Fahri lantas meladeni seorang warganet bernama Muhammad Guntur Romli, yang mengatakan tengah menyimak Tsmara memberikan pelajaran politik dan anti-korupsi untuk dirinya.
“Maklum partai baru. Kita didik saja. Tapi semua ini pendukung agar korupsi di DKI ditutup KPK,” tulis Fahri menjawab Guntur sembari menyindir partai Tsamara yang terbilang baru didirikan.
Disindir seperti itu, Tsamara lantas menjawab: ”Iya Pak. Memang partai baru, saya juga anak baru. Tidak apa-apa, yang penting perjuangan kami untuk memberantas korupsi tak setengah-setengah.”
Tak mau kalah, Fahri lalu mengatakan masyarakat kekinian memunyai persepsi berbeda-beda mengenai KPK, ada yang mendukung dan tidak.
”Rakyat tak seragam mbak. Ada lebih banyak yang cerdas.”
Tsamara tampaknya tak menyukai pernyataan Fahri tersebut. ”Rakyat yang cerdas dan tak cerdas itu apa sih? Kalau tak dukung KPK baru bisa dikategorikan cerdas begitu?”
Ia lalu menuliskan kekecewaannya sebagai rakyat yang merasa tak diwakili oleh Fahri di parlemen. ”Pak @Fahrihamzah, bapak itu wakil rakyat kami. Kenapa Bapak bersikap seolah tak mewakili kami?”
”Cuitan” kekecewaan Tsamara itu ternyata turut ditanggapi oleh akun milik Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, Mustofa B Nahrawardaya. ”Beda dapil (daerah pemilihan) mbak,” tukasnya.
Fahri lantas menjawab pernyataan akun Mustofa untuk kembali menyindir Tsamara dan PSI.
”Ini partai baru, belum tahu dapil. Jangan pilih, dari awal sudah pencitraan saja kerjaannya,” tutur Fahri sembari memberikan gambar senyum.
Namun, Tsamara memunyai jawaban pamungkas untuk sindiran Fahri tersebut.
”Kalau beda dapil kenapa Pak? Tak boleh mengkritik/kasih saran? Wah kok pimpinan DPR kayak begini. Tak mau berdialog, asal bilang jangan pilih saja,” sembari membubuhi gambar tertawa.