Pertemuan YPKP Dibubarkan, Negara Tak Serius Lindungi HAM

Suwarjono, Ummi Hadyah Saleh

Jum'at, 15 April 2016 | 21:03 WIB
Pertemuan YPKP Dibubarkan, Negara Tak Serius Lindungi HAM
Para anggota Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) 1965-1966. [Suara.com/UmmyHadyahSaleh]

Suara.com - Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) menilai negara tidak serius dalam melindungi hak asasi manusia. Hal ini menyusul pembubaran yang dilakukan oleh kelompok intoleran terhadap acara Pertemuan Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) 1965-1966 dari berbagai kota, Kamis (14/4/2016) di Kawasan Puncak, Jawa Barat. Pertemuan tersebut untuk menyatukan suara atau langkah agar tidak simpang siur menjelang Simposium Nasional yang akan diselenggarakan pada tanggal 18-19 April 2016 di Hotel Aryaduta.

"Itu menunjukkan negara tidak pernah benar serius melindungi hak asasi manusia. Pertemuan korban kemarin kan menyusun sikap mereka, yang akan  dibawa ke Simposium Nasional," ujar Kepala Divisi Pemantauan Impunitas Kontras Feri kusuma kepada Suara.com, di Kantor Kontras, Kwitang, Jakarta, Jumat (15/4/2016).

Terkait pembubaran tersebut, dirinya meminta pelaku yakni kelompok itu intoleran harus ditindaktegas. "Kenapa kemudian dibubarkan? Polisi masih  permisif  kepada kelompok intoleran. Saya bilang ini kelompok pelanggar hukum seharusnya di proses hukum, " kata Feri.

Selain itu, menurut Feri, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan dianggap bertanggung jawab atas pembubaran yang dilakukan Kelompok intoleran. Sangat tidak berguna, jika Simposium Nasional dilakukan tapi korban pelanggaran HAM berat, tidak diberikan jaminan keamanan dan kebebasan mengeluarkan aspirasi. 

"Kalau Menkopolhukam enggak mau menindak pelaku pembubaran kemarin, lebih baik Simposium Nasional  nggak usah dibuat. Nggak ada gunanya simposium itu, kalau Simposium membahas persoalan korban, tapi ketika ada korban bikin pertemuan lalu  di bubarkan,"Imbuhnya

Namun kata Feri, jika tidak ada penegakkan hukum kepada mereka yang melakukan aksi pembubaran, menunjukkan satu bukti, negara tidak memberikan perlindungan kepada warga negara.

"Kalau nggak ditindak ini (kelompok  intoleran) tandanya enggak ada garansi dari sebuah negara, untuk memberikan  perlindungan terhadap warga negara yang menjadi korban peristiwa 1965,"jelas Feri.

Dirinya berharap tidak ada lagi pembubaran yang dilakukan kelompok manapun. "Kita berharap jangan sampai terjadi lagi, semoga ini terakhir kalinya. Kalau ada lagi (pembubaran) berarti negara nggak punya itikad baik," ungkapnya.

Untuk diketahui, acara pertemuan YPKP dibubarkan ke‎lompok intoleran, kemarin. Pertemuan itu sediannya membahas persiapan Simposium 65 yang digelar pemerintah di Hotel Aryaduta, 18-19 April 2016.

Kelompok intoleran yang membubarkan pertemuan tersebut beralasan, pertemuan tersebut dituding merencanakan pendirian Partai Komunis Indonesia (PKI).

"Kami dibilang mau mendirikan PKI. Padahal pertemuan ini memberikan laporan antar daerah terkait korban 1965," kata saksi mata pembubaran acara tersebut, Nadiani S.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Korban Tragedi 65: Sangat-Sangat Tidak Layak

Soeharto Jadi Pahlawan Nasional, Korban Tragedi 65: Sangat-Sangat Tidak Layak

News | Senin, 21 September 2026 | 22:42 WIB

Terkini

Polda Jatim Tahan Tersangka Arisan MeAow, 6 Korban Rugi Rp 4,07 Miliar

Polda Jatim Tahan Tersangka Arisan MeAow, 6 Korban Rugi Rp 4,07 Miliar

News | Kamis, 05 November 2026 | 23:14 WIB

Cristiano Ronaldo Pensiun dengan Harta Rp22 Triliun, Tiap Tahun Kantongi Rp1 T

Cristiano Ronaldo Pensiun dengan Harta Rp22 Triliun, Tiap Tahun Kantongi Rp1 T

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 22:44 WIB

Dokumen Kependudukan Warga Tangerang Jadi Bungkus Gorengan

Dokumen Kependudukan Warga Tangerang Jadi Bungkus Gorengan

Banten | Kamis, 05 November 2026 | 22:38 WIB

Pengangguran di Jabar Turun Jadi 6,67 Persen, Kabupaten Bekasi Tertinggi

Pengangguran di Jabar Turun Jadi 6,67 Persen, Kabupaten Bekasi Tertinggi

Jabar | Kamis, 05 November 2026 | 22:34 WIB

Piala Asia 2027 Diundur, Erick Thohir Sebut Timnas Indonesia Justru Diuntungkan

Piala Asia 2027 Diundur, Erick Thohir Sebut Timnas Indonesia Justru Diuntungkan

Bola | Kamis, 05 November 2026 | 22:25 WIB

Solusi Pakan Sapi di Papua Barat, Pelepah Sawit Diolah Jadi Silase Tahan Lama

Solusi Pakan Sapi di Papua Barat, Pelepah Sawit Diolah Jadi Silase Tahan Lama

News | Kamis, 05 November 2026 | 22:20 WIB

Membaca Peluang AHY Gantikan Gibran Jadi Wapres, Seberapa Terbuka Jalannya?

Membaca Peluang AHY Gantikan Gibran Jadi Wapres, Seberapa Terbuka Jalannya?

News | Kamis, 05 November 2026 | 22:10 WIB

Belajar tetapi Dianggap Putus Sekolah, KPAI Soroti Nasib Anak Disabilitas di LKSA

Belajar tetapi Dianggap Putus Sekolah, KPAI Soroti Nasib Anak Disabilitas di LKSA

News | Kamis, 05 November 2026 | 22:02 WIB

Masuk Ancol Gratis Sampai 12 November, Simak Ketentuannya

Masuk Ancol Gratis Sampai 12 November, Simak Ketentuannya

News | Kamis, 05 November 2026 | 21:55 WIB

Soal Pajak, Hashim Pernah Bersengketa dengan Otoritas Jenewa

Soal Pajak, Hashim Pernah Bersengketa dengan Otoritas Jenewa

Bisnis | Kamis, 05 November 2026 | 21:52 WIB

×