Mengungkap Sisi Lain Peristiwa 10 November 1945 (2)

Adhitya Himawan

Senin, 23 November 2015 | 07:11 WIB
Mengungkap Sisi Lain Peristiwa 10 November 1945 (2)
Diskusi Kupas Tuntas 10 November 1945 [Antara/Zabur Karuru]

Suara.com -  Akhirnya, provokasi "perobekan bendera merah-putih-biru" dan "Resolusi Jihad" itu menandai pertempuran di Surabaya Fase I pada 27-29 Oktober 1945.

Pertempuran Surabaya Fase I selama tiga hari itu tidak hanya terjadi pada satu titik, tapi sifatnya sporadis dan terjadi dimana-mana, di antaranya di Jembatan Merah, di rel kereta api Wonokromo, di Kedungdoro, di Penjara Kalisosok, dan di beberapa perkampungan.

"Pertempuran Surabaya Fase I itu berawal dari mana? Hasil wawancara Komunitas Roodebrug Soerabaia dengan sejumlah saksi mata menyebutkan dua versi, yakni bermula dari Kedungdoro dan bermula dari Jalan Raya Darmo," kata penulis buku "Benteng-Benteng Surabaya" Ady Setyawan.

Namun, kontak senjata dari Kedungdoro atau Jalan Raya Darmo itulah yang memicu perlawanan sporadis selama kurun 27-29 Oktober 1945, sehingga tentara Sekutu (Inggris) untuk pertama kalinya mengibarkan bendera putih (tanda menyerah).

Akhirnya, tentara Sekutu terpaksa menghadirkan Presiden Soekarno ke Surabaya untuk mendorong dialog, namun Brigjen Mallaby selaku pimpinan Sekutu berusaha menggertak dengan rentetan tembakan.

Gertakan itu membuat Arek-Arek Suroboyo tersinggung hingga akhirnya Brigadir Mallaby tewas pada 30 Oktober 1945 pukul 21.30 WIB. Tentu saja, tentara Sekutu pun mengamuk dan melontarkan ultimatum kepada Arek-arek Suroboyo untuk menyerahkan senjata paling lambat 10 November 1945.

Namun, ultimatum itu dijawab Bung Tomo dengan "pidato perlawanan" hingga tentara Inggris pun membombardir Kota Surabaya dari darat, laut, dan udara yang menyebabkan tewasnya 16.000-20.000 pejuang. Pertempuran Surabaya Fase II inilah yang dikenal dengan Hari Pahlawan.

Kendati tentara Inggris "mengamuk" seperti itu, namun mereka tidak dapat menaklukkan perlawanan di Surabaya dalam tiga minggu, karena ratusan kiai Jawa-Madura juga mengerahkan santri dan rakyat untuk melawan.

Perlawanan Arek-Arek Surabaya hingga Desember 1945 itu menginspirasi perlawanan rakyat di seluruh Indonesia hingga akhirnya terjadilah Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda pada tahun 1949 yang memutuskan Tentara Sekutu harus "angkat kaki" dari Bumi Indonesia.

Realitas sejarah yang menunjukkan proses "pengakuan" Proklamasi Kemerdekaan yang berliku-liku (1945-1949) itu dibenarkan sejarahwan dari UI Roesdhy Hoesein selaku narasumber diskusi dengan membandingkan cerita itu dengan fakta dalam film buatan Berita Film Indonesia (BFI).

"Visual 10 November 1945 itu sebenarnya banyak, tapi sejarah adalah diskusi yang selalu ada perkembangan baru, namun Peristiwa 10 November 1945 itu ada tiga fakta penting," ungkapnya.

Tiga fakta penting adalah: (1) Perobekan bendera (19 September 1945), (2) Peristiwa heroik 27-29 Oktober 1945 (semuanya dimenangkan Indonesia hingga Sekutu mengibarkan bendera putih) dan (3) Tewasnya Brigjen Mallaby (30 Oktober 1945).

"Palagan" Sebenarnya Ketiga fakta itulah yang menyulut "ultimatum" 10 November 1945. "Jadi, Pertempuran 28-30 Oktober 1945 merupakan 'palagan' (perang) yang sebenarnya, karena pasukan Indonesia memaksa Inggris mengibarkan bendera putih," kata Roesdhy Hoesein.

Menurut sejarahwan UI itu, tentara Inggris mendarat di Surabaya untuk menegakkan ketertiban dan keamanan, membebaskan semua tawanan perang Sekutu, mengevakuasi interniran, melucuti, dan memulangkan tentara Jepang.

"Pasukan yang dikirim ke Surabaya adalah Brigade ke-49, Divisi 23 India, di bawah komando Brigadir Mallaby. Kekuatannya 4.000 orang, terdiri dari batalyon Mahrattas dan Rajputana Rifles. Perwira-perwira komandannya campuran, Inggris dan India," katanya.

Pemerintah RI di Jakarta meminta pemerintah daerah, TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan para pejuang di Surabaya untuk menerima dengan baik dan membantu kelancaran misi Inggris itu.

"Goodwill ini merupakan bagian dari langkah RI untuk mendapatkan pengakuan dari Sekutu, pemenang Perang Dunia II. Akhirnya, pimpinan tentara Inggris bertemu dua kali dengan pimpinan pemerintahan dan tentara Indonesia di Surabaya yakni 25 dan 26 Oktober," katanya.

Pertemuan berlangsung dalam suasana bersahabat, namun pihak Indonesia memperingatkan tidak boleh ada satu pun pihak Belanda membonceng pasukan Sekutu ini. Inggris menjamin hal itu tidak akan terjadi.

Namun, kelonggaran yang diberikan itu dimanfaatkan Inggris untuk melebarkan dislokasi pasukannya sampai di luar kesepakatan bersama, antara lain memperkuat posisi di tempat-tempat strategis seperti lapangan terbang Tanjung Perak, perusahaan listrik ANIEM, stasiun kereta api, kantor pos besar, dan stasiun radio di Simpang.

Tidak hanya itu, satuan intel brigade melakukan "raid" ke penjara Kalisosok untuk membebaskan seorang kolonel angkatan laut Belanda (yang ditangkap pemuda saat menjalankan tugas untuk Sekutu) serta perwira-perwira dan staf RAPWI (Rehabilitation of Allied Prisoner of War and Internees) yang ditahan di situ.

"Selain itu, Inggris juga mengacau di Nyamplungan, menangkapi sejumlah pemuda dan Ketua BKR setempat, serta menyerobot kantor Polisi RI Bubutan dan penjara Bubutan," katanya mengutip buku "Menjadi TNI" (biografi Himawan Soetanto).

Tentu saja, semua kepercayaan terhadap Inggris akhirnya berbalik curiga, ketika pada 27 Oktober pagi, sebuah pesawat Inggris menyebarkan pamflet yang isinya menuntut rakyat menyerahkan kepada Inggris semua senjata dan peralatan militer. Yang tidak mematuhinya akan dihukum mati.

Seruan ini dikeluarkan oleh Panglima Divisi ke-23, Mayjen Hawthorn (bermarkas di Jakarta dan wewenangnya meliputi Jawa-Bali-Lombok), sehingga pihak Indonesia mencurigai keras Inggris sedang membuka pintu untuk Belanda kembali ke sini.

"Pemimpin-pemimpin RI di Surabaya memperingatkan Mallaby bahwa leaflet Hawthorn dan perbuatan yang dilakukan pasukannya mengingkari perjanjian yang telah disepakati. Mereka ingkar janji, sehingga terjadilah perlawanan rakyat," katanya. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Buku We Are the Keystones, Mengenal Pahlawan Tersembunyi Penjaga Alam

Buku We Are the Keystones, Mengenal Pahlawan Tersembunyi Penjaga Alam

Your Say | Jum'at, 16 Oktober 2026 | 12:00 WIB

Kenapa GJLS: Berapi-Api Terasa Begitu Personal Buat Generasi Burnout: Inilah Realitasnya

Kenapa GJLS: Berapi-Api Terasa Begitu Personal Buat Generasi Burnout: Inilah Realitasnya

Entertainment | Rabu, 14 Oktober 2026 | 16:57 WIB

Gelar Pahlawan Soeharto Digugat ke PTUN: Langgar TAP MPR dan Tak Punya Keteladanan!

Gelar Pahlawan Soeharto Digugat ke PTUN: Langgar TAP MPR dan Tak Punya Keteladanan!

News | Senin, 12 Oktober 2026 | 17:47 WIB

Gelar Pahlawan Soeharto Dinilai Jauh dari Partisipasi Publik, Akademisi Ungkap Dampaknya

Gelar Pahlawan Soeharto Dinilai Jauh dari Partisipasi Publik, Akademisi Ungkap Dampaknya

News | Senin, 12 Oktober 2026 | 17:07 WIB

Pakar Tegaskan Keppres Gelar Pahlawan Soeharto Cacat Hukum, Terganjal TAP MPR 11/1998

Pakar Tegaskan Keppres Gelar Pahlawan Soeharto Cacat Hukum, Terganjal TAP MPR 11/1998

News | Senin, 12 Oktober 2026 | 16:33 WIB

Pahlawan Nasional Indonesia Asal Papua Dihina Netizen Malaysia: Mirip Thanos

Pahlawan Nasional Indonesia Asal Papua Dihina Netizen Malaysia: Mirip Thanos

News | Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:40 WIB

Saat Kekuatan Super Bertemu dengan Masalah Finansial: Dilema Kocak Lee Jun-ho di Drama Cashero

Saat Kekuatan Super Bertemu dengan Masalah Finansial: Dilema Kocak Lee Jun-ho di Drama Cashero

Your Say | Sabtu, 03 Oktober 2026 | 08:10 WIB

Aktivis HAM Ungkap Ada Belasan Pelanggaran Kemananusiaan Saat Rezim Soeharto

Aktivis HAM Ungkap Ada Belasan Pelanggaran Kemananusiaan Saat Rezim Soeharto

News | Senin, 28 September 2026 | 21:17 WIB

Gugat Gelar Pahlawan Soeharto, GEMAS Hadirkan 2 Saksi Pendamping Korban Orba

Gugat Gelar Pahlawan Soeharto, GEMAS Hadirkan 2 Saksi Pendamping Korban Orba

News | Senin, 28 September 2026 | 20:32 WIB

Peneliti Ungkap Alur Komando Saat Pembantaian 65-66, Ada Peran Soeharto?

Peneliti Ungkap Alur Komando Saat Pembantaian 65-66, Ada Peran Soeharto?

News | Senin, 28 September 2026 | 17:24 WIB

Terkini

ICCN Sampaikan 10 Manifesto Suara Ekraf Indonesia Lewat Pertunjukan Teatrikal di WCCE 2026

ICCN Sampaikan 10 Manifesto Suara Ekraf Indonesia Lewat Pertunjukan Teatrikal di WCCE 2026

Lifestyle | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 08:30 WIB

Perhatikan Urutan Skincare, Ini 7 Cara Mencegah agar Sunscreen Tidak Pilling

Perhatikan Urutan Skincare, Ini 7 Cara Mencegah agar Sunscreen Tidak Pilling

Lifestyle | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 08:20 WIB

SGER Lunasi Obligasi Senilai Rp273,64 Miliar

SGER Lunasi Obligasi Senilai Rp273,64 Miliar

Bisnis | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 08:05 WIB

Belajar Atur Waktu Layar Anak Lewat Buku Cerita Gara-Gara Game Online

Belajar Atur Waktu Layar Anak Lewat Buku Cerita Gara-Gara Game Online

Your Say | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 08:04 WIB

Kali Bekasi Kembali Menghitam dan Berbusa

Kali Bekasi Kembali Menghitam dan Berbusa

Foto | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 08:00 WIB

Tak Sekadar Syarat Keberangkatan, Mengapa Pemeriksaan Kesehatan Calon Pekerja Migran Penting?

Tak Sekadar Syarat Keberangkatan, Mengapa Pemeriksaan Kesehatan Calon Pekerja Migran Penting?

Health | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 07:57 WIB

BMKG: Ada Potensi Hujan di Sumatra dan Kalimantan Hari Ini

BMKG: Ada Potensi Hujan di Sumatra dan Kalimantan Hari Ini

News | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 07:56 WIB

Riset: Adaptasi Hunian terhadap Panas Perkotaan Tentukan Masa Depan Kota di Asia Tenggara

Riset: Adaptasi Hunian terhadap Panas Perkotaan Tentukan Masa Depan Kota di Asia Tenggara

News | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 07:51 WIB

Bank Mandiri Sudah Salurkan Kredit Rp1,606 Triliun, Tumbuh 16 Persen

Bank Mandiri Sudah Salurkan Kredit Rp1,606 Triliun, Tumbuh 16 Persen

Bisnis | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 07:43 WIB

Bedak Mirabella Chic Two Way Cake Sudah BPOM atau Belum? Cek Fakta dan Nomor Registrasinya di Sini!

Bedak Mirabella Chic Two Way Cake Sudah BPOM atau Belum? Cek Fakta dan Nomor Registrasinya di Sini!

Lifestyle | Sabtu, 24 Oktober 2026 | 07:38 WIB

×