Isu SARA Dipakai Buat Kampanye, Apa Kata Tokoh Lintas Agama?

Senin, 17 Oktober 2016 | 15:58 WIB
Isu SARA Dipakai Buat Kampanye, Apa Kata Tokoh Lintas Agama?
Ketua Umum Center for Dialogue and Cooperation among Civilisations Din Syamsuddin (tengah) memimpin sejumlah tokoh lintas agama memberi keterangan pers terkait Pilkada DKI Jakarta, Senin (17/10/2016). [Suara.com/Oke Atmaja]

Suara.com - Menjelang pilkada Jakarta, berbagai cara dilakukan kelompok berkepentingan untuk membuat kegaduhan, di antaranya memakai isu agama dan etnis. Apa pendapat tokoh agama jika isu tersebut digunakan sebagai alat kampanye?

"Saya rasa, sebenarnya kalau agama digunakan dalam arti positif tidak jadi masalah," kata Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia Uung Sendana di kantor The Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations, Jalan Kemiri 24, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (17/10/2016).

Uung mengatakan agama merupakan bagian dari kehidupan manusia sehingga sangat baik pesan-pesannya disampaikan kepada masyarakat. Asalkan jangan dipakai untuk merendahkan atau menjelekkan orang lain.

"Karena agama tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita. Apalagi sebagai bangsa Indonesia yang religius, itu memang isu-isu agama itu digunakan sebagai sesuatu yang wajar, bahkan dalam kehidupan sehari-hari nilai-nilai agama itu sebagai dasar," ujar Uung.

"Kalau ada penggunaan agama dalam arti yang positif, menurut saya tidak jadi masalah. Memprovokasi itu yang menjadi masalah, apalagi sampai membangkitkan kekerasan," Uung menambahkan.

Menurut Ketua Majelis Ulama Indonesia Yusnar Yusuf semua pesan agama adalah kebaikan.

"Walaupun nanti dalam kampanye itu ada penggunaan ayat. Semua ayat dalam Al Quran ataupun hadist Nabi itu tidak pernah, katakanlah menjelekkan orang lain. Pesan ayat dan hadis rasul itu tetap pesan baik," kata Yusnar.

Tetapi kemudian tergantung pada bagaimana orang menginterpretasikan pesan tersebut.

"Ketika dia diinterpretasi, di situ dia akan benar dan salah. Namanya juga interpretasi. Jadi persatuan pemikiran yang melakukan interpretasi," kata Yusnar.

Ketua Inter Religion Council Indonesia Din Syamsudin berpendapat sama. Isu agama, katanya, bukan untuk dipisahkan dari kehidupan manusia, melainkan dijadikan sebagai pengikat persatuan bangsa yang majemuk, seperti Indonesia.

"SARA adalah hal yang melekat dalam kehidupan bermasyarakat. Tidak harus di hindari. Tapi yang tidak boleh adalah eksploitasi," ujar Din.

Mantan Ketua PP Muhammadiyah menambahkan agama dan politik bukan untuk dipisahkan. Yang tidak dibolehkan, kata dia, memanipulasi pesan-pesan agama demi kepentingan politik.

"Begitu pula kaitan agama dengan kehidupan, termasuk politik, baik adanya. Tapi jangan ada manipulasi. Agama untuk kepentingan politik," kata Din.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI