Pendatang Anak-anak di Eropa Dipaksa Jadi Penjahat, Pelacur

Tomi Tresnady | Suara.com

Kamis, 16 Juni 2016 | 14:13 WIB
Pendatang Anak-anak di Eropa Dipaksa Jadi Penjahat, Pelacur
Antrean imigran dari Denmark yang baru tiba di Swedia. (Reuters)

Suara.com - Pendatang anak-anak di Prancis utara dipaksa melakukan kejahatan dan pelacuran setiap hari untuk mendapatkan tempat tinggal di kampung pendatang atau dijanjikan pindah ke Inggris, kata lembaga anak-anak PBB UNICEF pada Kamis.

UNICEF mengatakan bahwa eksploitasi seksual, kekerasan dan kerja paksa menjadi ancaman, sering ditujukan kepada anak-anak yang bepergian sendiri, dan mendesak pihak berwenang melakukan hal lebih demi melindungi mereka.

"Kami mengerti bahwa itu permasalahan lebih dari satu dasawarsa namun itu menjadi lebih besar dan parah pada tahun lalu dengan peningkatan krisis pengungsi global," kata Melanie Teff, pengacara penting kemanusiaan dan penasihat kebijakan UNICEF Inggris.

"Kami mendengar sejumlah kisah menyedihkan tentang beberapa perempuan anak-anak yang dibayar 5,6 dolar Amerika Serikat untuk melakukan tindakan seksual demi masuk ke dalam kampung itu atau untuk mulai membiayai perjalanannya menuju Inggris," kata dia kepada Thomson Reuters Foundation.

Dari sekitar 206.200 orang yang tiba di Eropa lewat jalur laut pada tahun ini pada 4 Juni, satu dari tiga orang merupakan anak-anak. UNICEF mengatakan pada Selasa, mengutip data dari lembaga pengungsi PBB.

Banyak yang berakhir di sejumlah kamp seperti di sebuah kota yang disebut dengan "Hutan" yang terletak di luar pelabuhan utara Prancis, Calais.

UNICEF mengatakan, bahwa terdapat sekitar 500 orang anak-anak tanpa pengawasan yang tinggal di tujuh kamp di pantai utara Perancis, termasuk di Calais dan Dunkirk. Sekitar 2.000 orang anak-anak telah melewati kamp itu sejak Juni 2015 lalu, kata mereka.

Beberapa anak-anak mengatakan kepada lembaga bantuan bahwa mereka ditahan oleh sejumlah kelompok kriminal yang meminta tebusan dari keluarga mereka, sementara lainnya dipaksa untuk melakukan kerja seperti layaknya budak untuk membayar perjalanan mereka.

Anak-anak dari Afghanistan mengatakan kepada UNICEF bahwa ketakutan terbesar mereka adalah pemerkosaan.

Dalam menghadapi tuntutan dari pedagang manusia untuk membayar antara 4.000 - 5.500 poundsterling masing-masing untuk pergi ke Inggris, mereka mencari jalan lain untuk melakukan perjalanan, seperti beberapa anak bersembunyi dalam truk peti kemas, kata UNICEF.

"Tidak ada pemberian pendidikan, dan anak-anak hampir tiap malam berjalan selama berjam-jam dan mencoba untuk memasuki kontainer," kata Teff.

"Mereka tinggal dalam keadaan yang sangat, sangat genting dan banyak dari mereka yang berbicara betapa mereka menjadi gila karena keadaannya," katanya.

Teff mengatakan bahwa anak-anak yang tinggal di sejumlah kamp migran seringkali harus membayar untuk mandi atau dipaksa untuk membuka kontainer agar mereka dapat masuk.

Rata-rata, anak-anak tinggal di kampung itu lima bulan sebelum pindah, meskipun beberapa di antaranya tetap berada di tempat itu selama sembilan bulan dan satu anak-anak terjebak di tempat itu lebih dari satu tahun, kata UNICEF.

Lembaga itu mewawancarai 60 orang anak dengan usia 11 hingga 17 tahun dari Afghanistan, Mesir, Eritrea, Ethiopia, Iran, Irak, Kuwait, Suriah dan Vietnam yang tinggal di sejumlah kamp sepanjang Selat Inggris, antara Januari - April 2016. (Antara)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Foto Bayi Imigran yang Tenggelam di Mediterania Curi Perhatian

Foto Bayi Imigran yang Tenggelam di Mediterania Curi Perhatian

News | Senin, 30 Mei 2016 | 21:20 WIB

Dramatis! Detik-detik Terbaliknya Kapal Imigran Tertangkap Kamera

Dramatis! Detik-detik Terbaliknya Kapal Imigran Tertangkap Kamera

News | Kamis, 26 Mei 2016 | 13:55 WIB

UNHCR Selidiki Kebenaran Informasi Tragedi Tewasnya 500 Pengungsi

UNHCR Selidiki Kebenaran Informasi Tragedi Tewasnya 500 Pengungsi

News | Kamis, 21 April 2016 | 07:18 WIB

Video Amatir Ungkap Kekejaman yang Dialami 3 Imigran di Bulgaria

Video Amatir Ungkap Kekejaman yang Dialami 3 Imigran di Bulgaria

News | Selasa, 12 April 2016 | 13:33 WIB

Kelompok Anti-Islam Demo Tolak Pengungsi Timteng ke Jerman

Kelompok Anti-Islam Demo Tolak Pengungsi Timteng ke Jerman

News | Minggu, 07 Februari 2016 | 05:12 WIB

Darurat Seksual, Imigran Irak Tega Perkosa Bocah 10 Tahun

Darurat Seksual, Imigran Irak Tega Perkosa Bocah 10 Tahun

News | Sabtu, 06 Februari 2016 | 20:26 WIB

Sepuluh Ribu Lebih Anak Imigran Timur Tengah Hilang di Eropa

Sepuluh Ribu Lebih Anak Imigran Timur Tengah Hilang di Eropa

News | Minggu, 31 Januari 2016 | 13:40 WIB

Swedia Berencana Usir 80 Ribu Imigran Asal Timur Tengah

Swedia Berencana Usir 80 Ribu Imigran Asal Timur Tengah

News | Kamis, 28 Januari 2016 | 14:18 WIB

Terkini

Dasco Pastikan Korban Argo Bromo Vs KRL Dirawat Maksimal, Ini Daftar Nama yang Meninggal dan Luka

Dasco Pastikan Korban Argo Bromo Vs KRL Dirawat Maksimal, Ini Daftar Nama yang Meninggal dan Luka

News | Selasa, 28 April 2026 | 10:50 WIB

MTI Desak Reformasi Total Keselamatan Kereta Usai Tragedi Bekasi Timur

MTI Desak Reformasi Total Keselamatan Kereta Usai Tragedi Bekasi Timur

News | Selasa, 28 April 2026 | 10:45 WIB

Singapura soal Selat Hormuz: Melintas Itu Hak, Bukan Hak Istimewa karena Membayar!

Singapura soal Selat Hormuz: Melintas Itu Hak, Bukan Hak Istimewa karena Membayar!

News | Selasa, 28 April 2026 | 10:43 WIB

Teror Bom Tewaskan 20 Orang, Kolombia Buka Sayembara Rp23 Miliar untuk Cari Sosok Ini

Teror Bom Tewaskan 20 Orang, Kolombia Buka Sayembara Rp23 Miliar untuk Cari Sosok Ini

News | Selasa, 28 April 2026 | 10:33 WIB

Gibran Tekankan Keamanan Pangan MBG: Sisa Makanan Dilarang Masuk Dapur

Gibran Tekankan Keamanan Pangan MBG: Sisa Makanan Dilarang Masuk Dapur

News | Selasa, 28 April 2026 | 10:31 WIB

Turis Jerman Tewas Dipatok Ular Kobra saat Pertunjukan Satwa Liar di Hotel Mewah Mesir

Turis Jerman Tewas Dipatok Ular Kobra saat Pertunjukan Satwa Liar di Hotel Mewah Mesir

News | Selasa, 28 April 2026 | 10:22 WIB

10 Kecelakaan Kereta Api Paling Mematikan di Dunia, Terbaru Tabrakan KA vs KRL di Bekasi Timur

10 Kecelakaan Kereta Api Paling Mematikan di Dunia, Terbaru Tabrakan KA vs KRL di Bekasi Timur

News | Selasa, 28 April 2026 | 10:10 WIB

Real Madrid Kehilangan Kylian Mbappe Jelang El Clasico

Real Madrid Kehilangan Kylian Mbappe Jelang El Clasico

News | Selasa, 28 April 2026 | 10:10 WIB

Abbas Araghchi Jumpa Putin, Rusia Buka Peluang Jadi Mediator Iran-AS

Abbas Araghchi Jumpa Putin, Rusia Buka Peluang Jadi Mediator Iran-AS

News | Selasa, 28 April 2026 | 09:46 WIB

Bahrain Cabut Kewarganegaraan 69 Orang karena Dukung Iran

Bahrain Cabut Kewarganegaraan 69 Orang karena Dukung Iran

News | Selasa, 28 April 2026 | 09:31 WIB