memiliki daskboard tempat dimana segala firmulasi atau target yang dicapai tersebut diletakan.
"Sama seperti mobil yang memiliki daskboard, sehingga kita tidak perlu membuka tangki untuk mengecek bensin, begitu juga dengan melihat spidometer. Kita cukup melihat di daskboard saja. Itu lebih efektif," kata Arif di Gado-Gado Boplo Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (9/8/2015).
Menurutnya, para menteri pada zaman orde baru dinilai sangat berhasil bila dibandingkan dengan Menteri saat ini. Namun, kata dia hal tersebut karena adanya perbedaan situasi saat itu dengan saat ini, dimana pada zaman Soeharto tersebut, persoalan politik tidak seperti saat ini yang begitu kacau. Karenanya para Menteri hanya konsen bekerja untuk memulihkan perekonomian bangsa. Lain halnya,disaat yang penuh dengan nilai demokratis saat ini. Karena itu, dia berharap agar Menteri yang bekerja pada kabinet Kerja tidak hanya memiliki kapasitas teknokratik tetapi juga kapasitas politik.
"Situasi sekarang ini sudah berubah, begitu demokratis, karena itu, tidak hanya bertumpu pada presiden, Para Menteri harus memounyai kemampuan politik dan teknokratik,"kata Pria yang juga sebagai Ketua Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia dari Universitas Pertanian Bogor, Jawa Barat tersebut.
Dia pun berharap, apabila perombakan dalam kabinet Kerja rerjadi, Presiden harus memperhatikan hal tersebut, agar kondisi bangsa kembali stabil.
"Memang dua kapsitas itu yang harus duperhatikan Presiden untuk memilih pembantunya, jika benar-benar terjadi reshuffle tersebut," tutupnya.